Berbagi Berita Merangkai Cerita

Ganggu Kerukunan Umat Beragama PHDI Tak Tolerir Postingan NPRS

5.730

FOTO. Ketua PHDI NTB, Ida Made Santi Adnya (tengah) bersama jajaran pengurus PHDI Kabupaten/kota dan ormas Hindu lainnya di NTB saat menggelar jumpa pers menyatakan sikap mengecam postingan NPRS. (FOTO. RUL/DS)

MATARAM, DS – Status media sosial (Medsos) yang diunggah Ni Putu Rediyanti Shinta (NPRS) yang telah menggugah reaksi umat Islam di Wilayah NTB, menuai penyesalan jajaran pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi setempat.

PHDI NTB sangat menyayangkan postingan di akun Facebook NPRS yang diduga menghina almarhum Ustaz Tengku Zulkarnain yang sempat viral tersebut. Sebab, hal itu jelas melukai perasaan umat muslim.

Ketua PHDI NTB, Ida Made Santi Adnya MH, menegaskan, pihaknya bersama sejumlah organisasi keumatan umat Hindu tak menolerir perbuatan tersebut.

Saat menggelar jumpa pers bersama PHDI NTB bersama PHDI Kabupaten/Kota se-Pulau Lombok bersama Peradah NTB, KMHDI NTB, Prajaniti, dan WHDI NTB, pihaknya menyayangkan postingan NPRS.

“Pastinya, postingan NPRS itu telah memberikan dampak negatif yang sekaligus memunculkan permasalahan baru di tengah-tengah kerukunan dan persaudaraan umat beragama yang telah terjalin dengan baik selama ini. Apalagi, antara Umat Islam dan Hindu di NTB,” tegas Adnya di kantor PHDI NTB, Sabtu Sore (15/5).

Menurut dia, gelaran jumpa pers yang dilakukan pihaknya usai membahas permasalah tersebut sangat penting dilakukan Hal ini, kata Adnya, bagian dari langkah preventif sekaligus menghindari terjadinya konflik horizontal di tengah masyarakat NTB yang majemuk dan multikultur.

“PHDI NTB mengapresiasi langkah-langkah cepat secara personal yang dilakukan oleh NPRS, dengan memohon maaf atas kekeliruan dan kekhilafannya atas postingan di akun
Facebook yang bersangkutan. Langkah yang telah diambil oleh NPRS diharapkan sekiranya dapat memberikan jalan keluar yang lebih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan kekeluargaan,” jelasnya.

Ida Made Santi Adnya mengungkapkan, pihaknya memberikan kesempatan mereka yang pernah membuat kesalahan dan kekhilafan untuk tidak mengulangi serta memperbaiki kekurangan dan kesalahannya dalam rangka proses pendewasaan dan pembelajaran bagi mereka untuk tidak mengulangi perbuatannya.

“Tapi, apabila upaya-upaya kekeluargaan tidak berhasil dilakukan, kamj juga menghargai dan menghormati pihak-pihak yang melaporkan perbuatan NPRS kepada pihak kepolisian untuk menentukan dapat ditegakkannya kepastian, kebenaran dan keadilan hukum di masyarakat,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Ida Made Santi Adnya mewakili umat Hindu di NTB mengimbau seluruh masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

“Jadikan kasus NPRS ini pembelajaran untuk kita semua agar bijak bermedsos, tentunya dengan tetap menjaga kerukunan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan secara khusus di wilayah NTB ini,” tandasnya.

Minta Maaf

Sebelumnya, Ni Putu Rediyanti Shinta menyampaikan permohonan maaf atas postingannya di media sosial Facebook yang diduga menghina almarhum Ustaz Tengku Zulkarnain.

Perempuan yang berprofesi sebagai notaris di Kota Mataram, Lombok ini mengaku tidak pernah berniat untuk menghina kiai dan ulama.

Melalui video berdurasi 1 menit 7 detik, Ni Putu Rediyanti Shinta mengklarifikasi postingannya yang menyebut “Syukurlah satu persatu perusuh bangsa tersingkirkan. Entah wafat atau dipenjara.”. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.