Berbagi Berita Merangkai Cerita

Daya Tolak Anak KLU terhadap Perkawinan Anak Kian Menguat

21

Foto Pesan pencegahan perkawinan anak yang dilakukan Forum Anak Desa Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, KLU

KLU,DS-Daya tolak anak-anak terhadap perkawinan anak di Kabupaten Lombok Utara kian menguat. Menyusul Kongres Anak Indonesia yang berlangsung secara daring, Forum Anak Tegal Maja bahkan menyebarluaskan informasi terkait bahayanya perkawinan anak.

Forum Anak Desa Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, KLU, Rabu (23/9), memasang spanduk finil berisi bahaya menikah usia anak. Pemasangan spanduk tersebut dilakukan di obyek pariwisata Air Terjun Sekoah Leong Timur desa setempat.

Ide ini berawal dari penyusunan rencana aksi forum anak yang salah satunya berupa sosialisasi pencegahan perkawinan anak di desa.

Semula hanya dipasang poster berukuran kecil menggunakan kertas hvs yang dilaminating dan dipajang di pohon. Namun, upaya sosialisasi di batang pohon itu menerima reaksi pencopotan dari Pokdarwis karena dinilai merusak pohon.

Akhirnya forum anak membuat vinil berukuran besar yang dipasang Senin tanggal 21 September 2020.

Hal ini cukup menarik perhatian publik di obyek wisata itu mengingat gambar dan pesan yang disajikan cukup mengena. Terlebih pengunjung dihari biasa mencapai 10 – 15 orang dan hari libur 20 sebanyak orang.

Bery dari Forum Anak Desa Tegal Maja mengakui memajang vinil tersebut sebagai upaya sosialisasi pencegahan perkawinan anak. Pasalnya, perkawinan anak di KLU sangat marak. Namun, menurut dia. hal itu hanya salah satu upaya. Pola lain dilakukan melalui diskusi baik dengan anak maupun orangtua serta membuat grup-grup pencegahan perkawinan anak di media sosial.

Menurutnya. sejak dibentuk Forum Anak di Tegal Maja, tahun ini tidak ditemui adanya perkawinan anak. Tahun sebelumnya yakni 2019 terdapat dua kasus. Dalam posisinya di forum anak, Bery mengemukakan berupaya melakukan berbagai pendekatan agar perkawinan anak tidak terjadi di desanya.

Sementara kasus- kasus perkawinan anak yang terjadi sebelumnya disebabkan faktor ekonomi dan putus sekolah. Anak-anak yang tidak sekolah itu memilih menikah dan didorong pula oleh orangtuanya karena belitan ekonomi.

Bery mengatakan anak anak sebayanya sudah mulai mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat perkawinan anak. Karena itulah kasus itu tidak terjadi ditahun 2020.

“Penyebab kasus perkawinan anak di Tegal Maja biasanya karena faktor ekononi,” ujarnya.

Terkait manfaat yang diperoleh dari Kongres Anak Indonesia, Bery mengatakan cukup banyak. Salah satunya membuka wawasan terkait hak-hak anak serta bisa memberikan masukan kepada pemerintah.

“Masukan kami dari KLU adalah agar ada sanksi tegas terhadap pelaku pornografi dan pornoaksi,” katanya. ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.