Berbagi Berita Merangkai Cerita

Hapus Stigmatisasi Corona, Wali Kota Ahyar Fokuskan PCBL di Mataram Cegah Covid-19

3

MATARAM, DS – Penanganan Covid-19 Berbasis Lingkungan (PCBL) terus dilaksanakan di Kota Mataram. Sebagian besar lingkungan di Ibukota NTB ini juga menjadikan PCBL sebagai wadah untuk melawan stigmatisasi yang selama ini terbangun.

Seperri juga yang terlihat di Kompleks BTN Bumi Kodya Asri, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Minggu (31/5), pelaksanaan PCBL tetap berjalan.

Di pintu masuk lingkungan setempat, dilakukan pencatatan suhu tubuh bagi semua warga yang keluar masuk. Tamu yang datang juga dicatat dari mana dan tujuannya kemana, serta berapa lama bertamunya ditentukan maksimal 1 jam.

Seminggu sekali, Gugus Tugas yang terbentuk di sana juga melakukan pemeriksaan suhu tubuh kepada semua warga di lingkungan. Jika ditemukan warga dengan suhu di atas normal maka akan dilaporkan ke petugas kesehatan.

Kalau ada warga yang harus melakukan isolasi maka hal itu dilakukan dengan bantuan kebutuhan yang ditanggung bersama beberapa tetangga.

“Jadi yang isolasi juga merasa nyaman karena kebutuhannya terjamin. Mereka juga tidak merasa dikucilkan pada akhirnya,” ujar Supriyadi, warga setempat.

Sementara itu, Ketua Tim Assistensi PBCL Kota Mataram, Dwi Sudarsoni mengatakan, konsep 10 rumah aman atau Dasa Wisma yang dilakukan alam PCBL ini bisa menjadi wadah masyarakat untuk saling memantau dan mengingatkan agar tetap disiplin mentaati anjuran pemerintah.

Hal ini juga akan sangat bermanfaat ketika ada warga yang menjadi OTG atau ODP dan harus menjalani isolasi mandiri, karena para tetangga yang akan bergotong-royong memantau agar isolasi berjalan maksimal dan kebutuhannya tercukupi.

“Jadi PCBL ini kalau dilaksanakan maksimal, dengan konsep Dasa Wisma atau 10 rumah aman ini akan sangat efektif. Semua masyarakat saling kontrol dan saling bahu membahu memutus penyebaran Covid-19. Dan yang menjalani isolasi mandiri,  baik yang reaktif maupun non reaktif hasil rapidnya diberikan dukungan semangat emosional dan tidak dikucilkan. Ini juga membantu menghapus stigmatisasi buruk terhadap OTG, ODP, bahkan pasien corona positif,” jelasnya.

Menurut Dwi model PCBL ini sebenarnya bisa diterapkan juga di daerah lain di NTB. Sebab, kalau semua lingkungan menerapkan PCBL maksimal seperti ini, maka tidak akan ada lagi masyarakat yang takut dikucilkan karena berstatus OTG, ODP atau positif corona karena ada dukungan moral dari warga, para tetangga.

“Selain itu proses tracing contact juga tidak akan susah karena warga semuanya terkontrol dan terdata riwayatnya bepergian dan kesehatannya,” katanya.

Wali Kota Mataram, H Ahyar Abduh mengapresiasi para Camat, Lurah, dan terutama para Kepala Lingkungan yang masih konsisten melaksanakan PCBL di wilayah mereka masing-masing.

“Yang di BTN Kodya Asri ini bis amenjadi contoh yang baik juga. Kami sangat apresiasi,”kata Ahyar Abduh.

Ia mnegaskan, dengan PCBL diharapkan bisa mencegah penyebaran dan memutus rantai penyebaran corona di Kota ini.

“Dengan PCBL ini Covid-19 bisa kita kontrol dengan baik ser, kita cegah sekaligus pemutusan penyebaran, sehingga bisa segera berakhir,” ungkap Ahyar

Yang terpenting pula, dengan model PCBL yang menerapkan pendekatan 10 rumah aman ini diharapkan tidak ada lagi yang takut dan panik, jika terpapar positif corona.

“Semua pasti tidak mau kena (corona). Tapi bagi yang menjadi korban dan terpapar positif, juga tak perlu takut karena penyakit ini bukan aib. Yang harus dilakukan sekarang masyarakat harus benar-benar disiplin ikuti anjuran pemerintah, jangan ada yang ngeyel ngeyel atau bekeh lagi,” tandas Ahyar Abduh.

Wali Kota Ahyar Abduh menegaskan, PCBL di Kota Mataram akan terus dilakukan hingga kasus corona mengalami trend yang menurun. Selain ini, PCBL juga dinilai sangat efektif dalam mendukung era New Normal yang akan diberlakukan pemerintah secara bertahap, beberapa waktu ke depan. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.