Berbagi Berita Merangkai Cerita

Harga Gabah Anjlok, Johan Desak Pemerintah Intervensi

58

FOTO. Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan saat meninjau sentra pergudangan beras milik salah satu petani Sumbawa. rul

MATARAM, DS – Harga gabah petani yang kini anjlok saat musim panen di wilayah NTB, menuai atensi anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan.

Sebab, anjloknya harga gabah mulai dari tingkat petani sampai penggilingan mencapai titik terendah pada April 2021 dalam lima tahun terakhir.

“Atas situasi ini, diperlukan intervensi kebijakan pemerintah saat pandemi untuk membangun rakyat, terutama petani agar pasokan melimpah di tengah panen raya,” ujar Johan pada wartawan, Rabu (14/7).

Politisi PKS asal Sumbawa itu, mendaku, saat ini, justru terjadi surplus yang besar karena sejumlah sentra produksi telah memasuki masa panen.

“Tapi, kenyataannya harga gabah kering panen (GKP) masih tertahan di bawah harga pembelian pemerintah,” ucap Johan.

Menurut dia, perbandingan rata-rata harga gabah pada Juni 2021 dengan tahun sebelumnya pada Juni 2020 lalu menunjukkan kurva penurunan.

“Pada tingkat petani untuk kualitas gabah kering panen (GKP) turun sebesar 3,7% dan untuk gabah kering giling (GKG) mengalami turun drastis sebesar 15,08%. Demikian juga dengan gabah luar kualitas mengalami penurunan sebesar 5,3%,” ungkap Johan.

Ia mendorong pemerintah memperbaiki paket kebijakan harga dasar gabah/beras pembelian pemerintah sebagai suatu kebijakan strategis pada masa pandemi untuk menstabilkan harga gabah di setiap wilayah sepanjang tahun.

“Karena realitas di lapangan selalu ditemukan bahwa harga gabah di tingkat petani maupun di penggilingan selalu lebih rendah dari harga pembelian pemerintah,” kata Johan.

Insiden anjloknya harga gabah selalu terjadi pada saat musim panen, yang berakibat merugikan petani pada masa pandemi ini, menjadi sorotan Johan.

Kata dia, pemerintah harus segera melakukan intervensi kebijakan melalui kajian yang mendalam untuk membela kepentingan petani agar tidak dirugikan.

Apalagi, lanjut Johan, pada umumnya petani menjual gabah dalam bentuk GKP dan jarang dalam bentuk GKG maupun beras, maka seharusnya konstruksi kebijakan pembelian pemerintah diprioritaskan untuk pembelian GKP (gabah kering panen) sebagai instrumen penyangga harga gabah petani agar harganya selalu stabil.

Untuk itu, ia juga meminta pemerintah agar konsisten melarang impor beras kala produksi domestik meningkat tajam.

Mengingat, sikap tegas pelarangan impor beras dapat bermanfaat untuk meningkatkan harga gabah petani agar tidak terjadi disparitas harga yang tajam.

“Saya melihat akar penyebab dari anjloknya harga gabah petani adalah karena tarif impor beras yang terlalu rendah, sehingga ketika ada rencana impor dari pemerintah maka akan langsung mempengaruhi anjloknya harga gabah petani,” jelas Johan.

Johan berpandangan saat ini diperlukan kebijakan pemerintah untuk membuka pasar beras domestik sehingga harga beras yang saat ini cukup tinggi di pasar dunia dapat ditransmisikan hingga harga gabah petani dapat mengalami peningkatan.

“Selain itu saya berpendapat bahwa pemerintah mesti mewajibkan Bulog bahwa beras yang disalurkan dalam program Bansos pada masa pandemi ini haruslah beras dari pengadaan dalam negeri yang berasal dari hasil operasi pembelian gabah petani secara signifikan,” tandas Johan Rosihan. RUL

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.