Membangun Masyarakat Cerdas dan Berwawasan Luas

DIALOG IMAJINER DENGAN CORONA, Ali Bin Dachlan. Mantan Bupati Lombok Timur

0 1

Suatu sore, di bulan Sakban tahun ini, aku sudah merencanakan berkunjung ke rumah ayahku. Telah lama kurindukan ayahku, setelah beberapa tahun beliau tinggal seorang diri sejak ibuku meninggalkannya terlebih dahulu beberapa tahun sebelumnya. Selama ini aku agak kesulitan berhubungan dengannya karena beliau tinggal di suatu tempat yang belum dapat dijangkau pesawat telepon.

Di halaman rumah yang luas, aku diajak menuju ruangan tempatnya tidur. Melalui deretan ruangan kamar yang berjajar rapi, sampailah aku ke tempat yang lebih tinggi dari sebuah bangunan yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Ayahku menunjukkan kamar yang besar dan lebih tinggi dari kamar lainnya. Kutanyakan padanya, :mengapa ayah memilih kamar yang tinggi ini?” Ayahku mengatakan bahwa tempat ini lebih nyaman karena beliau dapat melihat pemandangan yang indah di sebelahnya.

Memang aku juga diperlihatkan taman yang luas di sampiang kamar yang besar dan tinggi itu.

”Ayah akan kupasangkan telepon, agar aku dapat menghubungi ayah setiap saat,” kataku.

“Terserah padamu saja, nak,” jawab ayahku.

Aku mulai merinding dan bulu kudukku bangun ketika kutulis mimpiku ini.

Banyak orang bilang, mungkin ayahmu mengajakmu agar segera hidup bersamanya di alam barzah. Mungkin juga kamu jarang memanjatkan doa kepada Allah untuk keselamatannya di alam barzah. Ah, rasanya aku sering mendoakan beliau setiap aku selesai solat lima waktu. Mungkin ada sesuatu yang salah pada diriku sejak 32 tahun lalu ketika ayahku dipanggil pulang oleh Khaliq Yang Maha Agung. Oh, ayah maafkanlah kesalahan anakmu ini.

Aku terbangun diantara mimpiku yang sangat dahsyat yang kupastikan ada maksud dan firasat pada diriku sendiri: mengapa dalam mimpi ini terlalu nyata kulihat tempat ayah, terlalu nyata wajah ayah memperlihatkan wajah bahagia, dan terlalu nyata dialogku sambil tanganku dibimbingnya melihat tempatnya yang agung dan misterius itu.

Aku antara sadar dan tiada, antara penglihatanku nyata atau tiada. Dan, ketika gerimis malam Jumat ini berubah menjadi hujan lebat, butir air hujan yang menerpa kaca jendela kamar tidurku menarik penglihatanku samar-samar ke arah jendela. Dalam gelap yang disinari kilatan petir, tampak sesosok mahluk duduk di sudut ranjangku di antara jendela dan tempat dudukku. Diantara sadar dan setengah bangun, bulu kudukku terangkat kembali mengingat mimpiku di malam Jumat ini, di akhir bulan Sakban tahun ini.

Astagfirullah, “Ya Allah ampunilah aku, ampunilah kesalahan dan dosa ibu dan bapakku dan kelurgaku, astagfirullah…” aku berusaha menenangkan diriku.

Astagfirullah, aku mulai tenang. Dan sosok mahluk itu yang masuk ke dalam kamarku, ditengah malam yang sunyi, dini hari jam 03,35 menit. Mahluk itu menampakkan dirinya sebagai manusia lelaki, putih, tenang, diam, dan menatapku dengan penuh tanda tanya.

Pikiranku teringat pada mimpiku beberapa menit yang lalu; apakah ini malaikat yang akan membawaku ke rumah ayahku, mengapa mahluk ini dapat memasuki kamarku yang terkunci rapat? Kuberanikan memulai berbicara dengan mahluk misterius itu.

“Assalamulaikum warahmatullahwabarakatuhu, Om swastiastu, salam kebajikan, salome, salam sejahtera untuk kita semua”.

Mahluk itu tidak menjawab seketika. Barulah setelah beberapa saat, keluar suara yang kecil, seperti suara bisikan di telingaku.

“Apa agamamu?” Kujawab agamaku Islam. Mahluk itu menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa agamaku bukan Islam, tetapi agama campur sari.

“Salam yang kau ucapkan kelebihan panjang, tidak ada dalam agama Islam, ini pasti agamamu campur sari. Aku tidak dapat menjawab salam seperti itu, tidak pernah kudengar di dunia mana pun.”

Aku mulai ketakutan dengan mahluk itu yang menolak diriku sebagai seorang Islam karena salam yang kuucapkan merupakan salam dari agama-agama lain.

”Maaf, mahluk, sebenarnya siapa anda? Apakah utusan yang ingin menjemputku, apakah anda corona? Apakah anda Covid 19. Apakah anda jin siluman?”

“Aku hanya mahluk seperti anda semua manusia, aku diciptakan oleh Allah seperti anda para manusia, jin dan semua isi alam ini”.

Aku mulai sadar, inilah corona yang sedang menggila di seluruh dunia. Dan, malam ini memasuki kamar tidurku lalu ditakdirkan dapat berbicara layaknya sebagai mahluk manusia. Ini kesempatan aku akan berdialog dan bila perlu berdebat dengan mahluk ini.

(Pertanyaanku mulai dengan asal usul si mahluk dan tujuannya datang untuk apa).

“Saya datang dari Wuhan dan sekarang telah ditunjuk sebagai liaison officer untuk wilayah Asean yang kantor pusatnya di Jakarta. Tugas saya datang ke negaramu adalah untuk memberi pelajaran agar mengerti makna kebaikan dan kebenaran,” katanya membelah kesunyian.

“Di negeriku ini, tidak perlu diberi pelajaran. Sudah banyak orang pandai, banyak profesor, kyai haji, ulama, tuan guru, ustadz. Pokoknya di sini, di negeriku tak perlu diberi pelajaran, banyak orang alim yang doa-doanya akan dikabulkan oleh Tuhan. Sebaiknya ente pergi saja ke daerah lain seperti Israel, Amerika atau negara Eropah yang dahulu menjajah bangsa bangsa lain, termasuk bangsaku,” kataku.

“Jika ada satu saja orang alim, yang bersih tauhidnya, yang hanya takut kepada Allah saja, tidak cinta dunia, tidak cinta kemewahan, tidak cinta pujian, tidak cinta kedudukan, tidak cinta harta dunia maka satu orang itu doanya akan diterima oleh Allah. Tetapi coba carikan saya orang alim seperti itu di negerimu maka aku akan datang dan memohon petunjuk darinya. Saya tidak yakin di negerimu ini ada orang yang takut hanya kepada Allah. Bukankah orang orang yang takut kehilangan jabatan, kedudukan, privilage, adalah juga dari para kyai di negerimu? Ulama koq menganjurkan orang jangan ke mesjid, jangan solat Jumat, jangan solat berjamaah, jangan haji, apa artinya itu? Mereka takut padaku dan teman temanku. Ingat mesjid harus didirikan oleh orang yang suci jiwa dan tujuannya. Ingat orang-orang yang takut selain pada Allah tidak boleh ke mesjid, pastilah dia tergolong orang musrik. Baca surat Attaubah ayat 17. Seandainya mereka benar-benar bertauhid yang bersih, hanya takut kepada Allah sebenar-benarnya takut, kamilah yang paling takut padanya, kami pasti melarikan diri dari negerimu”.

”Ente jangan hanya mengeritik orang alim di negeriku, di Arab Saudi juga dilarang orang datang ke Masjidil Haram, Mesjid Nabawi, kecuali para pengurusnya saja yang tetap solat disana, bagaimana itu menurut pendapat ente”.

“Di sana masih lumayan baik, tapi baiknya sedikit karena yang ke mesjid hanya pengurusnya yang tetap solat di mesjid, karena mereka sebagai PNS yang digaji. Di sini? Jangankan para pengurus mesjidnya, semuanya ngumpet dengan adanya PSBB. Juga di Arab sana, sudah jarang orang sembahyang, mereka mengutamakan kemewahan duniawi, mereka suka emas, pakaian yang indah bangunan tertinggi di dunia seperti di Dubai. Di Arab Saudi keluarga kerajaan saling tangkap untuk merebut kekuasaan, jarang mereka sholat, kecuali ada tamu saja baru mereka pura-pura sholat. Uang yang berlimpah dihamburkan membeli senjata Amerika, untuk membunuh orang Islam di Yaman dan membunuh Jamal Khasogi, bagaimana mereka layak untuk dibantu?”

“Ente akan kesulitan memberi pelajaran karena pemerintah melakukan PSBB, pemerintah menyiapkan 400 T untuk mengatasi akibat dari kekacauan ini. Pemerintahan di negaraku baik sekali, cinta pada rakyatnya dan sigap mengatasi masalahnya,” sahutku.

“Mana uang 400 T itu. Mungkin sudah cair, tapi terlebih dulu untuk membayar petugas, biaya rapat, biaya iklan di tv, biaya spanduk yang dipasang di sana sini. Biaya semprot jalan, pohon, mobil dan gedung. Emangnya saya dan teman saya ada di jalan yang panas? Ada di dedaunan dan dinding dinding gedung? Tidak. Kami tidak ada di sana, kami ada di dalam panas tubuhmu, di dalam darahmu. Kalau ada 400 T, mengapa orang orang miskin hanya diberikan nasi bungkus? Berapa sih harga nasi bungkus? Kalau benar 400 T untuk mereka yang kehilangan pekerjaan, mengapa hingga sekarang, mereka belum diberikan? Saya tahu di negerimu banyak rapat, banyak Surat Keputusan, banyak tanda tangan, banyak prosedur, tapi saya dan teman saya tidak pakai prosedur, terus merangsek kedalam paru-paru dan jantungmu, kami tidak digaji, hanya menjalankan tugas saja,” urai Corona.

“Jangan ente remehkan pemerintahan di negeriku, buktinya semakin banyak orang yang sembuh dari akibat perbuatanmu yang sangat mengganggu kami,” sergahku.

“Berapa orang yang sembuh? 650? (17/4/20), tapi berapa jumlah yang mati? Laporan itu tidak benar, karena jumlah yang kubunuh jauh lebih besar, hanya tidak dilaporkan ke panitia pencatat yang telah dibentuk oleh pemerintahmu. Jumlah orang yang telah kugerogoti kerongkongannya jauh lebih banyak, tapi tidak dilaporkan ke panitia tukang catat. Bagi kami dicatat atau tidak dicatat, kami akan tetap menjalankan tugas yang mulia ini”.

“Ente membunuh orang yang tak berdosa, apakah ente menjalankan tugas yang mulia?” ujarku

“ Aku tidak akan membunuh orang yang tidak berdosa. Aku tidak membunuh orang miskin dan menderita, yang kusasar adalah orang munafik, orang yang menggunakan agama dan nama Tuhan untuk mencapai kejayaan dunia, mereka adalah orang rakus, tamak dan musrik. Orang korupsi yang menjual kemiskinan untuk kepentingan diri dan keluarganya. Coba kamu lihat di Wuhan, banyak orang miskin, orang Islam yang tulus justru selamat dari serangan kami, mereka harus dikasihani”.

“Saya yakin pemerintah di negeriku mampu melawanmu, berapa saja jumlah temanmu, karena pemerintahan di negeriku sudah menemukan strategi dan langkah-langkah yang jitu untuk itu”.

“Saya tahu apa yang kamu jelaskan padaku, tapi apa hasilnya? Negaramu hanya berhasil membuat akronim-akronim yang tidak akan ada manfaatnya, yang tak dimengerti oleh dirimu sendiri, seperti PSBB, OPD, APD, DPD, DPRD, DKD, ODP dan lain-lainnya. Juga negaramu sangat rajin merilis jumlah hoaks yang berkaitan dengan corona, bukankah hal itu juga ada baiknya untuk meningkatkan kewaspadaan? Negaramu terlalu rajin menghitung jumlah cheking point, tetapi mengapa bukan hasilnya yang dilaporkan? 400 T. Mengapa belum ada APD? Dimana uang sebesar itu? Memang ini bukan urusanku, aku bukan BPK atau KPK, aku hanya bertugas menjalankan misi yang ditugaskan padaku oleh yang menciptakanku”.

“Kalau demikian apa yang harus dilakukan oleh pemimpin-pemimpin kami?” kataku.

“Para pemimpinmu, berhentilah memanfaatkan kedatanganku dengan menyanyikan lagu corona, menyerahkan bantuan sambil membawa kamera televisi, semuanya itu hanyalah untuk mencari popularitas dengan cara menampakkan diri di setiap hari di layar televisi. Berhentilah menghamburkan kata-kata akan melakukan itu dan ini, sementara saya dan rombongan saya tidak memberi tahu kepada siapa saja akan gerakan kami yang sangat cepat. Berhenti berbohong pada orang miskin, berhentilah mencari keuntungan pribadi berkaitan dengan kedatanganku. Sadarlah kamu semua pemimpin, bahwa ucapan ucapanmu lahir dari kesadaran dan kejujuran dan keikhlasan. Benar-benar takutlah kamu kepada Tuhanmu. Dan setelah saya pulang nanti, kamu semua menjadi manusia yang baik, lahir dan batin”.

Aku terkesima dengan petuah mahkluk-misterius itu, kesadaranku, penglihatanku kini telah pulih sepenuhnya dan suara hujan telah hilang, kamar tidurku sepi dalam remang subuh yang misterius, bayangan itupun hilang dari tatapan mataku, dan azan subuh terdengar sayup dikejauhan. Aku mulai mengambil air wudhu menenangkan diriku dari wajah buram dan menakutkan yang baru saja menerpa diriku. Makhluk itu memang benar adalah corona yang sangat mengerikan.
Selong, 18 April2020.

Leave A Reply