Dinsos Kota Mataram Dampingi 1.502 Disabilitas

Zulfa Nur Azizah

Mataram,DS-Sebanyak 1.502 disabilitas di Kota Mataram menerima pendampingan dalam berbagai sisi dari Dinas Sosial setempat. Melakukan program itu, Dinsos menebar enam pendamping dalam melakukan pendataan sekaligus memotivasi, memasilitasi dan melakukan pemenuhan kebutuhan warga berkebutuhan khusus itu seperti pemenuhan dokumen adminduk.

Kasi Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Penyandang Disabilitas dan Korban Nafza Dinsos Kota Mataram, Zulfa Nur Azizah, Senin (16/1), mengatakan hingga Desember 2022 terdapat sebanyak 1.502 warga disabiitas di ibukota provinsi itu. Mereka menerima pendampingan untuk membangun kepercayaan diri bahwa pemerintah memerhatikannya.

Menurut Zulfa, sebelum tahun 2020, Dinsos melakukan pelatihan keterampilan kapada disabilitas seperti skill dalam bidang kuliner, pembuatan kerajinan tangan, dan lain-lain. Bagi yang tidak bisa dilatih karena fakor keterbatasan dan usia, diberikan bantuan sembako.

Namun, sejak 2021 Dinsos tidak diperkenankan lagi melakukan pelatihan keteramplan kecuali penguatan mental disabilitas dan keluarganya. Karena itulah, pihaknya bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) dan Baznas untuk memberian pelatihan. Selain itu, memberikan biaya sekolah dan pakaian seragam maupun alat kerja seperti kursi roda, alat bantu dengar dan tongkat.

“Selain bantuan APBD II juga ada bantuan Kemensos berupa bantuan usaha. Tugas Dinsos dalam hal ini memantau dan menyuport agar usahanya berhasil. Itu pada akhir 2021,” katanya.
Zulfa mengakui tingkat keberhasilan tidak terlalu tinggi karena kondisi ekonomi keluarga disabilitas rata-rata sangat minim yang berdampak pada proses perputaran modal.

“Kedua mereka belum punya jiwa yang kuat berwirausaha,” ujar Zulfa seraya menegaskan bahwa target terpenting adalah warga disabilitas merasa mampu berbuat dan punya usaha untuk membangun rasa percaya diri.

“Artinya sukses mereka berjualan itu bonus. Targetnya agar mereka diakui keberadaannya. Karena rata-rata mereka tinggal bersama keluarga sehingga ada perasaan sebagai beban,’ katanya.

Zulfa mengatakan salah satu pesoalan bagi disabiltas adalah ruang gerak yang terbatas. Karena itu, dalam usaha perkiosan mereka berjualan di rumah yang kecenderungannya menunggu pembeli.

Terkait perubahan yang diharap Dinsos dari usaha disabilitas, Zulfa mengatakan agar mereka bisa mandiri secara ekonomi. Persoalannya, hal itu sifatnya tidak memaksa.

“Kita membangun mereka pelan-pelan supaya mereka merasa dulu keberadaannya mendapatkan perhatian pemerintah. Itu sudah luar biasa bagi mereka,” paparnya.

Walau sebagian besar bantuan usaha sebesar Rp 1,9 juta habis, kata dia, ada juga yang modalnya masih berputar. Keberhasilan disebabkan dukungan dari keluarga yang membantu dan mensuport usahanya.

“Seperti memberi semangat dan membantu usaha, serta tetangga yang juga memberi semangat untuk berbelanja. Itu memengaruhi apakah usahanya akan bertahan atau berkembang,” katanya.ian

Facebook Comments Box

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.