Rabu , 13 November 2019
Home / Hukum / KNKT : Tangki Helikopter Bahan Bakar Kosong, Investigasi Penyebab Jatuhnya di Persawahan Pujut Masih Berlanjut
Begini penampakan helikopter yang jatuh

KNKT : Tangki Helikopter Bahan Bakar Kosong, Investigasi Penyebab Jatuhnya di Persawahan Pujut Masih Berlanjut

LOTENG, DS – Sebanyak dua orang petugas dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah sampai di lokasi kecelakaaan helikopter terjatuh di persawahan desa Kawo, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Senin (15/7).

Mereka langsung melihat bangkai helikopter di lokasi kejadian ditemani petugas Direktorat Perhubungan Udara Kementrian Perhubungan (Kemenhub) RI, PT. Angkasa Pura (AP) I Bandara Internasional Lombok (BIL) dan ATC Airnav Indonesia sekitar pukul 11.38 Wita.

Tenaga Ahli KNKT, Masruri, mengatakan proses investigasi yang dilakukan pihaknya menyasar pada pengumpulan data dan informasi terkait penyebab jatuhnya helikopter B206L4 milik PT Carpediem Air di areal persawahan milik warga di desa Kawo, Kecamatan Pujut tersebut.

“Dari penelusuran pada seluruh bangkai helikopter itu, sejauh ini belum ada hal-hal signifikan untuk kajian dan bahan analisa kami,” ujar Masruri menjawab wartawan di sela-sela investigasi itu, Senin (15/7).

Menurut dia, fokus investigasi kali ini diarahkan pada pengumpulan kenapa helikopter tersebut jatuh di areal persawahan. Meski demikian, dari data-data awal terlihat jika posisi tangki bahan bakarnya dalam posisi kosong.

“Tapi kita belum pada taraf kesimpulan, karena kita akan teliti lebih lanjut apakah tangki itu kosong saat di udara atau kosong disini. Yakni, saat jatuh di areal persawahan,” kata Masruri.

Ia menyatakan, proses investigasi juga akan memokuskan pada penggalian informasi pada pilot helikopter yang terjatuh. Namun lantaran, kondisi pilot naas Kustiyadi yang belum memungkinkan, maka penggalian informasi tersebut menunggu stabilnya kondisi kesehatan pilot yang dimaksud.

“Kami bekerja bukan mencari kesalahan pilot. Sekali lagi, penggalian informasi ke pilot kita pikir butuh waktu menunggu recovery pilot dari ketraumaannya,” jelas Masruri.

Terkait penemuan alat perekam dalam penerbangan berupa Flight Data Recorder (FDR) atau Cockpit Voice Recorder (CVR) pada helikopter tersebut. Ia menjelaskan, sejauh ini penggunaan keduanya pada helikopter yang dikomersilkan belum diwajibkan.

Oleh karena itu, proses investigasinya membutuhkan waktu lama. “Kami punya waktu kerja sesuai UU penerbangan adalah 12 bulan. Khusus helikopter jatuh di persawahan Pujut ini, penggalian data dan informasi tanpa ada FDR dan CVR. Makanya, lebih sulit dan butuh waktu,” tandas Masruri. RUL.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Polda Seriusi Dana Hibah KONI, Delapan Kabupaten/Kota Jadi Prioritas

MATARAM, DS – Aparat Polda NTB sepertinya tidak main-main untuk menindaklanjuti dugaan penyalahgunaan dana hibah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: