Berbagi Berita Merangkai Cerita

Cluster Gowa Mendominasi, Wagub Minta DPRD NTB Bantu Sosialisasi Cegah Penyebaran Covid-19

0 39

MATARAM, DS – DPRD NTB periode 2019-2024 menyerahkan laporan hasil reses pertama mereka pada sidang paripurna DPRD setempat, Senin (20/4). Dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD NTB Hj. Baiq Isvie Rupaedah didampingi tiga unsur Wakil Ketua. Diantaranya, H. Mori Hanafi M.Comm, H. Muzihir dan H. Abdul Hadi itu, umumnya delapan dapil di Provinsi NTB menyerahkan laporan mereka pada pimpinan DPRD melalui juru bicaranya masing-masing.

Selain itu, penyampaian dan penyerahan keputusan DPRD terhadap LKPJ Gubernur tahun 2019 juga tidak dibacakan. Hal itu dilakukan guna mengikuti protap Covid-19 yang telah diasistensi jajaran Polda NTB terkait aturan tidak bolehnya waktu lama berkerumunan di dalam satu ruangan ber-AC. Yakni, maksimal hanya satu jam sebagai batas toleransinya.

Pihak DPRD NTB juga kembali menerapkan physical distancing atau menjaga jarak fisik pada rapat paripurna kendati sembilan pimpinan fraksi hadir. Namun tetap tidak semua diperkenankan masuk ke ruangan.

Tak hanya itu, para anggota DPRD pun tetap dilakukan pemeriksaan suhu tubu menggunakan alat thermo scan di depan pintu masuk ruang paripurna DPRD setempat di lantai III.

Wakil Gubernur NTB Hj. Sitti Rohmi Djalilah yang hadir bersama Sekda NTB mengatakan, adanya lonjakan sebanyak 11 kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19 saat ini sehingga jumlah kasus positif Covid-19 di NTB kini, mencapai sebanyak 72 orang hingga Minggu (19/4) malam, merupakan upaya konkrit yang dilakukan Pemprov dalam melokalisir kluster yang sudah teridentifikasi selama ini.

“Kalau dulu kita harus menunggu sampai seminggu karena sample harus dikirim ke Jakarta. Tapi, sekarang enggak lagi. Ini karena kita punya alat swab sendiri, makanya lonjakannya cepat. Jadi, upaya lokalisir yang positif sesuai kluster itu adalah pekerjaan yang fokus kita kerjakan untuk memerangi Covid-19,” ujar Wagub dalam sambutannya.

Rohmi menjelakan, Provinsi NTB sedikitnya memiliki tujuh klaster penyebaran Coronavirus. Masing-masing klaster Jakarta yang mana bermula dari dua pasangan suami-istri (pasien 01 dan 02) warga Aikmel Lombok Timur yang pergi mengikuti Muktamar Internasional di Jakarta. Alhasil, empat orang terdekat mereka positif Corona. Masing-masing pasien 06, 09, 10 dan 25.

Kemudian ada klaster Bogor, pasien nomor 04, seorang pendeta asal Buleleng Bali berdomisili di Mataram yang mengikuti acara Sinode Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) di Hotel Aston, Bogor. Saat balik ke Mataram, sebanyak 14 warga ikut terpapar Corona, satu di antaranya meninggal. Pasien yang ikut terpapar adalah pasien nomor 14, 18 (meninggal), 28, 29, 30, 37, 46, 45, 16, 23, 24, 12, 47 dan pasein nomor 17.

Ada klaster luar negeri pasien nomor 08 yang baru tiba ke Lombok setelah balik dari Amerika bekerja di kapal pesiar. Ada klaster Jakarta 2, pasien nomor 05 yang telah meninggal pulang dari Jakarta. Ada juga pasien klaster transmisi lokal nomor 27 yang tidak diketahui di mana dia terpapar, karena tidak memiliki riwayat perjalanan ke daerah pandemi maupun berinteraksi dengan pasien positif.

Ada juga klaster Sukabumi. Pasien nomor 35, 48, 49, 50, 51. Mereka adalah siswa yang mengikuti pendidikan Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Setukpa Lemdiklat Polri di Sukabumi.

Paling banyak adalah klaster Gowa, Sulawesi Selatan. Sebanyak 28 pasien dinyatakan positif COVID-19. Masing-masing pasien adalah pasien nomor 03, 07, 11, 15, 13, 20, 26, 34, 36, 42, 43, 40, 52, 53, 54, 55, 19, 60, 61 (meninggal). Kemudian beberapa warga di NTB ikut terpapar Corona akibat transmisi lokal yang mereka lakukan. Masing-masing pasien yang ikut positif pasien nomor 22, 44, 56, 57 dan 58.

Klaster Gowa diketahui merupakan salah satu klaster terbesar penyumbang jumlah pandemi di Indonesia. Itu bermula saat jamaah tablig mengikuti Ijtima se Asia yang digelar di Gowa. Padahal saat itu Indonesia telah mulai masuk wabah Corona.

Hampir 10 ribu warga masing-masing daerah di Indonesia berkumpul di sana, bahkan 411 adalah warga Malaysia, Arab Saudi, Thailand, Bangladesh, India dan Filipina. Peserta Ijtima juga berasal dari 10 kabupaten/kota di NTB

“Cluster Gowa ini jadi pekerjaan rumah kita. Karena jumlah yang positif Covid-19 di NTB adalah mayoritas dari kalangan mereka. Makanya, kita harap bantuan DPRD NTB untuk bisa menyuarakan pada masyarakat terkait pentingnya isolasi diri pada warganya yang datang dari luar daerah maupun luar negeri,” jelas Rohmi.

Wagub menambahkan, memutus mata rantai Covid-19 ini bukanlah hanya merupakan pekerjaan pemerintah pusat, pemprov NTB dan pemda kabupaten/kota semata. Namun juga menjadi tanggung jawab masyarakat.

Oleh karena itu, pengawasan terhadap mereka yang berstatus ODP, PDP dan OTG perlu dilakukan oleh semua pihak. Salah satunya, para anggota DPRD NTB.

“Melalui forum ini, kami minta kawan-kawan DPRD NTB membantu pemerintah guna menyolasisasikan hidup bersih dan sehat pada konstituennya. Jika semua unsur bersatu, saya optimis badai Covid-19 ini akan berlalu dengan cepat,” tandas Rohmi. RUL.

Leave A Reply