Berbagi Berita Merangkai Cerita

Desa Ketangga, Kaya dengan Destinasi Wisata Budaya-Religi

45

Masjid Pusaka Desa Ketangga

SELONG, DS -Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur kaya dengan potensi kearifan lokal budaya-religi. Dikenal sebagai pusat Kerajaan Selaparang, desa ini banyak meninggalkan nilai-nilai religi yang sangat bermanfaat bagi generasi masa kini, bahkan bagi generasi berikutnya. Mulai dari petatah petitih hingga situs budaya religi.

Kalau mendengar kalimat “Lebur Anyong, Ta Saling Sedok”, tulisan tersebut tak perlu dicari kemana-mana, karena terpampang di Halaman Kantor Desa Ketangga. Adalah satu dari sekian banyak nilai luhur masyarakat yang berbudaya dan beragama. Terkandung di dalamnya ada saling kepedulian, tali silaturrahmi yang kuat, dan kegotong-royongan.

Dari aspek budaya, dikenal sebagai wilayah agraris, dan dari sinilah sesungguhnya awal sistem pertanian anak tangga/kontur/terasering (undag-undag : Sasak), sejak pertama kali dibuka menjadi pemukiman, di samping itu ditemukan juga banyak pohon jarak (Ketangan : Sasak). Dari kedua istilah agraris inilah yang menginspirasi untuk menamakan wilayah ini menjadi Desa Ketangga.

Keseharian masyarakat Desa Ketangga dimasa dahulu hidup rukun sebagai insan yang berbudaya dan beragama, dalam nuansa masyarakat yang agraris (bertani-beternak) religius (mengaji-sembahyang). Inilah kemudian yang mendasari dan banyak mewarnai tradisi budaya masyarakat Suku Sasak yang sering disebut dengan budaya : Nggaro-Ngarat-Ngaji (yang berarti Bertani, Beternak, Mengaji).

Tokoh masyarakat dan Ketua Krama Adat Desa Ketangga, M.Jaelani, S.Pt., Selasa (27/07/2021), pemaparan kemungkinan Desa Ketangga menuju Destinasi Wisata Desa. Kata Ketua BPD Desa Ketangga ini, kondisi Ketangga menjadi potensi yang layak diangkat karena memiliki banyak situs bersejarah masa lalu..

“Kami dari masyarakat (tata krama adat), pemuda dan lainnya telah sering melakukan sharing untuk memperkenalkan menumbuh kembangkan potensi sumber daya kearifan lokal seperti halnya situs-situs bersejarah. Karena itu l, kami pun bersama Pemerintah Desa dalam waktu dekat membentuk Pokdarwis,” tutup alumni Fakultas Peternakan Universitas NW Mataram ini (Kus).

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.