Berbagi Berita Merangkai Cerita

Fahri Hamzah Yakini UU Cipta Kerja Bakal Dibatalkan MK

80

MATARAM, DS –  Banyaknya aksi penolakan dari masyarakat terkait disahkannya Omnibus Law UU Cipta Kerja yang baru disahkan DPR RI pada Senin (5/10) malam, berpotensi bakal dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK).

Mantan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah angkat bicara terkait hal itu. Menurut dia, MK akan  berpeluang membatalkan UU Cipta Kerja bila ada yang melakukan judicial review (JR).

“Sangat mungkin MK membatalkan keseluruhannya,” ujar Fahri dalam siaran tertulisnya, Kamis (8/10).

Wakil Ketua Umum DPP Gelora Indonesia itu mengungkapkan, bukan tanpa alasan jika ia memberikan penilaiannya. Sebab,  jauh-jauh hari sebelumnya ia pernah menyampaikan sebuah analisis terkait munculnya wacana Omnibus Law UU Ciptaker ini, saat Program Legislasi Nasional (Prolegnas) disahkan pada Januari 2020.

Fahri menuturkan, basis analisisnya kala itu dengan membaca motif dan filosofi di balik UU, setelah melihat akumulasi lima tahun pemerintahan Presiden Jokowi yang bermazhab pembangunan ekonomi.

“Mazhab inilah yang ditayangkan dalam satu perundang-undangan,” tegasnya.

Fahri menjelaskan, sebetulnya ada dua mazhab ekonomi yang berkembang. Yakni mazhab ekonomi Eropa yang memakai demokrasi.

Kemudian, mazhab ekonomi Tiongkok yang cenderung memakai penyederhanaan terhadap perundang-undangan yang terkait dengan investasi dan ekonomi.

Nah, Fahri Hamzah melihat bahwa konversi sistemik dalam Omnibus Law UU Ciptaker itu sangat mungkin menciptakan masalah-masalah terkait konstitusional.

Kata dia,  tidak bisa 79 UU disederhanakan dalam satu UU. Sebab, ujar dia, Indonesia tidak saja memiliki 79 UU. Melainkan memiliki ratusan dan bahkan ribuan UU yang harus dirujuk.

Termasuk di dalamnya adalah peraturan daerah, menteri, pemerintah, keputusan presiden, dan sebagainya. “Ini akan sangat complicated kalau kita mengubahnya di atas itu,” ungkapnya.

Fahri mengakui, kala itu dirinya sempat mempertanyakan kenapa perubahan tidak dilakukan pada tataran peraturan yang lebih teknis yang tidak memerlukan keterlibatan dewan karena lebih rumit.

Dia juga mengusulkan agar pemerintah melakukan aturan di tingkat peraturan pemerintah alias PP, karena UU Cipta Kerja ini juga nanti harus dibuatkan peraturan-peraturan di bawahnya.

Seperti peraturan pemerintah, disusul peraturan presiden, atau keputusan presiden dan peraturan-peraturan di bawahnya lagi. “Jadi, sekali lagi, ini (omnibus law) pekerjaan yang rumit, yang kemungkinan mendatangkan banyak masalah,” jelas politikus asal Sumbawa itu.

Lebih lanjut Fahri Hamzah menjelaskan perampasan kewenangan-kewenangan atau hak-hak di dalam UU lain telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi, tetapi kini dimasukkan kembali dalam Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Karena itu, Fahri meyakini perampasan hak terkait pekerja, lingkungan hidup, kewenangan-kewenangan pejabat daerah dalam Omnibus Law UU Ciptaker itu tentu akan ditinjau oleh MK sebagai masalah yang sama, jika ada yang mengajukan judicial review.

”Sekali lagi, inilah bahayanya dari penyederhanaan undang-undang sehingga sangat mungkin MK tidak saja membatalkan pasal per pasal, karena rumit. Sangat mungkin MK justru membatalkan keseluruhannya, lalu menyuruh kita merujuk kepada UU yang lama,” paparnya.

Menurut dia, dengan merujuk kepada UU lama, maka tinggal melakukan sinkronisasi aturan teknis di bawahnya.

“Supaya yang namanya ego sektoral dan sebagainya itu bisa diselesaikan oleh tangan presiden sendiri,” ucap Fahri.

Ia menambahkan, ketika ada masalah, terlebih lagi masa pandemi Covid-19, pasti ada satu atau dua ketentuan yang sinkronisasinya perlu dibuat berdasar UU.

Namun, ungkap Fahri, dalam melakukan itu presiden tidak perlu mengajak DPR. Menurut dia, presiden cukup membuat peraturan pemerintah pengganti undang-undang atau perppu.

“Karena itu hanya semacam konsolidasi teknis, bukan merupakan mengulang apa-apa yang telah diproses selama 20 tahun ini oleh MK yang tidak diteliti secara baik dalam Omnibus Law UU Cipta Kerja ini,” jelasnya.

Jadi, Fahri Hamzah menegaskan, hal-hal inilah yang menjadi dasar pemikirannya bahwa Omnibus Law UU Ciptaker itu bisa dibatalkan tidak hanya pasal per pasal, tetapi secara keseluruhan oleh MK.Karena itu, Fahri Hzmah pun meminta pemerintah berhati-hati dalam menjawab segala persoalan yang ada pascadisahkannya Omnibus Law UU Cipta Kerja ini.

“Sebab hari-hari ke depan tentu setelah ada demonstrasi, akan terjadi arus gugatan kepada Mahkamah Konstotusi. Itu tidak mungkin dihindari, dan itu akan terjadi,” tandas mantan aktivis mahasiswa 1998 itu. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.