Berbagi Berita Merangkai Cerita

Disaat Pandemi, Anak Buruh Tani justru Bangkit Menembus 13 Negara

55

H.Nasrin Muhtar

Ketika perusahaan lain pada kolaps, H.Nasrin Muhtar justru tambah perkasa. Di bawah bendera Tri Utami Jaya, teh kelor dan produk lain dengan paduan kelor, menembus 13 negara. Perjuangan anak buruh tani ini membawa nama NTB turut berkibar ditengah program industrialisasi pemerintah daerah.

“Ketimbang engkau meratapi gelap, lebih baik segera menyalakan lilin,” demikian kata Nasrin mengutip sebuah pernyataan bijak ketika memberikan pengantar pada launching pabrik Teh Kelor di Sweta, Mataram.

Nasrin memang sudah menyalakan lilin, bahkan bukan lagi untuk dirinya sendiri. Pada peresmian Pabrik Teh Kelor yang berlangsung di kediamannya yang juga menjadi tempat usaha, Senin (11/1), hadir Gubernur NTB, pimpinan DPRD NTB dan Kota Mataran, para pengusaha dan sahabatnya. Ia tidak lagi sendiri seperti ketika pertama merintis usaha itu.

Tahun 1993 adalah awal Nasrin menjelajah Lombok. Lulusan SMP ini hanya berbekal pengalaman dengan jabatan terakhir sebagai wakil direktur sebuah perusahaan jamu di Jawa. Tak ada jaringan yang luas, tidak juga kawan sebanyak sebagaimana sekarang. Tetapi, ia terus berjuang dan berusaha.

Seiring perjalanan waktu, berbagai literasi membuka matanya tentang manfaat kelor. Bahkan pohon berdaun kecil  yang sering berada di pinggir jalan dan diklaim milik orang lemah kurang gizi, ternyata punya keistimewaan bahkan distempal sebagai pohon ajaib.

Barangkali inilah langkah pertama yang membuatnya begitu yakin ketika memproduksi teh kelor. Dengan kemasan yang apik, sambutan mulai berdatangan dari pihak-pihak yang bersimpati kepadanya. Para petinggi eksekutif maupun legislatif baik lokal maupun nasional meliriknya. Pelan-pelan jaringannya kian luas menyusul berbagai silaturrahmi dan upayanya mengikuti berbagai kompetisi industri jamu tradisional itu.

Nasrin mengatakan perjalanan bergantung dari langkah pertama.  Lewat teh kelor — yang kemudian berinovasi menjadi berbagai produk berbahan kelor — tidak hanya membuat usahanya menanjak naik, kelor yang selama ini diabaikan ikut menempati ruang penting. Ada tiga hal yang terangkat, usahanya, kelornya dan nama daerahnya.

“Banyak yang bilang kelor simbol kemiskinan. Tapi saya bilang sumber kemakmuran,” ujarnya. Kalau dulu kelor dikenal cuma berada di dapur dan meja  makan, sekarang tidak lagi seperti itu. Tidak hanya di Tanah Air melainkan menembus 13 negara.

“Bicara NTB, erosi lingkungan kelor jawabannya, kelangkaan pupuk juga kelor. Kesehatan stunting dan gizi buruk, pun kelor. Kelor itu pohon ajaib,” jelasnya seraya menambahkan pabrik yang dibukanya menyerap sebanyak 50 tenaga kerja — tentu dampak dari kelor yang ia istimewakan.

Kini kelor diolah dalam jenis produk bergengsi seperti masker daun kelor yang menurutnya hanya  di Korea dan NTB. Pun kelor akan diinovasi menjadi sabun cair dan sabun batang. Selain itu sudah dibuat kopi kelor yang nikmat, biskuit kelor dan dodol kelor.

Untuk mengembangkan bisnis serba daun kelor itu ia memiliki 17 mitra petani dengan 150 hektar lahan yang sudah ditanami dan 3 hektar sudah panen. Berikutnya  ada 1000 hektar yang dalam MoU dengan petani. Pabriknya sendiri memiliki kapasitas tampung 200 ton kelor kering.

Selain MoU dengan mitra petani kelor, juga dilakukan kerjasama pemasaran produk kelor dengan perusahaan dari Jawa Barat untuk 13 negara pemasaran disamping kerjasama bidang penelitian dengan Universitas Muhammadiyah Mataram.  MoU itu sendiri disaksikan Gubernur NTB, Zulkieflimansyah.

Produk kelor yang tidak sia-sia

Dalam kesempatan launching abrik teh kelor, Gubernur Zul mengatakan NTB hanya jalan di tempat tanpa industrialisasi. Industrialisasi menjadi  kebutuhan karena tidak semua orang bisa ditampung di sektor pertanian. Kesejahteraan dan kemakmuran sulit dapat dirasakan oleh sebuah daerah tanpa adanya industrialisasi, sehingga industrialisasi merupakan kebutuhan bagi suatu daerah.

“Industrialisasi bisa dilakukan oleh siapa saja, orang-orang biasa, yang penting punya keinginan dan tekad yang kuat, untuk mengubah nasib,” ucapnya. “Tanaman-tanaman ajaib, di tangan orang yang tepat, bisa menjelma menjadi komoditas yang sangat mahal,” sambung Bang Zul.

Pemprov NTB telah melakukan berbagai upaya dalam mendorong industrialisasi di NTB. Hadirnya industri teh kelor dapat menghadirkan kesadaran pada petani, sehingga para petani tidak lagi terpaku pada jagung karena dengan tumbuhan yang lain, Tuhan menghadirkan insentif ekonomi yang tidak kalah besarnya.

Bagi Nasrin, kesuksesan yang diraih tidak lepas dari peran seorang ibu. Ibu yang mengasuhnya sejak kecil dan kini giliran dirinya menjaga sosok itu diusianya yang sudah renta. Karena pengabdian itu pula, Nasrin turut mengajak kedua orangtuanya berhaji beberapa waktu lalu.

Sosok yang sudah beberapa kali menginjak Istana Negara ini juga tidak berdiam diri terkait pendidikannya. Ketika dulu tertinggal hanya dengan ijazah SMP, kini gelar S2 sudah disandangnya. Tiga kegiatan sekaligus dalam suatu waktu; bekerja, belajar dan mengabdi, bukti bahwa Nasrin tidak merenungi gelap. Ia terus menyalakan lilin. ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.