Rabu , 16 Oktober 2019
Home / Ekonomi / Fauzi : Ulah Tengkulak Picu Harga Tembakau Virginia Lombok Anjlok 
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, H. Husnul Fauzi (kiri) didampingi Sekretaris APTI NTB Samsul Hakim saat memberikan keterangannya terkait produksi tembakau Virginia Lombok

Fauzi : Ulah Tengkulak Picu Harga Tembakau Virginia Lombok Anjlok 

MATARAM, DS – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, H. Husnul Fauzi mensinyalir anjloknya harga tembakau petani Viriginia Lombok akhir-akhir ini dipicu adanya permainan tengkulak.  Pasalnya, jika merujuk harga pembelian tahun ini, maka tembakau kualitas atas (grade tinggi) harganya berkisar antara Rp 47-49 ribu per kilogram yang dibeli oleh perusahan mitra. Sehingga, jika ada petani yang hasil panen tembakaunya dijual dengan harga Rp 30-35 ribu per kg untuk kualitas atas, jelas itu ada peran tengkulak yang bermain.

“Secepatnya, kami akan turun untuk mengedukasi para petani. Karena, prinsipnya petani tidak boleh dirugikan,” ujar Husnul menjawab wartawan di ruang kerjanya, Senin (16/9) petang.

Ia menegaskan rantai pembelian tengkulak pada para petani harus dipotong. Sebab, jika hal itu dibiarkan, maka dampaknya akan terus merugikan para petani. “Pokoknya, kita komitmen agar rantai penjualan tengkulak itu harus dipotong. Teknisnya, bagaimana kita edukasi para petani agar bermitra langsung dengan perusahaan, sehingga alur penjualan yang rendah bisa kita pecahkan masalahnya di lapangan,” tegas Husnul.

Menurut dia, musim tanam tembakau Virginia Lombok tahun 2019 ini memang mengalami peningkatan areal tanam dan produksi. Jika tahun lalu areal tanam tembakau Virginia Lombok antara luasan 18.000-20.000 hektar, tahun 2019 ini meningkat diperkirakan mencapai 25.000 hektar.

Sebab, kata dia, ada animo para petani yang sangat tinggi menanam tembakau Virginia di wilayah NTB. Oleh karena itu, kendati sudah ada kesepakatan harga yang disepakati oleh petani dengan perusahaan, pihaknya tidak bisa melakukan intervensi bilamana harga jual petani tersebut turun di pasaran.

“Sekarang ini, memang produksi tembakau Virginia Lombok mengalami over produksi karena memang animo masyarakat menanam cukup tinggi. Pastinya, kalau di lapangan ada kondisi harga turun, maka di institusi manapun di Republik Indonesia ini, termasuk NTB, tidak akan bisa menetapkan dan mengintervensi harga tembakau. Mengingat, harga itu tergantung mekanisme pasar yang ada. Disinilah berlaku istilah suplay and demand itu,” terang Husnul.

Meski didalam perda pembudidayaan dan kemitraan NTB telah diatur adanya kewajiban perusahaan melakukan pembinaan dan penyerapan pasar, fokus yang bisa dijadikan rujukan agar ada jalan tengah terkait penentuan harga jual tembakau Virginia Lombok dilakukan melalui musyawarah.

Lanjut Husnul, antara perusahaan mitra memiliki tata cara dan mekanisme sendiri untuk menentukan kualitas dan grade tembakau milik petani. “Kalau harga itu tidak bisa disamakan karena grade antar perusahaanya jelas berbeda-beda. Mereka itu punya tata cara masing-masing merujuk pada klasifikasi tembakau yang memang varietasnya juga berbeda,” ucapnya. “Tapi, hanya dengan bermusyawarah bersama, itu bisa menjadi entri point agar harga itu bisa disepakati dengan baik. Minimal, hasil penjualan tembakau Virginia Lombok tahun ini hasilnya lebih baik bila dibandingkan tahun lalu,” sambung Husnul.

Pihaknya tidak menutup mata terkait persoalan harga tembakau tersebut.  Sebab, laporan terkait turunnya harga tembakau Virginia Lombok akhir-akhir ini akan menjadi atensi. Dimana, Dinas Pertanian dan Perkebunan akan turun gunung melakukan investigasi untuk memastikan produksi tembakau petani akan bisa terserap seluruhnya di gudang milik perusahaan mitra.

“Kalkulasi kami, dari luasan produksi tembakau Virginia Lombok ada potensi sekitar 10 ribu ton tembakau yang akan bisa terserap hingga Januari-Februari 2020. Ini yang terus kita kejar titik pembeliannya untuk memastikan petani tidak rugi, sehingga pembudidayaan mereka akan bisa terjual seluruhnya,” tandas Husnul Fauzi.

Terpisah, Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau (APTI) NTB, Samsul Hakim, menambahkan saat ini harga jual tembakau di dunia memang mengalami fluktuasi tren menurun. Bahkan, harga jual tembakau bisa mencapai 2 dollar per kg. “Kalau harga jual tembakau Virginia Lombok, kami rasa kendati turun tapi tetap masih masuk katagori mahal,” ungkapnya.

Ia berharap Pemprov NTB melalui OPD terkait  turun melakukan intervensi memerangi masivenya para tengkulak harus disegerakan. “Mereka (tengkulak) itu yang merusak harga para petani. Kalau upaya itu dilakukan, maka Insya Allah petani tembakau akan bisa tersenyum karena ongkos produksi budidaya mereka akan bisa terbayar selama ini,” tandasnya. RUL.

Tentang Duta Selaparang Redaksi DS

Baca Juga

Bangun Jalan Dua Dusun di Loteng Hasil Hibah Warga TNI dan Masyarakat Bersinergi

LOTENG, DS – Pengerjaan pembukaan jalan baru sepanjang 1.450 meter yang menghubungkan dua dusun di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: