Berbagi Berita Merangkai Cerita

GPT Loteng Desak Aparat Kepolisan Bersikap Tegas

0 7

MATARAM, DS – Jika Gubernur NTB telah memberikan permintaan maafnya, namun tidak bagi keluarga besar Nahdhatul Wathan (NW), serta organisasi kemasyarakatan lainnya di NTB. Itu terlihat dari pernyataan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan (PWNW) NTB TGH. Mahally Fikri. Selain itu, massa Gerakan Pemuda Tatak (GPT) Desa Tanak Awu, Lombok Tengah, Jumat (14/4) menggelar aksi protes atas penghinaan verbal yang dilakukan Steven Hadisudiryo Sulistyo kepada Gubernur di Bandara Internasional Lombok (BIL).

TGH. Mahally Fikri mengatakan, keluarga besar NW mengutuk keras penghinaan Steven terhadap Zainul Majdi yang juga dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB). “Apalagi penghinaannya bersamaan dengan menghina pribumi dan warga Indonesia,” tegas Mahally menjawab wartawan.

Wakil Ketua DPRD NTB itu mendesak aparat kepolisian baik Kapolda NTB dan Kapolri mengusut tuntas kasus pelecehan sekaligus penghinaan yang dilakukan Steven terhadap seorang ulama, Gubernur NTB yang menjadi panutan rakyat Indonesia, khususnya nasyarakat NTB agar tidak menjadi kebiasaan yang akan diikuti oleh org lain pada masa yang akan datang

“Yang jelas, Indonesia harus bebas dari rasis dan tidak boleh satu pun dan siapapun dia yang dibiarkan bebas hidup di negara tercinta Indonesia. NKRI dan bhineka tunggal ika harga mati,” kata Mahally lantang.

Menurutnya, selama memimpin sebagai Gubernur NTB hampir 10 tahun, TGB menjadikan NTB sangat aman dan sikap toleransi antar umat menjadi prioritas utama sehingga hampir tidak pernah terjadi riak-riak dan saling melecehkan antar kelompok dan etnis.

“NTB menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi semua etnis hidup berdampingan dan tidak pernah saling ganggu, ini harus terus kita jaga bersama. Keluarga besar NW NTB mendukung dan menyatakan sikap mari kita jaga marwah bangsa Indonesia ini dan Indonesia harus bebas dari rasis,” ujar Mahally Fikri.

Sementara itu, Koordinator Gerakan Pemuda Tatak (GPT)Desa Tanak Awu, Lombok Tengah, Syawaludin mengatakan aksi yang digelar ini merupakan reaksi sementara untuk aksi yang lebih besar. Aksi ini diikuti sekitar 30 orang. “Kami tunjukan sikap ketersinggungan kami terhadap ulah kurang ajar si Steven HS. Terhadap simbol kehormatan warga NTB yg merupakan ulama sekaligus umaro kami,” tegas Syawaludin.

Dalam aksinya ini, Syawaludin meminta kasus ini segera diselesaikan secara hukum. Hal ini agar tidak semakin membuat kemarahan warga NTB memuncak.

“Kami meminta ini diproses hukum dalam waktu sesingkat-singkatnya,” tegas dia.

Gubernur NTB sendiri mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat dihina seorang mahasiswa kelahiran Jakarta, Steven Hadisurya Sulistyo saat tengah mengantri di Bandara Changi Singapura pada Minggu (9/4) lalu.

Dalam permintaan maafnya, Steven menyampaikan terimakasihnya kepada TGB yang telah memaafkan dan tidak menempuh jalur hukum. “Serta memberikan saya maaf atas kekhilafan saya menyebut kata-kata tidak pantas yaitu Dasar Indonesia, Dasar Indo, Dasar Primbumi, Tiko,” kata Steven. fahrul

Leave A Reply