Berbagi Berita Merangkai Cerita

Dipresentasikan di Depan Sandiaga, Sumbawa Technopark Temukan Alat Deteksi SARS-Cov2

31

FOTO. Gubernur Zulkieflimansyah saat bersama para peneliti dan pimpinan Sumbawa Technopark di Kabupaten Sumbawa yang berhasil menemukan alat dan sistem deteksi dan surveilans virus SARS-Cov2. (FOTO. RUL/DS.}

MATARAM, DS – Sumbawa Technopark di Kabupaten Sumbawa, Provinsi NTB, berhasil membuat sistem deteksi dan surveilans virus SARS-Cov2. Menariknya, alat yang didedikasikan untuk memulihkan sektor pariwisata di NTB tersebut telah dipresentasikan secara langsung dihadapan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dan Gubernur NTB Zulkieflimansyah di Bandara Sultan M Salahudin Bima, Senin (14/6).

Direktur Sumbawa Technopark, Kiki Yulianto, mengatakan hadirnya sistem itu diantaranya untuk memulihkan sektor pariwisata di NTB. Terlebih, NTB akan menjadi tuan rumah sejumlah agenda internasional seperti World Superbike dan MotoGP Mandalika.

Dari presentasi tersebut, Kiki berharap Kemenparekraf dapat memberikan bantuan berupa penambahan fasililitas alat yang dibutuhkan untuk menjalankan program sistem deteksi dan surveilans virus SARS-Cov2.

“Alat yang kami ciptakan ini kami dedikasikan untuk mendukung program pariwisata di NTB dan mengembalikan kepercayaan wisatawan untuk berwisata di NTB,” ujarnya pada wartawan, Selasa (15/6).

Kiki menyatakan, penemuan itu merupakan hasil kontribusi Ali Budhi Kusuma lulusan S-3 Mikrobiologi dari Newcastle University, Ari Pribadi lulusan S3 Air Pollution and Environmental Science King’s College London & Imperial College dan Haryandi ahli madya lingkungan kerja.

Sistem tersebut menggunakan seperangkat alat pengecekan keberadaan partikel virus SARS-Cov2, termasuk deteksi varian baru dari virus tersebut.

“Jadi, sistem ini menggunakan serangkaian alat yang terdiri dari air quality sampler, Real-time Polymerase Chain Reaction (RT- PCR) dan Ilumina Sequencer,” kata Kiki.

Ia mendaku, alat Ilumina Sequencer itu harganya bervariasi antara Rp 2 miliar sampai Rp 4,5 miliar. Di mana, fungsinya untuk mengetahui cetak biru (blueprint) suatu makhluk hidup dalam bentuk urutan kode genetik (DNA).

Selain itu, lanjut Kiki, aat tersebut juga berfungsi untuk memetakan keseluruhan materi genetik virus SARS-cov2 dan memantau keberadaan varian baru dengan mengacu kepada cetak biru virus SARS-Cov2 yang ditemukan pertama kali.

“Karena mahalnya alat ini, tentu kami membutuhkan bantuan dari pemerintah. Salah satunya Kemenparekraf,” ucapnya.

Kiki menambahkan, dengan telah ditemukannya alat tersebut, maka kepercayaan wisatawan untuk kembali datang ke NTB dapat meningkat kedepanya.

“Dengan begitu, jelas akan berdampak pada ekonomi masyarakat. Khususnya, yang berada di sekitar destinasi wisata di NTB,” tandas Kiki Yulianto. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.