Berbagi Berita Merangkai Cerita

Ekonomi NTB Alami Kontraksi 1,41 Persen, Gubernur : “Resesi Itu Bukan Kiamat”

65

FOTO. Gubernur NTB Zulkieflimansyah saat duduk santai di kedai kopi milik Paox Iben beberapa waktu lalu. (FOTO. HUMAS PEMPROV NTB/DS)

MATARAM, DS – Gubernur NTB Zulkieflimansyah mengatakan, bahwa adanya pandemi covid-19 berpengaruh cukup besar pada perekonomian di Provinsi NTB.Hanya saja, ia tidak sependapat manakala resesi ekonomi yang kini dialami pemerintah Indonesia dianggap akhir dari segalanya alias  kiamat.

Pasalnya, kendati pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III/2020 dipastikan akan negatif antara minus 2% hingga 0%. Namun di NTB, tercatat juga terjadi kontraksi ekonomi mencapai 1,41 persen (y on y) di triwulan II-2020 jika dibandingkan triwulan II-2019.

“Sejauh ini, kita masih tertolon, karena masih adanya ekspor barang tambang dari PT Amman Mineral. Selain itu, program-program bantuan stimulus pemprov yang kita luncurkan pada masyarakat dan UMKM juga masih membantu adanya sumbangsih pada angka pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Gubernur menjawab wartawan, Rabu (30/9).

Bang Zul menegaskan, bahwa resesi ekonomi nasional yang kini berimbas ke semua daerah di Indonesia, termasuk di NTB bukanlah kiamat.

Pasalnya, resesi itu dipengaruhi faktor adanya keadaan lingkungan yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi tidak sebagus yang diprediksikan sejak awal.  Sehingga, pengeluaran konsumsi rumah tangga sangat berkurang.

“Kan kita lihat fakta, mobilitas orang berpergian menggunakan pesawat sudah kurang, pariwisata juga enggak ada wisatawan. Tapi kalau saya kondisi ini masih dalam tahap kewajaran,” tegasnya.

Menurut Bang Zul, pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah-langkah untuk bisa memulihkan kondisi ekonomi di wilayahnya. Salah satunya, meminta seluruh panitia dan OPD lingkup Pemprov harus memulai pekerjaan proyek baik itu fisik dan belanja harus dilalukan lebih awal.

Hal itu menyusul, postur pembiayaan dan pengeluaran di APBD pemprov dan pemda kabupaten/kota masih paling dominan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi seluruh lapisan masyarakat untuk tetap bergerak.

“Karena ini situasi extra ordinary maka tradisi membelanjakan APBD di akhir anggaran, yakni Desember harus ditiadakan. Saya sudah instruksikan TAPD Pemprov untuk mencatat dan menegur siapa-siapa para OPD yang lelet membelanjakan dana mereka,” tandas Gubernur Zulkieflimansyah. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.