Berbagi Berita Merangkai Cerita

Dua Puisi H.Dinullah Rayes

45
 MATA BALITA.

bila aku memandang danau matamu
yang jernih dalam kebeningan
izinkan aku mencuci wajah kalbu
dilekati daki dan kerak debu
hingga mataku tak rabun
melihat balitamu dalam kekanakan.

di dua mata pada muka itu
tiada kujumpai iri,dengki dan benci
hasat,dendam,angkuh,cakar dan nanar sirna buih.

para balita di pangkuan bunda
adalah amanah dari Tuhan
peperangan antar saudara
peperangan dahsyat antar negara
akan berakhir seketika
damai menyemai,aman tenteram
bila memandang bening mata balita
tarikan magnit kesejukan
sinar Mahacahaya itu
yang menerbangkan jutaan sayap merpati
hingga anak-anak bangsa
di bawah kolong langitMu
hidup dalam miliyaran tubuh
namun satu ruh seutuhnya
dalam perdamaian dunia
yang Tuhan Maha Indah.

Sumbawa-NTB,
16.01.202I.dr

CATATAN LANGIT BIRU

: Buyung Sutan Muhlis,
berhati literasi yang puitis.

aku menatap atap rumah
Zubair Bontobahari-Iswantari
jauh sebelum sang isteri pergi menghadap Ilaihi
kita sering geliat lidah
mendesis kipas hulu waktu hingga hilir detik ini
bicara pun kembali seputar radius dunia kreatif
Buyung presenter unggul baca puisi
beta baca puisi dilatari proses kreatif
lahir, hadirnya sebuah sajak
Srinata sang Gubernur NTB
gaungkan puisi pilihannya
pentas sarat jempolan dan kepuasan batin
malam itu saya bawa pulang piagam penghargaan
hingga kini suasana harum mewangi itu
masih segar mencair dalam kolam batinku
sebuah kenangan tergenang
dalam potret hidupku yang sepi hangat api
di negeri gerhana matahari ini.

Buyung, duanda tersayang
aku dan kau hari ini dan kapan pun
adalah cermin dan kilatnya
senantiasa hidup beralas ikhlas kaca cahaya.

Sumbawa, NTB, 17.01.2021

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.