Jumat , 28 Februari 2020
Home / Ekonomi / Kurangi Berat Bobot Pengiriman Sapi NTB jadi 250 Kilogram, DPRD Ingin Petani NTB Sejahtera
HL. Budi Suryata

Kurangi Berat Bobot Pengiriman Sapi NTB jadi 250 Kilogram, DPRD Ingin Petani NTB Sejahtera

MATARAM, DS– Para petani pengembangbiakan ternak sapi potong di wilayah NTB bakal bisa mulai tersenyum lebar. Pasalnya, aturan yang tertuang dalam Pergub Nomor 25 Tahun 2005 tentang Pedoman Pengeluaran atau Pemasukan Ternak dan Bahan Asal Ternak di Provinsi NTB yang mengharuskan berat badan ternak sapi potong yang boleh dikirim keluar antar pulau harus mencapai bobot minimal 300 kilogram akan segera direvisi. Direncanakan, hewan ternak yang bisa dikirimkan ke luar daerah, khususnya Sapi Bali asal NTB bakal berkurang bobotnya, yakni hanya sekitar 250 kilogram.

Anggota Pansus IV Tata niaga Ternak DPRD NTB, HL. Budi Suryata, mengatakan, dari rapat dengan berbagai pihak diantaranya asosiasi peternak di Pulau Sumbawa dan Lombok serta OPD terkait, ada upaya bersama untuk mengurangi bobot minimal hewan ternak yang dikirim ke luar antar pulau berkurang dari bobot sebelumnya.

“Besaran bobot sapi ternak itu hampir mengarah ke angka 250 kilogram. Harapannya, pengurangan bobot ini bisa membuat petani sejahtera dan bisa mengurangi penyelundupan perdagangan ternak yang kian masive selama ini,” ujar Budi menjawab wartawan, Kamis (16/1).

Kendati ada revisi terkait pengurangan bobot hewan ternak itu, Budi memastikan perlindungan populasi sapi Pulau Lombok dari penyebaran sejumlah penyakit strategis bagi ternak sapi potong akan tetap diperhatikan.Sebab, alat kontrol terkait pengawasan hewan ternak akan diperketat melalui kartu ternak dan pembatasan kuota pengirimannya.
“Yang utama, kita akan buat kartu i-ternak. Ini penting untuk meningkatkan kevalidan data ternak, sehingga permainan di pasar gelap yang marak akibat pembatasan berat ternak akan bisa kita kurangi,” kata dia.

Terkait berat badan ternak khususnya kerbau juga disepakati yang boleh dikirim keluar antar pulau harus mencapai bobot minimal 300 kilogram. Kebijakan adanya pembatasan tersebut dimaksudkan agar kerbau yang sakit tidak bisa seenaknya bisa diloloskan.

“Makanya, kebijakan penurunan berat bobot hewan ternak tetap tidak mengabaikan pengawasan oleh OPD terkait saat proses di Karantina hingga pengiriman di pelabuhannya. Tadi, kita minta pas rapat itu, harus ada petugas khusus di pintu keluar NTB yang menjaga pengiriman hewan ternak itu,” tandas Lalu Budi Suryata. RUL

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Latih Perempuan Mapak Dasan Belajar Sekolah Sampah ke Gelisah Selly Ajak Perempuan Mataram Kreatif Kelola Sampah

MATARAM, DS – Setiap harinya rata-rata volume sampah di Kota Mataram mencapai sekitar 400 ton. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: