Berbagi Berita Merangkai Cerita

Gempa 6,4 SR Guncang Lombok dan Sumbawa, 10 Orang Tewas, 1 Diantaranya Warga Malaysia

0 5

MATARAM, DS – Gempa bumi berkekuatan 6,4 skala Richter (SR) mengguncang NTB. Gempa pada sekitar pukul 06.47 WITA Minggu (29/7) tidak hanya dirasakan masyarakat Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan Sumbawa, melainkan juga hingga Bali. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pusat gempat berada di darat pada jarak 47 KM arah Timur Kota Mataram.

Meski tidak berpotensi tsunami, koordinat pada 8,4 lintang selatan, dan 116,55 bujur timur, serta kedalaman 24 KM telah membuat kepanikan masyarakat di Pulau Lombok. Hingga pukul 10.30 WITA, gempat susulan masih saja terjadi dalam skala lebih kecil hingga puluhan guncangan.

Pada sekitar pukul 09.55 WITA, masyarakat di Kota Mataram dan Lombok Barat sempat dilanda guncangan keras sekitar 10 detik. Akibatnya, mereka berhamburan keluar rumah dan berlindung di jalan, lapangan dan tanah kosong untuk menghindari bangunan roboh.

“Gempa yang tadi itu sudah kesekian kalinya kita rasakan. Untuk sementara, lebih baik di luar rumah bersama anak-anak, khawatir sewaktu-waktu gempa kembali terjadi,” ujar Suci, salah seorang warga Perumahan Panorama Alam, Sesela, Lobar menjawab wartawan.

Hal serupa juga dilontarkan, Ariani, warga Kampung Banjar, Kota Mataram. Menurutnya, gempa itu sempat membuat tiang listrik di depan rumahnya bergoyang. “Sangat keras, saya takut nanti tiang listrik jatuh menindis rumah saya. Makanya, saya bawa anak-anak lari keluar rumah,” ujar Ariani.

Hingga Minggu siang sekitar pukul 14.00 WITA, akibat gempa tercatat 10 orang meninggal dunia, 40 orang luka-luka dan sedikitnya 300 rumah rusak parah.  Dilaporkan, juga sebanyak 18 warga negara Malaysia juga menjadi korban akibat gempa itu. Satu diantara warga Malaysia yang terdampak gempa meninggal dunia, korban lainnya mengalami luka dan trauma.

Kapolres Lombok Timur, AKBP Eka Fathurahman, mengatakan 18 orang warga negara Malaysia ini sedang berlibur di kawasan wisata Gunung Rinjani, Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

“Dari 18 warga negara Malaysia, satu orang di antaranya meninggal dunia, enam orang mengalami luka-luka dan 11 lainnya trauma,” ujarnya menjawab wartawan di Sembalun.

Warga Malaysia yang menjadi korban meninggal dunia atas nama Siti Nur Ismawida (30). Korban meninggal setelah tertimpa tembok di tempatnya menginap dengan rekan-rekannya. “Jadi korban meninggal setelah tertimpa reruntuhan bangunan,” kata Kapolres.

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyebutkan hingga Minggu pukul 09.45 WITA tercatat dampak gempa menyebabkan 10 orang meninggal dunia, 40 orang luka dan puluhan rumah rusak.

Diperkirakan dampak gempa akan bertambah mengingat pendataan masih berlangsung dan belum semua lokasi terdata.  Data sementara dari BPBD NTB tercatat di Kabupaten Lombok Timur terdapat 8 orang meninggal dunia, 10 orang luka berat, 10 orang luka ringan dan puluhan rumah rusak.

Identitas korban meninggal dunia diantaranya Siti Nur Ismawida, perempuan, 30 tahun warga negara Malaysia, Ina Marah, perempuan,60 tahun, Ina Rumenah, perempuan, 58 tahun dan 5 orang meninggal dunia dalam pendataan identitas oleh petugas.

Di Kabupaten Lombok Utara juga terdapat dua orang meninggal dunia, dan 13 orang luka-luka dirawat di Puskesmas Senaru, dan tujuh orang di Puskesmas Bayan.

Berdasarkan laporan juga terdapat longsor cukup besar dari Gunung Rinjani di mana material longsoran mengarah ke utara pascagempa 6,4 SR. Saat ini jalur pendakian ke Gunung Rinjani ditutup dan aparat masih melakukan pemantauan terhadap dampak longsor yang ada.

Ditemui di lokasi, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD NTB, Agung Pramuja, mengungkapkan identitas korban meninggal dunia adalah Sandi (20) di Sambik Elen, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Selain itu, Siti Nur Ismawida (30), salah seorang warga Malaysia yang dilaporkan meninggal dunia tertimpa tembok roboh di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Tiga korban meninggal dunia belum diketahui identitasnya. Satu jenazah warga Kokok Putek, masih diurus di Puskesmas Sembalun. “Dua korban meninggal dunia ada di Obel-Obel, Kecamatan Sambalia, tapi kami belum dapat identitasnya. Baru laporan sementara,” kata Agung, yang mengaku masih terus berkoordinasi dengan tim BPBD Kabupaten/kota yang terdampak gempa bumi.

Agung menyatakan, jika gempa kali ini adalah hal yang alamiah. Sebab, biasanya setelah terjadi gempa besar akan diikuti oleh gempa-gempa susulan yang lebih kecil dalam rangka mencari keseimbangan sistem lempeng atau sesar yang ada.

Menurut dia, petugas BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, dan relawan terus melakukan penanganan darurat. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi NTB dan BPBD Kabupaten/Kota terdampak gempa. “Bahkan, tim Reaksi Cepat BNPB juga telah menuju ke lokasi bencana untuk memberikan pendampingan pada pihak BPBD,” ungkap Agung.

 

Korban Gempa dirawat di Tenda Pengungsian

Lantaran besarnya gempa bumi berkekuatan 6,4 SR yang mengguncang Lombok, sejumlah fasilitas umum diantaranya Puskesmas Sembalun di Lotim, rusak parah.  Sehingga, sebagian korban luka dirawat sementara di tenda pengungsian yang didirikan personel Taruna Siaga Bencana (Tagana).

“Tenda sudah berdiri dan dimanfaatkan untuk menampung sementara korban luka karena bangunan Puskesmas rusak akibat gempa,” kata kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat, menjawab wartawan.

Tenda pengungsian didirikan di desa Sembalun, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur karena Puskesmas setempat mengalami kerusakan akibat gempa.

Selain mendirikan tenda, Tagana juga sudah membagikan nasi bungkus untuk makan siang para korban dan relawan.

Kementerian Sosial menurunkan 60 personel Tagana dan Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) serta logistik ke lokasi gempa.  Bantuan logistik seperti matras, tenda, perlengkapan anak, perlengkapan lansia, makanan siap saji, dan lainnya dikirimkan bertahap.

 

Waspada Gempa Susulan

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatalogi, dan Geofisika (BMKG) Pusat, Dwikorita Karnawati, meminta masyarakat untuk waspada terhadap ancaman gempa susulan meskipun dengan intensitas dan magnitude yang kecil.

“Hingga saat ini (pukul 11.00) telah terjadi 85 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar 5,7 SR. Karenanya kami meminta masyarakat untuk tetap waspada namun tetap tenang dan jangan panik,” ungkap Dwikorita, dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Minggu (29/7).

Dwikorita juga meminta masyarakat untuk tidak mempercayai berita hoaks yang menyebar pasca gempa. Hingga saat ini, BMKG terus memantau perkembangan gempa dari Pusat Gempa Nasional (PGN) Jakarta. “Guna mengantisipasi munculnya informasi simpang siur dan hoaks, BMKG melalui akun Twitter @InfoBMKG akan terus menginformasikan perkembangan gempa,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dwikorita menerangkan hasil analisis BMKG bahwa gempa bumi yang terjadi di Lombok merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust). Gempa bumi dipicu deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).fm

Leave A Reply