Berbagi Berita Merangkai Cerita

Cegah Konflik Internal, Serinata Minta Mohan Tak Lepas Suhaili dan Ahyar

656

FOTO.HL Serinata

MATARAM, DS – Pelaksanaan Musda X DPD I Golkar NTB telah resmi menunjuk H. Mohan Roliskana secara aklamasi sebagai Ketua Golkar NTB masa bhakti 2021-2026. Hanya saja, kesan adanya pola pemaksaan yang dilakukan DPP Golkar pada Ketua DPD II di NTB, menuai keperihatinan Mantan Ketua Golkar NTB H. Lalu Serinata.

Menurut dia, kesan pemaksaan agar para pemilih suara mendukung Mohan Roliskana tidak baik jika terus ditradisikan. Sebab, hal itu akan memperuncing jurang perpecahan diantara para kader yang nota benanya sudah lama berjuang di partai berlambang pohon beringin tersebut.

“Harusnya semangat pohon beringin yang teduh itu yang harus dikedepankan. Saya enggak mau gara-gara Musda dengan cara-cara yang enggak beradab dan dipaksakan akan mengancam perpecahan di internal partai kedepannya,” ujar Serinata pada wartawan, Minggu (7/3).

Gubernur NTB periode 2003-2008 itu mengaku, perlu angkat bicara atas kondisi Golkar NTB pascaMusda X yang telah membuat kekecewaan sejumlah kader senior Golkar. Diantaranya, HM. Suhaili FT dan H. Ahyar Abduh.

Serinata meminta agar sosok HM. Suhaili FT yang notabenanya adalah bupati Loteng dua periode agar tidak dilepas begitu saja oleh Partai Golkar. Hal itu menyusul, ketokohannya dengan latar belakang memiliki Pondok Pesantren (Ponpes) Yatofa Bodak di Lombok Tengah, sudah teruji dan tidak bisa disangsikan lagi.

Apalagi, lanjut Mamik Serinata, Suhaili juga memiliki hubungan kekerabatan dengan NW Anjani. Oleh karena itu, dengan kapasitas dan jaringan yang ada itu, sangat disayangkan jika Golkar membiarkan Suhaili pergi.

“Yang saya khawatir dari awal itu adalah Pak Suhaili lepas dari Golkar. Ini akan berbahaya bagi Partai Golkar yang telah menargetkan akan memenangkan Pemilu dan mengusung Capres Airlangga Hartanto,” tegasnya.

Serinata meminta agar Ketua DPD Golkar NTB H. Mohan Roliskana perlu melakukan islah dan evaluasi organisasi secara besar-besaran. Yakni, dengan mengumpulkan para kader senior Golkar untuk bisa merajut kembali jurang perpecahan yang kini terjadi menjadi satu kesatuan besar kembali.

Sebab, kader Golkar semisal Suhaili FT bukan kaleng-kaleng. Itu ditunjukkannya saat memimpin Kabupaten Lombok Tengah telah diakui publik yang tidak hanya bersifat NTB namun juga nasional.

Selain itu, saat menahkodai Golkar pun, Suhaili  telah mampu membuat Golkar menjadi pemenang Pemilu di NTB.

“Saya enggak berpihak ke siapapun. Tapi saya ingin sosok kayak Suhaili dan Ahyar itu harus disatukan oleh Pak Mohan. Saya enggak rela, pola satu kader diangkat dan kader lainnya ditenggelamkan terus terjadi di partai Golkar di NTB,” jelas Serinata.

Ia berharap penyakit dendam pascaMusda X DPD Golkar NTB tidak akan terulang lagi pada kader Golkar yang telah lama membesarkan partai, khususnya menimpa para Ketua DPD II Golkar di NTB.

Terlebih, tantangan Pemilu kedepan relatif sangat berat. Sehingga, diperlukan tokoh-tokoh  yang telah teruji dalam mengisi komposisi kepengurusan DPD I dan DPD II di semua wilayah NTB.

“Saya amati sejak tahun 1971 hingga kini, penyakit Golkar selalu ada dendam politik bagi kader yang enggak mendukung calon yang dikehendaki. Kedepan, jika Golkar ingin besar maka semua kekuatan dan potensi kader harus disatukan. Saya titip ke Pak Mohan agar mengedepankan kesatuan dan hargailah kesenioran para kader Golkar yang telah berjuang selama ini,” tandas Lalu Serinata. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.