Berbagi Berita Merangkai Cerita

Catatan Kunjungan Press Trip ke Sulsel (bagian 3-selesai) Karts Rammang-Rammang,Keindahan Hutan Batu Kapur Sulsel

0 6

Gugusan pegunungan kapur di Kabupaten Maros, Provinsi Sulsel yang dikenal dengan sebutan Karts Rammang-Rammang di Kampung Berau, kini telah menjelma sebagai salah satu distinasi unggulan di provinsi Sulawesi Selatan. Itu menyusul, sejak dua tahun terakhir ini, pegunungan kapur terluas ketiga di dunia setelah Cina dan Vietnam tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Apalagi, sejak setahun terakahir ini, taman hutan batu yang eksotik dan indah itu sangat viral di media sosial. Sehingga, mampu mengungguli dua lokasi wisata yang terkenal di provinsi Sulsel selama ini, seperti pantai Losari dan Taman Nasional Kupu-kupu Bantimurung.

FAHRUL MUSTOFA – MAKASSAR

Siapa sangka awalnya, tempat yang sebenarnya tak lebih dari sebuah areal rawa kecil yang berlokasi di tengah perbukitan batu kapur, yang dihuni beberapa kepala keluarga di Kabupaten Maros itu. Kini, mampu menjelma sebagai salah satu unggulan pariwisata Sulsel. Hal itu menyusul, kemasan bentuk pariwisatanya, membuat banyak orang tertarik untuk datang. Terlebih, para pemandu wisata pun tak ragu untuk mengajak tamu-tamunya untuk berkunjung ke lokasi itu.

Lantaran di Indonesia, baru hanya Karts Rammang Rammang, yang memiliki taman hutan batu yang eksotik indah. Apalagi, masing-masing taman hutan batu memiliki karakterisitik dan ciri khas yang berbeda-beda. Dimana, ratusan, bahkan mungkin ribuan bebatuan kapur berwarna hitam dan abu-abu dengan berbagai bentuk dan ukuran, disekitar perbukitan batu di wilayah itu terdapat hamparan sawah penduduk dan di belakangnya terdapat sebuah sungai. Yakni, Sungai Pute.

Menariknya, di sungai itu juga ditumbuhi pepohonan hutan dan pepohonan lontar di sekitarnya, sehingga menambah eksotis taman hutan batu di Maros ini.”Kawasan ini ibarat sebuah kompleks tempat berkumpulnya bebatuan. Tidak salah rasanya kalau taman hutan batu di Rammang-Rammang ini adalah salah satu yang terindah di dunia,” ungkap Helmi, salah seorang pengunjung asal Kota Mataram, provinsi NTB menjawab wartawan, Minggu (16/4) lalu.

Senada dengan Helmi, Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafi M.Comm, menilai konsep pelibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata di kampung tersebut sangat diapresiasi pihaknya. Menurutnya, konsep seperti ini bisa dijadikan contoh pengembangan distinasi oleh pemprov melalui Dinas Pariwisata NTB “Kemasan pariwisatanya cukup menarik, sentuhan pemerintah daerah, nampak terasa sekali hasilnya. Akibatnya, kampung rawa ini mampu hidup dan kini menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan provinsi Sulsel,” kata dia.

Sementara itu, menuju lokasi kampung wisata ini pengunjung harus melewati jalur sungai. Menariknya, perahu yang harus digunakan adalah milik nelayan, warga setempat dengan kapasitas 5-6 orang. Sedangkan, ongkosnya pun dikenakan Rp. 250.000 untuk sekali perjalanan.

Selama perjalanan pemandangan bukit karang dan pagar alami pohon nipa, menghiasi sepanjang alur sungai yang ditempuh selama sekitar setengah jam. Selain itu, kendati banyak pepohonan namun tetap kawasan ini sangat panas. Sehingga, penduduk setempat memanfaatkannya menjadi sumber rejeki dengan membuka penyewaan topi wisata berbahan anyaman dedaunan seharga Rp. 5.000 rupiah perbijinya.

Sebelum sampai di lokasi yang dituju, beberapa titik di sempadan sungai, terlihat disulap oleh warga menjadi penginapan dan warung makan sederhana. Tempat pengunjung bisa beristirahat sejenak sembari menikmati pemandangan dilokasi itu.“Tempat ini bisa menyedot 200 hingga 300 wisatawan disetiap akhir minggu,” ungkap Ketua Himpunan Pramuwisata (HPI) Sulsel, Suhardi menjawab wartawan.

Setibanya di pelabuhan sederhana yang menjadi akses masuk ke kempung yang dituju, pengunjung akan diminta membayar tiket masuk dengan nilai yang tidak mengkhawatirkan, hanya Rp. 3.000 perorang. Wisatawan akan langsung disuguhi pemandangan indah bukit karang terbungkus hijau pepohonan yang tumbuh subur menyelimutinya.

Ditengah perbukitan itu, tampak beberapa rumah panggung milik warga lengkap dengan sejumlah tambak disekelilingnya. Airnya dangkal, jernih dan ramai ditumbuhi ganggang melengkapi ikan-ikan kecil yang terlihat didalamnya. Tidak tampak banyak sentuhan penataan pada kampung ini, hanya ada beberapa titian dan jembatan kayu sederhana, yang sepertinya memang dibuat untuk kebutuhan warga setempat.
Sedangkan, ujung dari perjalanan wisata dikampung ini adalah pendakian keatas bukit karang setinggi sekitar 300 meter.

Menariknya, diatasnya terdapat beberapa lapak tempat istirahat bagi wisatawan. Sementara, sejumlah warga menjajakan dagangan seadanya. “Awalnya pemerintah membuat festival wisata dan dilanjutkan dengan seringnya tamu-tamu pemerintahan dibawa berkunjung kesini. “Akhirnya penduduk yang tadinya hanya mengandalkan hidupnya dari profesi sebagai nelayan, sekarang ekonominya tampak lebih baik, akibat adanya pariwisata ini,” tandas Suhardi.

Leave A Reply