Berbagi Berita Merangkai Cerita

Covid-19, TKI Asal NTB Pulang Besar-Besaran, Misbach : Perlu Diperhatikan

0 17

MATARAM, DS – Kendati provinsi NTB masih berstatus zero kasus Covid-19, perlindungan pekerja migran asal NTB yang akan pulang secara besar-besaran dalam waktu dekat ini perlu menjadi perhatian serius Pemprov setempat.

Itu menyusul kebijakan lockdown yang diberlakukan Pemerintah Malaysia pada tanggal 18 Maret hingga 31 Maret 2020 mengharuskan para TKI tersebut bakal pulang secara besar-besaran ke kampung halamannya masing-masing.

“Kepulangan TKI asal NTB itu wajib kita antisipasi dengan mulai menyiapkan lokasi karantina mereka. Mengingat, kapasitas RSU kita jelas enggak akan mencukupi jika dipaksakan, ” ujar Ketua Fraksi Golkar DPRD NTB, H. Misbah Mulyadi menjawab wartawan, Senin (23/3).

Misbach mengatakan langkah Pemprov NTB dengan menunjuk empat rumah sakit sebagai rujukan penanganan Covid-19, yakni RSUD Provinsi NTB, RSUD Bima, RSUD Dr. R. Soedjono Selong dan RS H. L. Manambai Abdulkadir di Sumbawa, dirasa sudah tepat.

Hanya saja, kata dia, jika merujuk kapasitas rumah sakit di NTB untuk penanganan pasien corona manakala untuk proses karantina para TKI yang pulang ke Malaysia, maka hal itu jelas dirasa kurang.

Oleh karena itu, Misbach mengatakan siap mengeluarkan dana dari uang pribadinya. Bahkan, ia berjanji akan siap mengawal sharing pendanaan antara Pemprov NTB dan Pemda kabupaten/kota untuk membantu penanganan karantina para TKI tersebut.

“Kita contoh kayak Pemerintah Pusat dan Pemprov DKI Jakarta yang sudah memfungsikan Wisma Atlet Kemayoran sebagai lokasi perawatan pasien corona itu,” katanya. “Nah karena kita masih zero kasus, maka penyiapan lokasi alternatif sangat penting. Bagi saya pribadi, usulannya adalah memanfaatkan fasilitas rumah susun milik pemerintah daerah, nanti biayanya kita bantu lewat sharing antara APBD Provinsi dan Pemda kabupaten/kota,” sambungnya.

Terkait desakan agar sejumlah hotel dijadikan lokasi alternatif untuk mengkarantina jika ada ledakan pasien, menurut Misbach, hal itu sangat menyulitkan. Sebab, mengkarantina seseorang dengan lokasi terpencar-pencar tentu membutuhkan kesiapan para petugas medis yang harus mobile tiap waktunya.

“Itupun, hotel juga enggak boleh menerima tamu manapun. Makanya, ini sulit jika ada karantina di hotel itu dilakukan,” tandas Misbah Mulyadi.

Dalam kesempatan itu, pihaknya mengatensi sejumlah langkah antisipasi agar wabah corona tidak terus meluas. Misalnya dengan pembatasan sosial, yakni mendorong sekolah dan perkantoran tutup untuk sementara, kegiatan belajar dan bekerja sementara dilakukan secara online dari rumah.

Misbah berharap wabah Corona bisa segera mereda. “Ini kan sudah dialami juga banyak negara. Kita berdoa betul jangan sampai kaya Italia. Ayo masyarakat juga patuhi (pembatasan sosial) yang telah dikeluarkan oleh Pak Gubernur juga para bupati/walikota menindak lanjuti instruksi pak Presiden itu,” ungkapnya. RUL.

Leave A Reply