Berbagi Berita Merangkai Cerita

Edukasi Masyarakat Lewat Bank Sampah

0 18

SELONG,DS-Data Dinas LHK (Lingkungan Hidup dan Kehutanan) NTB menunjukkan, masyarakat membuang sampah 0,6 kg/hari/orang. Sampah tersebut sekira 82 % dibuang ke sungai, selokan, hingga ke laut yang berdampak negatif bagi ekosistem lingkungan. Nah, Bank Sampah menjadi solusi mengatasinya.

Di Lombok Timur (Lotim) sebanyak 17 % sampah saja yang sudah dikelola di TPA Ijobalit. Berangkat dari kondisi tersebut maka, Ujip Dasmon menghadirkan solusi jitu dalam upaya mengelola sampah dengan mendirikan Bank Sampah Montong Bagia Lenek. Bank Sampah ini menyentuh 4 kekadusan (dari 12 kekadusan) setempat di Desa Lenek. Keempat kekadusan dimaksud adalah Dusun Karang Rajang, Dusun Gubuk Jero, Dusun Karang Tambang, dan Dusun Dasan Montong.

Dalam proses pengelolaan, didapatkan sampah organic 60% dan sampah anorganic 40%.  Sampah anorganic inilah yang kemudian disortir lagi (dipilah); ada plastik, botol beling, botol aqua, aluminium, kertas, karton, dan lain-lain.

Bagi Ujip Dasmon, Bank Sampah berperan mengedukasi masyarakat, mengolah sampah dengan bijaksana, sampah bernilai ekonomis. Hampir sebagian besar sampah dapat diolah, hanya 10 % yang tidak bisa diolah yang dikenal sebagai residu.

“Jika dicermati lebih jauh maka ada tiga point penting sebagai benang merah yang menyentuh kepentingan masyarakat yaitu edukasi, budaya bersih dan ekonomi,” cetusnya.\

Bebas Sampah

Bebas Sampah (Zero Waste) tahun 2023, merupakan program pemerintah Provinsi NTB. Untuk memenuhi program ini Pemprov NTB telah menargetkan seluruh desa dan kelurahan mendirikan Bank Sampah.

“Sesungguhnya keberadaan Bank Sampah selain membuat lingkungan menjadi bersih juga mendatangkan keberkahan bagi masyarakat. Dan hal tersebut sudah kami mulai di Desa Lenek yang saat ini sudah dirasakan manfaatnya di 4 pedusunan,” ujar Ujip Dasmon.

Dalam kurun waktu tahun 2019 ini, Ujip bertekad merealisasikan  adanya Unit Bank Sampah di semua dusun.  Jika di Desa Lenek ada sejumlah 12 dusun maka,  nantinya ada sebanyak 12 unit Bank sampah. Hal tersebut juga dilakukan untuk menyukseskan program Pemda Lotim mewujudkan program 1 Desa 1 TPS 3R (Reduce, Reuce, dan Recycle).

TPS 3R mengarah kepada adanya upaya mengurangi tumpukan sampah (Reduce), menggunakan kembali Sampah (Reuce), dan mendaur ulang kembali sampah menjadi produk baru (Recycle). Dalam menjalani tahapan 3R ini masyarakat sebgai nasabah dapat menjual langsung ataupun dengan menabung di Bank Sampah.  Bahkan dari sampah yang sudah dipilih dan dipilah serta dijual kepada Bank Sampah oleh masyarakat  juga dikonversikan dengan nilai satuan berat  (gram) emas.

Ujip Dasmon menyampaikan bahwa penimbangan sampah (dari masyarakat di 4 Dusun) saat ini dilakukan perminggu. Kata dia, diiringi dengan upaya sosialisasi terkait dengan manfaat sampah, masyarakat yang sudah mendapat edukasi tersebut kini semakin menyadari bahwa kepedulian terhadap penanganan sampah semakin dirasakan manfaatnya.

‘Saya rasa semua kita pun mengakui dan memahami   bahwa penanganan sampah tersebut sangatlah bermanfaat.  Hal  penting yang dapat diraih manfaatnya adalah :lingkungan bersih, masyarakat sehat, bernilai ekonomis, tertanamnya budaya bersih yang semakin menguat secara berkelanjutan (Sustainable development),”  katanya.

“Sampah organic ini nantinya bisa dibuat sebagai pupuk kompos, sedangkan an organic ini nantinya dipilah kembali untuk  bisa dimanfaatkan lebih beragam yang bernilai ekonomis,” imbuhnya.

Menurutnya, harga sampah anorganic dengan kisaran Rp 1.000 – Rp 35.000,- / kg. Sebutlah sampah berupa plastic yang belum dipilah (campuran) oleh masyarakat dihargakan ntara Rp 1.000 – Rp 4.000/kg, sedangkan yang sudah dipilah dengan kisaran Rp 4.000 – Rp 6.000/ kg. Untuk botol beling Rp 500 – Rp 1.000/kg, aluminium, tembaga (alat elekronik) senilai Rp 35.000/kg. Sementara untuk aluminium murni yang sudah dipilah senilai Rp 11.000/kg.

Untuk itulah, mengingat potensi penanganan sampah yang prospektif ini maka, Pemda Lombok Timur akan menghadirkan teknologi penanganan sampah yang inovatif dan tepat guna. Teknologi tersebut berupa TPS yang dilengkapi dengan mesin 3R yang kemudian dikenal  sebagai  TPS 3R.

3R (Reduce, Reuce dan Recycle), Educe, berarti mengurangi secara berkesinambungan tumpukan sampah yang berserakan di mana-mana. Reuce berarti menggunakan kembali sampah menjadi aneka tas, pot bunga dan lainnya. Sedangkan Recycle berarti mendaur ulang sampah menjadi produk lain yang bernilai ekonomis tinggi.

Untuk penangan Sampah di Lombok Timur akan dihadirkan dalam 1 desa 1 TPS (Tempat Pembuangan Sampah)  3R. Dengan kehadiran teknologi ini, selain masalah kebersihan dapat tertangani, juga dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan.

“Jadi, sangatlah kita apresiasi apa yang menjadi program Pemda Lotim itu dan kita dukung sepenuhnya. Dan hal ini semoga menjadi bagian dari program unggulan setiap Desa,” kata Ujip Dasmon penuh harap. Kusmiardi

Leave A Reply