Berbagi Berita Merangkai Cerita

Derita Warga Korban Penggusuran, Tak Miliki Rumah dan Andalkan Puing

0 31

“Ya, namanya nasib orang kecil,” ujar Muhsin, Ketua RT 08 Lingkungan Pondok Prasi, Kelurahan Bintaro Jaya, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram menjawab wartawan, Selasa (7/1). Pria paruh baya itu jadi salah seorang korban penggusuran oleh pihak penggugat yang dilakukan oleh Panitera PN Mataram.
Rumahnya yang terletak di salah satu kampung nelayan tradisional di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram itu, rata dengan tanah. Menurutnya, tindakan penggusuran itu dilakukan karena ada putusan pengadilan yang salah.

FAHRUL MUSTOFA – MATARAM

Sore itu, Muhsin mengamati rumahnya yang sudah rata dengan tanah dari seberang jalan. Rumah yang ditinggalinya sejak era Gubernur NTB terdahulu H. Harun Al Rasyid itu sudah jadi reruntuhan. Ia kelelahan setelah mencongkeli besi-besi kolom rumahnya dari pagi dan dia digantikan oleh putranya.

Muhsin masih bertahan di lokasi penggusuran, coba memungut remah-remah rumahnya yang dirasa masih punya nilai. “Itu besi kolom yang diambil buat bangun lagi. Hari gini harga besi selangit kalau mau beli. Satu biji sudah berapa duit,” kata dia.

Ia bersama tiga orang anak dan empat cucunya yang masih kecil, harus berjejalan tinggal di kediaman saudaranya. Besi-besi tadi ia punguti untuk menghemat biaya seandainya suatu hari nanti dia bisa kembali membangun rumah.

“Kami akan tetap bertahan memperjuangkan keadilan. Karena memang ada keganjilan pada putusan majelis hakim di MA,” tegas Muhsin.

Ia tak malu mengakui dirinya membutuhkan puing-puing bahan bangunan yang masih bisa berguna. Namun, Muhsin tak pelit. Kehilangan rumah, ia masih mengizinkan pengepul barang rongsokan untuk turut memunguti puing-puing rumahnya.

“Kami juga butuh sebetulnya. Tapi, dia juga butuh. Lagian kalau kami sendirian nyongkelin, sepi, enggak ada teman ngobrol,” ujar Muhsin.

Penggusuran yang berlangsung pada Senin (6/1) sejak pagi hari hingga petang itu, membuat kesedihan pada sekitar 63 KK warga setempat. Mereka memilih enggan direlokasi ke lahan milik Pemkot Mataram.

Sehingga, jalanan yang berada di sebelah selatan rumah warga yang dieksekusi, disulap menjadi tenda dan dapur umum. “Kalau saya terpaksa menginap di emperan rumah warga yang tidak tergusur,” kata Egis, salah satu warga setempat.

Ia yang ditemui tengah mengumpulkan kayu kaso di lahan bekas rumahnya untuk dilego. “Bukan rumah, saya mah gubuk reot,” ungkap Egis.

Sejumlah bahan bangunan yang sebetulnya berharga baginya untuk membangun rumah baru di tempat lain suatu hari nanti, seperti genting, asbes, dan pintu, hancur dilindas alat berat.

“Enggak sempat, sudah keduluan (alat berat) juga. Tadinya kirain masih dikasih satu minggu gitu. Bongkar isinya saja enggak keburu, belum keambil. Baru ranjang sama lemari. Hancuran asbes mah enggak laku dijual juga,” jelas Egis.
Ia pun kehabisan rongsokan buat dijual. Ia dan rekannya baru mulai “menambang” rongsokan pada Selasa (7/1) pagi, sedangkan sejumlah pengepul barang rongsok telah bergerilya sejak Senin malam. “Baru tadi pagi mulai. Semalam saya malah ketusuk paku. Ini saja pada lecet. Rongsokannya pada tertimbun asbes,” tandas Egis.

Ia berharap agar pemkot tidak menutup mata terkait kondisi sebanyak 63 KK tersebut. “Kami siap direlokasi asal jangan kami digabungkan dengan warga lainnya yang sudah direlokasi ke Huntara di Bekicot. Disana itu, tanah rawa, rawan penyakit. Apalagi saat ini adalah musim penghujan,” pungkas Egis. (**).

Leave A Reply