Berbagi Berita Merangkai Cerita

HBK Dorong Pemerintah Perbanyak Buat Sekolah Tani

0 16

MATARAM, DS – Persoalan pertanian di Indonesia terus mengalami tantangan. Sebab, selain masalah konversi lahan pertanian yang semakin menyempitkan lahan produks pertanian. Hal lainnya terletak pada menurunnya animo partisipasi generasi muda di sektor pertanian.

Padahal, semakin berkurangnya angkatan kerja di sektor pertanian, akan berbuntut kepada krisis petani yang dalam kurun waktu beberapa dekade ke depan bisa mengancam kedaulatan pangan di Indonesia.

Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra, H Bambang Kristiono (HBK) angkat bicara terkait persoalan itu. Menurutnya, untuk menghadapi masalah di sektor pertanian itu, diperlukan sebuah upaya strategis. Salah satunya, melalui pendirian sekolah Tani yang dilakukan secara tersistematis dan terpola untuk regenerasi petani.

“Saya pikir harus ada upaya konkrit menjawab masalah krisis petani ini. Salah satunya dengan membentuk Sekolah Tani,” ujar HBK menjawab wartawan, Minggu (20/1).

Menurut dia, khusus di Partai Gerindra, sejauh ini, kaum muda yang tergabung dalam Gerindra Masa Depan (GMD), akan didorong untuk menjadi inisiator-inisiator Sekolah Tani di sejumlah daerah termasuk di wilayah NTB ini.

GMD merupakan para kader muda Partai Gerindra yang telah melalui pendidikan ideologi Partai yang diproyeksikan sebagai pemegang tongkat kepemimpinan atau regenerasi Partai Gerindra.

Apalagi, fakta adanya ancaman krisis petani terlihat dari data survei BPS tahun 2013 lalu yang menyebutkan jika dalam kurun waktu 10 tahun, yaitu antara 2003-2013, jumlah rumah tangga tani berkurang sebanyak lima juta.

Angka ini berimplikasi pada keberlanjutan usaha sektor pertanian di Indonesia, dimana ketersediaan produk pangan dalam negeri semakin menurun. Selain jumlah petani yang kian menurun, masalah lain yang saat ini dihadapi petani adalah usia dan produktivitas petani.

Dalam sensus pertanian 2013, struktur usia petani didominasi oleh petani tua dengan tingkat pendidikan rendah. Data tersebut menyebutkan, sebanyak 60,8% usia petani di atas 45 tahun dengan 73,97% berpendidikan setingkat SD, yang akses terhadap teknologinya sangat rendah.

Data itu sejalan dengan hasil survei Struktur Ongkos Usaha Tani (SOUT) tanaman pangan pada 2011. Survei itu menyebut, bahwa sebagian besar petani tanaman pangan (96,45%), berusia 30 tahun ke atas. Hanya sekitar 3,35% saja yang berusia di bawah 30 tahun.

HBK menjelaskan, kondisi ini bisa terus semakin parah jika tanpa ada pihak yang mau peduli mencarikan solusi. “Kalau petani kita saat ini berusia diatas 40 tahun dan tidak ada regenerasi, maka bisa dipastikan dua dekade lagi, sektor pertanian kita akan mengalami kepunahan. Lahan yang subur dan menjanjikan, tidak ada yang menggarap,” jelasnya.

HBK mengakui, kecenderungan saat ini, profesi petani masih dianggap sebagai profesi strata terendah di negeri ini. Hal ini terjadi lantaran perhatian dan pembinaan masyarakat terutama bagi para petani muda belum maksimal, keberpihakan dan pembelaan Pemerintah terhadap para generasi muda petani masih sangat memprihatinkan.

“Ironisnya, banyak petani Indonesia sendiri yang tak ingin petani menjadi profesi turun temurun. Sehingga, kondisi yang membuat anak muda kita kerap menganggap bahwa menjadi petani bukanlah profesi yang menguntungkan. Padahal, faktanya banyak anak muda sekarang yang sukses berkiprah di pertanian,” kata HBK.

Oleh karena itu, ia mengajak generasi muda millenial saat ini untuk mulai melihat sektor pertanian ini sebagai sektor yang menjanjikan. “Jadi, Sekolah Tani ini solusinya. Nantinya yang akan mencetak generasi muda tani untuk menjawab persoalan bangsa saat ini yang sedang mengalami krisis sumber daya manusia di bidang pertanian,” tandas Caleg DPR RI Partai Gerindra dengan Nomor Urut-1 dari Dapil NTB-2 (Pulau Lombok). RUL.

Leave A Reply