Berbagi Berita Merangkai Cerita

Dinsos NTB Advokasi Anak Penerima PKH Bisa Lanjut Kuliah

92

MATARAM, DS – Sebanyak 91.247 anak kelas XII jenjang SMA/SMK di wilayah NTB masuk data anak penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial. Direncanakan, anak-anak yang berpotensial itu akan difokuskan masuk ke perguruan tinggi. Saat ini, advokasi dan motivasi pendamping sosial sedang berproses.

“Untuk itu, Dinas Sosial Provinsi NTB mendukung anak PKH Akses Kartu Indonesia Pintar (KIP) bisa melanjutkab studi mereka ke perguruab tinggi,” ujar Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, H. Ahsnul Khalik, MH dalam pesan tertulisnya, Selasa (30/6).

Mantan Kalak BPBD NTB itu mengatakan, adanya keterbatasan yang mendera penerima manfaat bantuan sosial (Bansos) Non Tunai PKH menyebabkan pihaknya perlu melakukan  pendampingan secara serius.

Hal ini dimaksudkan guna untuk mewujudkan derajat dalam lingkungan sosial. “Sesuai esensi pendampingan program PKH adalah meningkatkan derajat kesehatan dan pendidikan, masih dalam batasan komponen bersyarat. Salah satunya tentang pendidikan, komponen yang diakomodir dalam anggota keluarga penerima manfaat batasanya sampai jenjangSMA/SMK,” jelas Ahsanul.

Ia menegaskan, pendampingan PKH tidak akan tuntas, manakala generasi itu tidak ditopang dengan pendidikan secara tuntas.

Sehingga,melalui kesempatan KIP Kuliah, maka advokasi pendampingan program PKH, berinisiatif untuk mengadvokasi mereka. Hal ini, agar generasi yang sudah tamat jenjang SMU/SMK bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

“Saya mendukung gerakan SDM PKH untuk mengadovakasi dan edukasi, anak KPM PKH mengakses KIP Kuliah agar generasi  bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi,” kata Ahsanul.

Ia menjelaskan, pada metode progresif yang sangat penting diperhatikan. Yakni, pemetaan data siswa PKH kelas XII Potensial Kuliah di 10 pemda kabupaten/kota di NTB.

Nantinya, data yang merujuk komponen di E-PKH akan terus disosialisasikan gerakan ‘Ayo Kuliah’ untuk mewudujkan generasi cerdas untuk menuju anak NTB Gemilang.

“Menyusun pembobotan dan melakukan perengkingan potensial dengan indikator prestasi akademik, motivasi,kemauan, kesungguhan siswa dan terkahir dukungan orang tua akan terus kita masifkan,” jelas Ahsanul.

Selain itu, kata Ahsanul, koordinasi dengan Dinas Sosial di 10 kabupaten/kota dan perguruan tinggi juga harus dimaksimalkan. Sebab, kejelasan input, proses dan  output pendampingan tersebut bisa terukur dan terorganisir.

“Inisiasi ini, adalah bentuk perjuangan lain dari pegiat sosial pada pendamping program PKH. Yakni, tidak melihat ini sebagai beban. Mengingat, esensinya sama karena, meningkatkan derajat pendidikan anak PKH melalui pendidikan yang layak akan mampu memutuskan rantai kemiskinan antar generasi bisa terwujud,” tandasnya.

“Jadi, program PKH memiliki SDM pilihan, karena memiliki ikrar menjadi SDM yang santun, integritas dan profesional,” sambung Ahsanul.

Ia percaya para pendamping PKH akan bisa mengadvokasi generasi PKH guna menjadi generasi harapan untuk NTB Gemilang. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.