Berbagi Berita Merangkai Cerita

Dugaan Menghamili dan Penelantaran Anak, Bupati Husni Anggap Fitnah serta Siap Lakukan Perlawanan Hukum dan Tes DNA

0 29

MATARAM, DS – Bupati Sumbawa HM. Husni Djibril angkat bicara terkait dugaan telah melakukan tindakan menghamili Rahmawati (50) yang berujung pada kelahiran seorang anak perempuan bernama MH (30) pada sekitar tahun 1989 lalu. Menurut dia, dirinya berani bersumpah atas nama agama yang dianutnya yakni agama Islam untuk membantah pernah melakukan tindakan bejat tersebut.

“Demi Allah dan demi Rosulluah, saya sekalipun tidak pernah melakukan tindakan yang dituduhkan ke saya itu. Insya Allah, saya siap 100 persen melakukan uji DNA untuk membuktikan kebenarannya,” tegas Husni menjawab wartawan saat dihubungi melalui telepon selulernya, Rabu (26/2).

Ia menduga pelaporan yang dilakukan Rahmawati dan pengacaranya kental dengan muatan politis. Sebab, bagi Husni, kasus ini adalah gimik jelang Pilkada Sumbawa dengan tujuan menjatuhkan nama baiknya yang dilakukan oleh para lawan-lawan politiknya. Termasuk, oknum internal partainya sendiri (PDIP).

“Biasa itu, kelihatan jelas ada kepentingan politik seseorang, hal hal seperti ini diungkapkan ke publik. Ini persoalan aib orang, tapi dipersepsikan seolah-olah saya yang berbuat. Ini kira kira yang akan menjadi bahan bagi mereka untuk mengganjal saya di Pilkada Sumbawa,” ujar Husni.

Politisi senior PDIP itu menuturkan, sejatinya kasus tersebut merupakan kasus lama yang diungkit kembali tahun ini, tidak lepas dari rivalitas politik Pilkada Sumbawa. Bukan kali ini saja Husni ingin dijatuhkan dengan persoalan itu, bahkan dulu ketika ia masih muda dan berkampanye untuk ayahnya kala jadi caleg anggota DPRD NTB sekitar tahun 1987 lalu, kasus ini sempat digulirkan.

Menurut dia, kasus ini kembali digunakan untuk menjegalnya dan menjatuhkan marwah nama dia dan keluarganya. Kasus ini terjadi sekitar tahun 1980 an silam, bahkan sudah diperiksa di Polres Sumbawa dan clear dia tidak terlibat apalagi bersalah.

”Berita ini memang berita sesat. Sesat yang saya maksudkan ini, kalau benar ibu Rahmawati yang melaporkan ini adalah orang yang berperkara dengan saya dulu pada tahun 1980 an. 33 tahun lalu ini digulirkan saat saya butuh kepercayaan rakyat. saya mau dihancurkan lewat ini. kasus ini sudah diperiksa oleh Polres Sumbawa yang periksa saya dulu namanya Sersan Mahdi. Dari A sampai Z, sudah dua kali saya dipanggil saya buktikan apa yang menjadi pengakuan dia (RM) itu tidak benar semua,” jelas Husni panjang lebar.

Ia menjelaskan, tuduhan RM ini adalah fitnah yang keji yang ditunggangi lawan politiknya. Untuk itu, ia berani melakukan tes DNA, bahwa dia bukan bapak dari anak itu, karena memang dia tidak pernah tidur dengan perempuan bernama RM. Tak hanya itu, akan diangkatnya kasus ini lagi sudah ia endus sejak 4 tahun terakhir ini. Dinamika politik Sumbawa terakhir ini hingga sampai tidak diusungnya oleh PDIP pada Pilkada Sumbawa kali ini semakin memperjelas kasus lama ini akan digunakan kembali untuk mencoreng nama baiknya agar ia jatuh di mata rakyat.

Apalagi, kata Husni, saat berkenalan dengan Rahmawati, perempuan asal Kecamatan Utan Sumbawa itu telah memiliki seorang pacar. Dan dirinya mengetahui dengan jelas siapa sosok pacarnya mengingat Rahmawati yang masih belia kala itu, justru sering datang ke tempat dirinya bersama kawan-kawannya berdiskusi dan ngumpul di wilayah Utan.

“Saya bersumpah tidak tahu meski dia (Rahmawati) adalah anak Alas. Awalnya, Rahmawati berkeluh kesah ingin pinjam uang pada dirinya saat bertemu di salah satu hotel di Surabaya. Saya pun tanya uang itu untuk apa? Rahmawati menjawab jika uang itu untuk menggugurkan kandungannya. Sontak, saya enggak mau memberikan karena itu berbahaya di mata hukum baik yang memberi pinjaman maupun pelakunya,” ungkap Husni.

“Aneh, begitu saya balik dari Surabaya menuju ke Sumbawa tiba-tiba dia (Rahmawati) melaporkan saya ke Polres Resort Sumbawa. Sontak, feeling saya saat berpergian untuk menagih hutang ke Jember selama dua hari oleh kawannya bernama Asep Sunarya dan Sulistiyobudi selanjutnya menginap ke Surabaya terbukti,” sambungnya.

Husni pun mencari informasi keganjilan terkait laporan dirinya ke polisi pasca eggan memberikan uang untuk menggugurkan kandungan oleh Rahmawati tersebut. Akhirnya, ia memperoleh bukti jelas jika otak pelaporannya kala itu adalah Ketua Golkar Sumbawa. Dimana, laporan itu diperolehnya dari rekayasa Amin, salah satu anggota DPRD Sumbawa yang bertempat tinggal di Utan.

“Pengakuannya, saya ini dianggap berbahaya. Sehingga, berbagai cara dilakukan termasuk menjadikan Rahmawati sebagai alatnya. Tapi, dua kali diperiksa oleh aparat kepolisian, saya tunjukkan kuitansi hotel dan akomodisi saya menginap yang lengkap dengan KTP miliknya selama di hotel Simpang tahun 1988 lalu. Akhirnya laporan itu mental. Sekali lagi, apapun resikonya saya siap menghadapi tuduhan fitnah yang dialamatkan ke saya ini,” kata Husni.

“Saya enggak mau dibilang pengecut dan takut seperti yang disangkakan dengan kasus ini. Insya Allah, saya siap menghadapi. Termasuk, saya akan membongkar juga siapa otak penggagas kasus ini. Mengingat, DPP sudah melapori ke saya juga akan adanya kasus ini dari oknum internal partai yang bermain pada kasus ini,” tandas Husni.

Terkait kenapa masalah ini kini muncul, ia mengungkapkan sedari awal sebelum pencalonan Pilkada Serentak 2020 kali ini dirinya diminta oleh oknum internal petinggi partai yang menggiringnya untuk mau bergandengan dengan salah satu figur tertentu sebagai bakal calon wakil bupati Sumbawa yang dikehendakinya.

Namun, bagi Husni, pilihan memilih pendamping bakal calon wakil bupati tidak semudah apa yang dibayangkan. Sebab, selain dirinya memiliki elektabilitas yang jauh lebih unggul dari figur manapun yang kini muncul di Pilkada Sumbawa kali ini.

“Saya ini punya akal dan nalar terkait siapa calon wakil bupati yang pantas mendampingi saya kedepannya. Tentunya, figur itu tidak bisa dipaksakan, namun ia harus punya karakter yang baik. Makanya, jangan heran sudah banyak yang datang untuk menawarkan diri berdampingan dengan saya namun tetap saya tolak,” tandasnya.

“Saya tahu kok yang melaporkan ini adalah oknum internal partai saya. Kenapa saya tahu, kan DPP ada yang mengkonfirmasi langsung ke saya siapa-siapa oknum internal partai itu. Yang melaporkan itu mereka menjebak dirinya. Insya Allah, saya siap menghadapi pelaporan itu ke Polda dan siap-siap saya akan melakukan gugatan balik. Termasuk, pada otak dibelakang yang menggagas kasus ini muncul kembali ke peremukaan seperti saat ini,” sambung Husni Djibril. RUL.

Leave A Reply