Senin , 18 November 2019
Home / Ekonomi / Soal Kisruh Pengiriman Mahasiswa NTB ke Korea, M-16 Minta Pemprov Terbuka ke Publik
Bambang Mei Finarwanto

Soal Kisruh Pengiriman Mahasiswa NTB ke Korea, M-16 Minta Pemprov Terbuka ke Publik

MATARAM, DS – Kisruh pengiriman mahasiswa asal NTB ke Chodang University, Korea Selatan, belum menemui titik terang. Kendati, Gubernur Zulkieflimansyah telah memberikan klarifikasi jika inisiasi pengiriman mahasiswa NTB ke Korea berasal dari Dekan Kedokteran Unram yakni Dr. Hamsu.

Hal tersebut belum mampu meredam persoalan tersebut. Apalagi, kabarnya mahasiswa asal NTB yang terpantau melalui akun facebook mereka terkesan ada yang terlantar saat berada di negara berjuluk negeri Ginseng tersebut.

“Kalau kemarin itu ceritanya sebatas tak ada yang telantar. Semua baik-baik saja, semakin ke sini kok malah kebalikannya.  Tolong, jangan ada dusta atas nasib orang,” tegas Direktur Lembaga Kajian Politik dan Publik M-16, Bambang Mei Finarwanto menjawab wartawan, Sabtu (7/9).

Bambang mengaku memeroleh sejumlah informasi menyedihkan dari berbagai sumber terparcaya yang diyakini sangat kredibel terkait kondisi mahasiswa NTB di Korea. Oleh karena itu, pihaknya perlu angkat bicara terkait pengiriman sekolah ke Korea itu, lantaran telah menjadi isu publik akhir-akhir ini.

Menurut dia, ada kesan Pemprov NTB kurang cermat dalam pengiriman mahasiswa NTB ke Korea. Sehingga, nasib sebanyak 18 orang yang sudah dikirim tidak boleh dianggap sederhana. Padahal mereka sudah mengorbankan pekerjaan dan diduga meminjam puluhan juta di bank daerah.

“Siapa yang tanggung jawab, pekerjaan orang sudah lepas. Belum lagi secara psikologis di mata keluarga dan lingkungan sekitar,” ujar Bambang.

Pihaknya terus mengikuti seluruh pemberitaan di media massa baik cetak maupun online. Yang muncul justru saling menghindar soal pertanggung jawaban. Disebut Universitas Mataram, ada juga Pemprov NTB, terakhir LPP yang disebut.

“Keributannya malah pembelaan diri, bukan telantar, bukan perdagangan orang, bukan salah ini, salah itu. Jadi kesannya tidak profesional, amatiran,” kata Bambang lantang.

Mestinya, ungkap dia, sikap terbuka dan gentle saja ke media secara kronologi dengan menyampaikan proses pengiriman hingga nasib warga NTB di Korea itu.

Ia menyatakan Pemprov NTB punya kewajiban moral  bertanggung jawab secara utuh pada warga NTB yang sudah dikirim ke Korea Selatan. Kerugian materiil ataupun immateriil harus dihitung. Termasuk, perlu ada kejelasan terkait adanya dugaan bagaimana nasib pinjaman Rp 60 juta di bank.

“Beberapa dari mereka sudah berhenti kerja, jangan sampai sudah jatuh tertimpa tangga,” ungkap Bambang seraya mengaku penasaran dengan dugaan  proses pinjaman perbankan. Karena, terkesan begitu mudah mencairkan pinjaman yang diduga untuk 28 orang dengan total Rp 1.680.000.000.

“Ini orang sudah berhenti kerja, masih mau kuliah dapat kerja lagi di Korea Selatan. Kok mudah sekali dapat pinjaman, sementara meminjam untuk usaha saja panjang lebar prosesnya,” katanya lagi.

Masalah Korea Selatan ini telah mendapat atensi dari banyak pihak, baik DPRD dan Ombudsman perwakilan NTB. Bambang berharap, persoalan ini dikawal secara utuh. Ia khawatir, nasib 18 orang yang saat ini di Korea Selatan diabaikan.

Sementara itu Gubernur NTB H Zulkieflimansyah melalui akun facebook pribadinya menuliskan, ada yang mempermasalahkan tentang pengiriman  mahasiswa ke Korea bahkan mencurigai ini motif untuk perdagangan manusia. Padahal ini program sederhana.

“Yang punya ide memberangkatkan anak NTB ke luar negeri bukan kami saja. Banyak orang dan tim lain,” tulisnya seraya menyebut ide ini diinisiasi oleh Dr Hamsu dari Fakultas Kedokteran Unram. Kata Dr Hamsu, NTB punya kelebihan perawat dan sambil sekolah anak NTB bisa bekerja membantu di bidang perawatan dan kesehatan di Korea dengan gaji yang lumayan.

“Menurut kami program ini bagus dan harus didukung  tapi kami meminta Prof Hamsu utk mengecek kualitas dan Reputasi Chodang University sambil mengirimkan Kadis Kesehatan Kami Dr Eka dan Dirut RSUP dr Fikri utk memastikan bahwa apa yg di janjikan itu benar. Setelah semuanya oke baru berani kita kirimkan anak-anak kita ke sana,” ungkapnya.

“Bahwa kemudian ada hal-hal yang kenyataannya tidak sesuai dengan yang dijanjikan tentu patut disesali. Kita tinggal perbaiki kalau ada prosedur yang keliru atau ganti tempat studi ke tempat yang sesuai harapan. Tapi yang ada beritanya anak-anak kita terlantar di Korea,” sambung Gubernur.

Seperti diketahui, pengiriman sebanyak 18 warga NTB untuk belajar ke Chodang University untuk kuliah sembari bekerja tak berjalan mulus. Kondisi belasan orang di Korea Selatan itu pun tak menentu.

Direncanakan dalam waktu dekat, mereka akan kembali ke NTB. Sisanya akan kembali Desember mendatang. Mereka ke Korea Selatan setelah mendapat pinjaman uang dari bank daerah sebesar Rp 60 juta. Rul

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Capaian 6,26 Persen Ekonomi NTB Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional

MATARAM, DS – Pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan III-2019 mengalami trend positif. Tak tanggung, kisaran …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: