Berbagi Berita Merangkai Cerita

Dulu Dipaksa jadi Pengemis, Kini Bunga Meraih Haknya Menikmati Pendidikan di Sekolah

89

LKSA sebagai rujukan bagi Bunga untuk meraih hak-haknya di bidang pendidikan

Ayahnya semula seorang sopir truk. Namun lama-kelamaan mulai malas berusaha dan menjadi pengemis yang pura-pura pincang. Karena hasil mengemis yang cukup besar, sang ayah kemudian mempekerjakan pula anaknya, sebut saja Bunga, menjadi peminta-minta. Targetnya Rp 500 ribu sehari sejak Bunga berusia 5 tahun. Ironisnya, jika tidak mencapai target itu Bunga disiksa dan tidak diberi makan. Beruntung Tim PKSAI menemukan keberadaannya hingga Bunga menikmati kembali masa-masa sekolah walau dalam usia yang sudah beranjak 9 tahun.

Bunga masih bermain sepeda bersama anak petugas panti ketika dijumpai berada di Panti Sosial Perlindungan dan Petirahan Sosial Anak Sasambo Matupa di Kecamatan Narmada, Rabu (4/11). Ia seakan berat berpisah dengan kawannya  setelah berada di sana selama 5 bulan.

Namun, hari itu Bunga harus menerima rujukan ke sebuah pondok pesantren di Kecamatan Ampenan. Selama berada di panti tersebut, Bunga menunjukkan banyak perubahan. Dia sudah bisa membaca dan mengaji. Bunga paling awal beranjak ke masjid jika mendengar suara azan.  Karena itulah dia sangat bersemangat ketika diberi pilihan bersekolah di sebuah pondok pesantren.

Lima bulan sebelumnya Bunga ditemukan di jalan membawa kotak amal untuk meminta-minta. Ketika hujan mengguyur, dia tetap saja berada di jalan sejak pagi hingga sore hari. Biasanya Bunga diantar dengan sepeda motor menuju keramaian kemudian ditinggal begitu saja. Ketika menjelang malam dia dijemput. Kondisi itu dijalani selama bertahun-tahun.

Bunga tidak mengenal sosok ibu kandungnya. Sebab, sejak usia dua tahun kedua orangtuanya bercerai. Karena memiliki dua orang anak, Bunga dibawa sang ayah dan sang ibu membawa saudara Bunga yang lain. Namun, kepada Bunga sang ayah yang kemudian menikah lagi, dan selalu mengatakan kepada Bunga bahwa ibunya sudah meninggal dunia. Sedangkan berdasarkan penuturan orang terdekat tidaklah demikian karena ibu Bunga masih hidup.

Kondisi perekonomian yang morat marit membuat sang ayah yang semula sopir truk beralih profesi yang dianggapnya lebih gampang, yaitu mengemis. Hasil mengemis digunakan berfiya-foya dan bermain judi. Ia pun tidak tinggal disatu tempat, melainkan pindah dari satu lokasi kos ke lokasi kos lainnya.

Untuk meningkatkan pendapatan, Bunga menjadi sasaran empuk dijadikan pengemis pula. Target setoran Bunga sebesar Rp 500 ribu sehari atau jika ditotal sebulan Rp 15 juta.  Berdasarkan pengakuan bunga kepada tim Pusat kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI), hasil itu bisa diperoleh jika hari-hari besar. Tragisnya, jika tidak memperoleh pendapatan sebesar itu dalam sehari, bunga mengalami tindak kekerasan dari sang ayahbdan tidak diberi makan.

Penyelamatan yang dilakukan tim PKSAI tidak berjalan mudah. Pasalnya, ketika Bunga diselamatkan, sang ayah terus-menerus mencari Bunga karena terbiasa menjadikannya tumpuan penghasilan. Bahkan berulang kali sang ayah meneror tim PKSI meminta agar Bunga dikembalikan. Kasus itu sendiri sempat ditangani kepolisian. Sementara itu, Bunga lebih merasa nyaman bersama tim PKSAI dan selalu ketakutan jika melihat ayahnya. Terkait ibu tirinya setali tiga uang.

“Ketika dibawa ke panti dia dalam kondisi yang memprihatinkan. Namun setelah menerima bimbingan hingga bunga bisa membaca dan mengaji, dia mulai betah bahkan menemukan teman di sana,” cetus Kasi rehsos Dinas Sosial Kota Mataram, Lalu Aulia Husnurridho, disela-sela penjempuran Bunga untuk dirujuk ke sebuah ponpes.

Setidaknya beberapa layanan yang telah diterima Bunga meliputi penjangkauan untuk Penguatan Anak dan Keluarga dari PKSAI, advokasi dari DP3A Kota Mataram, penguatan Psikososial dari DP3AKB Provinsi NTB, bimbingan dan arahan kepada ayah Bunga dari PPA Polres Mataram, tes kesehatan dari Dikes Kota Mataram, rumah aman dari PSPPSS Provinsi NTB, serta tempat tinggal, pengasuhan dan pendidikan di Ponpes (LKSA) oleh Dinsos Kota Mataram berkoordinasi dengan Kemenag Kota Mataram.

Ketua Panti Sosial Perlindungan Petirahan Sosial Anak Sasambo Matupa Narmada, Ahim Iskandar, mengatakan banyak perubahan yang terjadi pada diri Bunga selama berada di rumah aman. Jika semula ketika pertama kali datang hanya diam, penakut dan pemalu, kini sudah ceria. Semula tidak bisa membaca kini bisa membaca. Sedikit demi sedikit pun bisa mengaji dan selalu rindu berada di mushalla. Perubahan besar lain yaitu mulai berpakaian bersih dan rapi. Hal itu tidak lepas dari bimbingan dan keterlibatan Sakti Peksos dan pendampingan konseling yang diterimanya selama berada di panti.

Bunga sendiri seharusnya hanya tinggal di panti selama dua bulan, akan tetapi karena keadaan yang menimpanya bimbingan diperpanjang hingga mencapai 5 bulan. Menurut Ahim Iskandar, beberapa persoalan yang bisa menjadi kendala panti sebagai shelter yaitu tidak adanya pihak yang siap menjadi rujukan. Dalam kasus Bunga, dia baru menerima rujukan ke ponpes pada November tahun ini.

“Kami memiliki beberapa rujukan seperti sekolah, ponpes (LKSA). Kebetulan ponpes di Ampenan siap menerimanya,” kata Ridho terkait ponpes yang dirahasiakan namanya itu dengan alasan keamanan bagi Bunga. Karena itulah, Bunga yang berminat masuk ponpes mendapat tempat bersama 30 anak-anak perempuan lain yang juga ditampung di sana. Pada Rabu (4/11), Bunga diterima pengelola LKSA (ponpes) setempat.

“Di sini ada jadwal mengaji setiap waktu (selesai shalat),” kata salah seorang pengelola LKSA. Di sana terdapat anak-anak yang berasal dari berbagai daerah di NTB, termasuk 8 anak yang berasal dari Flores. Sementara untuk menghidupi anak-anak, Ponpes itu  mendapatkan bantuan dari pemerintah dan yayasan Darmais setiap tahun.

Melalui ponpes tersebut diharapkan hak-hak Bunga bisa terfasilitasi di bidang pendidikan. Hak lain berupa dokumen akta kelahiran, pihak Dinas Dukcapil Kota Mataram akan turun tangan mengingat masih banyak juga anak-anak panti tersebut yang tidak memiliki dokumen serupa.

“Tinggal nanti anak-anak masuk ke KK nya pengurus LKSA. Sekarang kami meminta data dari ponpes (LKSA), kami akan kirimkan formnya untuk diisi kemudian Dinas Dukcapil akan memberikan layanan,” ujar Ridho yang juga Ketua Sekretariat PKSAI Kota Mataram.

Pelayanan terpadu melalui PKSAI itu lambat laun membuat penanganan kasus-kasus anak lebih gencar dilakukan karena setiap OPD yang bernaung di dalamnya senantiasa menginformasikan jika menemukan kasus baru. Hal ini berdampak pada kian menipisnya pengemis di jalan-jalan Kota Mataram. Pasalnya, setiap laporan yang masuk langsung ditindaklanjuti melibatkan pihak terkait sehingga menjadi efek jera bagi pelakunya. ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.