Kamis , 21 November 2019
Home / Hukum / Pagar, Kaca Gedung Rusak, Satu Jurnalis Jadi Korban
Demo mahasiswa dan dosen di depan Gedung DPRD NTB

Pagar, Kaca Gedung Rusak, Satu Jurnalis Jadi Korban

MATARAM, DS – Ribuan demonstran yang terdiri dari mahasiswa dan massa merusak pagar gedung DPRD Provinsi NTB yang terletak di Jalan Udayana, Kota Mataram, Kamis (26/9). Massa yang menuntut pembatalan semua produk hukum yang akan disahkan DPR RI itu merusak gedung karena tidak diperbolehkan memasuki gedung legislatif tersebut.

Tuntutan mahasiswa itu menolak RKUHP, revisi UU KPK yang telah disahkan DPR, dan sejumlah rancangan undang-undang lainnya yang dianggap tidak berpihak pada masyarakat.

Demonstran yang beraksi sejak pukul 09.00 WITA itu ingin menyampaikan aspirasinya kepada anggota dan Ketua DPRD NTB. Hanya saja saat Ketua DPRD beserta pimpinan DPRD dan fraksi memiliki itikad baik hendak menemui demonstran, tiba-tiba lemparan batu, botol air mineral menerpa pimpinan DPRD. Akibatnya, pimpinan DPRD yang sudah berada di halaman kantor DPRD setempat terpaksa balik ke dalam gedung DPRD setempat.

Selanjutnya, orasi terus dilakukan secara bergantian oleh perwakilan para mahasiswa di depan pagar DPRD NTB hingga pukul 11.00 Wita. Sementara itu, belasan perwakilan demonstran diperkenankan masuk ke Kantor DPRD guna melakukan pertemuan dengan pimpinan DPRD dan Kapolda NTB.

Setelah berdialog hingga 10 menit lamanya, pertemuan yang difasilitasi Kapolda NTB Irjen Pol Nana Sudjana di ruang badan anggaran (Banggar) di lantai satu itu tidak menemui titik temu. Sebab, kendati perwakilan mahasiswa menjamin keamanan pimpinan DPRD menemui para pengunjuk rasa, Kapolda justru tidak memberikan izin.

“Kami tidak ingin peristiwa perusakan Kantor DPRD NTB, seperti di Provinsi Sumbar dan Sumut terjadi di NTB. Sebaiknya, apa yang menjadi aspirasinya itu disampaikan saja melalui perwakilan, karena kita ini di NTB dan bukan di Jakarta,” tegas Kapolda dengan nada tinggi menjawab pertanyaan perwakilan mahasiswa.

“Saya akan jamin situasi keamanan manakala aspirasi itu disampaikan oleh perwakilan mahasiswa. Marilah kita pakai kepala dingin jangan pakai tensi tinggi,” sambung Nana Sudjana.

Mendenger jawaban Kapolda NTB itu, Ketua DPRD NTB Hj. Baiq Isvie Rupaedah mengaku sudah siap menemui mahasiswa. Namun, lantaran adanya insiden pelemparan sebelumnya maka keamanan menjadi wewenang Kapolda NTB.

“Saya juga dulu sama kayak anda semuanya. Malah saya lebih garang saat menjadi aktifis sewaktu mahasiswa. Tapi tolong hargai itikad baik kami mau menemui anda tadi. Kok kita datang baik-baik malah kami di lempar kayak gitu. Pokoknya, sekarang tergantung pak Kapolda jaminananya, kalau beliau bilang oke. Maka saya dan wakil ketua DPRD dan pimpinan fraksi akan keluar menemui demontran dan bukan perwakilan mahasiswa yang menggarangsi kami,” tegas Isvie menjelaskan.

Akhirnya, lantaran tidak ada titik temu, pertemuan konsultasi batal dengan keputusan apapun. Sehingga, kerusuhan pun terjadi pada sekitar pukul 12.00 WITA saat ribuan demonstran merusak pagar Gedung DPRD NTB.

Mereka mengoyak-ngoyak dua baris pagar besi hingga tercopot dari beton penyangganya. Kejadian yang berlangsung sekitar tiga menit itu berhasil menjebol pagar meski para demonstran tidak bisa memasuki gedung wakil rakyat itu. Aparat gabungan dari Polisi dan TNI dengan sigap menghalau massa dengan menggunakan mobil water cannon.

Selain itu, tembakan gas air mata serta peluru karet pun terpaksa ditembakkan aparat kepolisian, lantaran pengunjuk rasa melakukan pelemparan batu pada aparat kepolisian.

Terpantau sejumlah kaca-kaca di Gedung DPRD NTB pecah. Bahkan, salah satu jurnalis yang tengah meliput aksi demonstrasi itu, yakni Maesarah dari Lombok TV terkena lemparan batu di bagian pelipis kirinya.

“Belum ada yang diamankan,” kata Kapolda singkat.

Hingga pukul 15.00 Wita, aksi anarkis kembali. Beruntung, aksi sekitar lima menit itu bisa dikendalikan. RUL

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Polda Seriusi Dana Hibah KONI, Delapan Kabupaten/Kota Jadi Prioritas

MATARAM, DS – Aparat Polda NTB sepertinya tidak main-main untuk menindaklanjuti dugaan penyalahgunaan dana hibah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: