Berbagi Berita Merangkai Cerita

Cerita Warga Ebunut “Terpenjara” di Rumah Sendiri, Pakai Gelang Pengenal agar Bebas Masuk Mandalika

108

FOTO. Salah seorang warga Ebunut, Desa Kuta, Lombok Tengah yang hanya bisa menyaksikan efhoria WSBK dari balik besi pembatas Sirkuit Mandalika. (FOTO. RUL/DS).

LOTENG, DS – Keberadaan warga Dusun Ebunut, salah satu dusun di dalam Sirkuit Mandalika di Desa Kuta, Kabupaten Lombok Tengah, nampaknya kian terpinggirkan.

Kendati tanah kelahiran yang sudah turun temurun mereka tinggali menjadi lokasi perhelatan event akbar dunia bertajuk balapan World SuperBike (WSBK) selama tiga hari, sejak Jumat (19/11) hingga Minggu (21/11).

Namun sebanyak 48 kartu keluarga (KK) yang tinggal di wilayah tersebut masih belum merasakan kemerdekaannya.

Selama ajang WSBK berlangsung di tanah kelahiran mereka Mandalika, warga Dusun Ebunut harus memakai gelang pengenal untuk bisa bebas keluar masuk

Tanpa gelang tersebut, jangan harap mereka bisa melewati penjagaan ketat WSBK Mandalika.

“Iya mas, geleng ini dibagikan panitia ke warga di sini (Dusun Ebunut) agar bisa bebas keluar masuk ke Sirkuit Mandalika,” ujar Reme, salah satu warga setempat pada wartawan, Sabtu (20/11).

Lokasi Dusun Ebunut, tepatnya berada di sisi kanan pebalap ketika rider melewati Tikungan 5, 6, 7, dan 8. Tentunya, bagi pencinta balap motor, keberadaan Sirkuit Mandalika adalah sebuah hal yang membanggakan bangsa. Itu menyusul, adanya balapan kelas dunia, menunjukkan Indonesia mampu menggelar even balapan tingkat dunia.

Apalagi, warga luar NTB akan bisa nyaman dan aman berlibur ke Lombok sambil menikmati pacuan kuda besi itu. Serta menikmati keindahan kawasan pantai di sepanjang KEK Mandalika.

Sebaliknya, bagi warga Dusun Ebunut, keberadaan Sirkut Mandalika jadi polusi suara. Sebab, mereka berada di tengah-tengah Sirkuit Mandalika, sehingga jika suara motor dengan kecepatan ratusan kilometer per jam itu dipacu oleh rider dari berbagai negara.

Tentu, suaranya akan terasa mengganggu. “Memang sangat berisik sekali, suara motor itu. Tapi mau bagaimana lagi, ada hiburan bagi kami menonton aksi pebalap meski dari tirai pagar pembatas,” ujar Reme.

Warga Dusun Bunut mayoritas adalah nelayan, petani dan peternak sapi. Sapi-sapi di tengah Sirkut Mandalika itu adalah milik mereka.

Namun, pihak ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation) selaku pengelola Sirkuit Mandalika mewanti-wanti agar sapi diikat selama ajang WSBK Mandalika berlangsung.

“Sapi di sini semuanya terikat. Banyak juga yang masuk kandang,” ucap Reme.

Puluhan kepala keluarga tersebut bersedia untuk pindah. Di mana, pihak iTDC, selaku pengelola kawasan bersama warga, sudah sepakat di angka Rp75 juta per are (100 meter persegi). Rata-rata dari mereka memiliki lebih dari 20 are untuk satu keluarga besar (lebih dari satu KK).

“Harga tanah sudah setuju Rp75 juta per are. Tapi ini ada bangunan, dan mereka belum kasih harga (untuk bangunan),” kata salah satu warga Dusun Ebunut lainnya, Suprayadi.

Ia menambahkan, warga di areal Sirkuit Mandalika sangat mendukung keberadaan ajang balap internasional di tanah kelahiran mereka. Hanya saja, percepatan pembayaran sisa tanah dan bangunan yang hingga kini belum direalisasikan agar juga cepat mulai dilakukan.

“Kami berterima kasih dengan Pak Gubernur yang sudah datang dan selanjutnya memfasilitas dan bertema dengan kami. Bahkan, Pak Gubernur akan juga membayarkan janji pihak ITDC terkait tanah dan bangunan ini,” tegas Suprayadi.

“Sambil menunggu realisasi janji pembayaran, kami harus juga tinggal lah di tanah kelahiran kami. Dan ajang balap ini, kami juga memanfaatkan untuk mengais rezeki dengan berdagang makanan dan minuman,” sambung dia. RUL

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.