Berbagi Berita Merangkai Cerita

Demi Sekolah, Dewi Berjalan Kaki 6 Kilometer

0 78

Demi meraih cita-citanya, dia bersekolah dengan berjalan kaki sejauh 6 kilometer menuju SMKI (Sekolah Menengah Kejuruan Islam) Yasnuhu NW Ponpes Al-Mubarok Pringgabaya, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur (Lotim). Sekolah yang menggratiskan siswanya itu, betul-betul diimanfaatkan oleh warga miskin wilayah setempat.

Bagi Dewi Rohayati, sekolah gratis merupakan kesempatan emas. Pasalnya, putri pasangan Ripuan dan Yuliani dari Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya ini ingin meraih cita-citanya.

Kemiskinan mengharuskan ayahanya pernah merantau ke Malaysia (perkebunan sawit) dan saat ini di Saudi Arabia (sebagai sopir) untuk menjemput rezeki. Sementara ibunya sebagai buruh serabutan, kadang mengambil upah menyiang/menyabit rumput/gulma di bendengan sawah (ngeder : sasak) atau ikut membantu para nelayan menangkap ikan memakai jaring (ngerakat : sasak).

Bersama Ibu dan dua orang adiknya yang bertempat tinggal tidak jauh dari perkampungan pesisir pantai. mereka tegar menjalani hari-harinya dengan apa adanya, termasuk sanggup berjalan kaki sejauh 6 km. Di bawah panas terik mentari, dia terus melangkahkan kakinya dengan penuh ketegaran, keikhlasan, yakin, sabar dan istiqomah disertai do’a Ibundanya

“Sejak duduk di bangku SMP saya berjalan kaki, Pak,” kata alumni SMPN 1 Pringgabaya ini, Sabtu (25/2/17). Dewi berangkat dari rumahnya ba’da shalat Subuh, sehingga selama ini dirinya tak pernah terlambat. Saat ini, kata dia, kalau ada uang (ongkos) baru naik ojek atau cidomo dari perempatan Pohgading. Namun, kondisi keuangan tersebut tak selalu ada karena lebih sering tak ada ongkos sehingga harus melanjutkan berjalan kaki.

Ketika Duta Selaparang menanyakan cita-citanya, Dewi menyebut ingin jadi penegak hukum dan pelindung masyarakat. “Saya ingin jadi polisi, Pak,” kata gadis berumur 14 tahun berpostur tinggi semampai ini.

Sementara itu, Ustadz M.Husni Mubarok, QH., S.Pd.I., Pimpinan Yasnuhu, mengakui bahwa Dewi Rohayati termasuk santri andalannya karena berprestasi. “Orangnya tak pernah terlambat. Dia rangking I dan itu yang membuat kami salut. Ini amanat dari Allah SWT untuk terus mensuport hingga tercapai cita-citanya,” kata alumni IAIH Lotim ini.

Kemiskinan mengkondisikan Dewi terus melangkah berjalan kaki menelusuri jalan di antara alat trasnportasi yang tersedia memadai. Allah telah memberikan kesempatan serta kemudahan bagi dirinya untuk meniti harinya penuh semangat untuk meraih cta-cita.kusmiardi

Leave A Reply