Berbagi Berita Merangkai Cerita

Cegah Kasus Covid-19 Meningkat saat Libur Nataru, NTB Siapkan Ribuan Tempat Tidur Isolasi dan Ruang Perawatan

19

FOTO. dr. H. Lalu Hamzi Fikri. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Keputusan pemerintah menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di masa libur natal dan tahun baru (Nataru) sebagai langkah dalam melindungi rakyatnya di tengah pandemi Covid-19, menuai respon Pemprov NTB.

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 setelah libur natal dan tahun baru, sejumlah upaya terus dilakukan Pemprov setempat. Salah satunya yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dikes) NTB. Yakni, dengan menambah bed perawatan dan ruang isolasi.

Hal itu menyikapi akan terbitnya Surat Edaran (SE) Gubernur Zulkieflimansyah terkait pembatasan kegiatan selama Natal dan Tahun Baru 2022.

”Pastinya, segala cara akan kita lakukan, guna mengantisipasi lonjakan kasus. Sejauh ini, sudah kita siapkan lebih dari 2.000 tempat tidur isolasi dan lebih dari 250 tempat tidur ICU,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr Lalu Hamzi Fikri pada wartawan, Jumat (24/12).

Menurut dia, kebijakan pelaksanaan titik lokasi isolasi terpusat (Isoter) yang sempat diberlakukan sebekumnya, bakal masih sangat mungkin untuk dilakukan lagi kedepannya.

Di mana, lanjut Hamzi, pihaknya sudah menyiapkan sebanyak 864 titik Isoter dengan kapasitas 4.583 tempat tidur.

“Peningkatan kapasitas tempat tidur ini menjadi salah satu strategi agar rumah sakit siap bila terjadi lonjakan kasus yang signifikan. Yang utama, ini bagian dari strategi antisipasi,” tegas dia.

Mantan Dirut RSUD NTB itu, mendaku, tempat tidur perawatan tersebut sudah ada. Tinggal mereka melakukan aktivitasi karena cukup lama ruang isolasi tidak dipakai karena penurunan kasus. Terlebih, hak tersebut akan berpengaruh terhadap BOR (Bed occupancy rate/ketersediaan tempat tidur)

“Saat ini, ketersediaan tempat tidur atau BOR NTB masih cukup bagus. Tapi potensi lonjakan libur natal dan tahun baru harus diantisipasi,” ucap Hamzi.

”Dengan adanya mobilitas penduduk, perpindahan dari satu ke tempat lain, tetap ada risiko. Pengalaman kita di Indonesia dia pernah melonjak kasus hingga 30 persen saat libur,” sambung dia.

Hamzi mengatakan, dengan adanya potensi peningkatan kasus penularan, otomatis tracing dan testing akan dimasifkan. Hal ini, akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan ruang isolasi.

Meski demikian, penanganan Covid-19 di NTB saat ini sudah cukup bagus. Semua indikator penanganan mampu dipenuhi dengan baik. Di antaranya, testing, tracing, rasio BOR, capaian vaksinasi dan sebagainya.

“Kondisi ini yang mempengaruhi, Provinsi NTB bisa mencapai level 1. Apalagi, jumlah kasus penularan hingga kasus kematian di NTB dalam beberapa minggu terakhir sudah tidak ada,” jelas Hamzi.

Ia memastikan, kondisi kasus kematian dan penukaran kasus Covid-19 yang terus terjaga dengan sangat baik. Tentunya, harus tetap dipertahankan.

“Bila perlu, kita terus tingkatkan. Dan kita enggak ingin libur Natal dan tahun baru membuat kasus Covid-19 di NTB melonjak tidak terkendali, kedepannya,” tandas Hamzi Fikri. RUL

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.