Berbagi Berita Merangkai Cerita

Cara Darwilin Melawan Diskriminasi Gender

46

Foto : Darwilin

Dibalik potensinya yang melimpah, ada sesuatu yang rada terabaikan di Desa Jero Puri, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah. Hal terabaikan itu sektor pendidikan yang terlihat dari minimnya jumlah sarjana. Namun, ada sosok hebat yang melawan perspepsi tersebut dan menggugah semangat bersekolah sekaligus menjalankan kearifan lokal untuk tetap bertani. Dialah Darwilin, seorang sarjana, petani sekaligus ibu rumah tangga. Berikut catatan jurnalistik Mawardi dari hasil pelatihan menulis bersama Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai).

Jero Puri adalah desa yang dikenal dengan hasil pertaniannya yang melimpah seperti padi, tembakau dan cabai. Bahkan, sekarang menjadi salah satu penghasil melon yang pemasarannya tersebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Warga Desa Jero Puri rata-rata petani yang tekun. Karena itu, dalam hal pendidikan tinggi, masyarakat kerap kali melupakannya. Tidak sedikit warga yang beranggapan bahwa perempuan akan sia-sia menuntut ilmu (sekolah tinggi), hanya cocok dengan profesi petani lalu menikah dan menjadi ibu rumah tangga.

Berpenduduk 4.336 jiwa dengan rincian laki-laki 2.187 jiwa dan perempuan 2.149 jiwa, jumlah lulusan SD  di desa itu mencapai 1.166 orang, SMP 360 orang, SMA 160 orang dan Strata1/S1 dengan jumlah 56 orang (Data Kantor Desa Jero Puri 2017).

Data ini menunjukkan warga berpendidikan S1 sangat minim dan hanya terdapat beberapa perempuan di dalamnya. Dari sejumlah perempuan yang sarjana, salah satunya bernama Darwilin.

Darwilin merupakan anak perempuan cerdas pasangan Saparji dan Ruminah. Sebagaimana orangtua di Jero Puri, asumsi orangtua Darwilin terhadap perempuan dalam bidang pendidikan cenderung minim. Walau harus diakui, prestasi perempuan ini cukup mumpuni. Bagaimana tidak, sejak duduk di bangku SD, SMP dan SMA,  selalu mendapatkan juara bahkan meraih beasiswa.

Darwilin mengamati lahangarapannya

Apakah kebiasaan masyarakat di desa itu yang menempatkan perempuan tidak perlu sekolah tinggi akan menimpa diri Darwilin? Inilah salah satu pertanyaannya, termasuk pertanyaan yang ingin dijawabnya.

Pada tahun 2013 ketika Darwilin lulus SMA, ia ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi (universitas). Darwilin pun mengutarakan maksud itu  kepada kedua orang tuanya untuk kuliah di luar daerah. Seperti yang diduga, orang tuanya belum bisa berkata “ya”.

Namun, Darwilin berpikir bisa menyikapinya. Nanti, kata dia, pasti mendapat restu untuk sekolah karena memang pada saat dia meminta belum waktunya penerimaan mahasiswa baru. Oleh karenanya Darwilin tetap belajar  untuk mempesiapkan diri mengikuti tes masuk salah satu perguruan tinggi impiannya.

Sementara itu, seiring waktu berjalan, Darwilin ingin dilihat menikah oleh orang tuanya. Mereka seolah-olah sudah memilihkan jodoh, yakni dengan salah seorang pria yang tidak lain adalah misannya. Tapi Darwilin menolak. Ia menguatkan tekad menunda pernikahan karena ingin melanjutkan sekolah.

Menjelang waktu pendaftaran, kedua orang tua Darwilin berusaha membujuknya untuk tidak melanjutkan sekolah. Kali ini dengan iming-iming uang. Darwilin tidak  goyah. Semangatnya tetap menggebu menuntut ilmu.

Suatu ketika terbesit dalam benaknya agar orang tuanya tidak terlalu bersikeras melarangnya melanjutkan sekolah. Caranya?

“Mungkin kalau saya kuliahnya di sini (NTB) akan diizinkan,” pikirnya terkait pilihan daerah tempatnya kuliah kelak.

Ia pun memberanikan diri menyatakan pikirannya kepada orang tuanya.  Karena tekad yang kuat, orang tua Darwilin mengalah. Darwilin akhirnya kuliah di salah satu perguruan tinggi di NTB, yakni Universitas Hamzanwadi Selong dengan mengambil jurusan Biologi.

Setelah 2 tahun kuliah, adik perempuan Darwilin menikah lebih awal mendahuluinya namun Darwilin tidak pernah berpikir sedikitpun untuk merasa malu didahului. Darwilin tetap semangat menggapai cita-cita dan mengubah pola pikir masyarakat awam di Desa Jero Puri bahwa perempuan bisa dan tidak seperti yang mereka pikirkan.

Darwilin yang dikenal rajin belajar dan pintar akhirnya berhasil lulus cumlaude di kampusnya.

Dia salah satu perempuan hebat yang mampu membuktikan dirinya bahwa perempun itu bias. Bisa dalam hal itu bukan hanya bisa menjadi petani dan ibu rumah tangga saja seperti kebanyakan di desa Jero Puri melainkan bisa menjadi sarjana.

“Profesi menjadi petani dan ibu rumah tangga adalah profesi sangat luar biasa tetapi akan lebih luar biasa lagi ketika menjadi petani dan ibu rumah tangga yang berpendidikan,” tegasnya.

Banyak perempuan hebat lainnya di Desa Jero Puri namun mereka kadang mereka kandas oleh diskriminasi gender. Mereka kebanyakan hanya mampu bersekolah sampai jenjang SMA. Ironisnya, diskriminasi ini bukan hanya datang dari lingkungan desa saja namun juga  dari orang-orang terdekat  seperti orang tua.

Kini Darwilin sudah menjadi seorang guru di salah satu sekolah negeri, yakni SMP Negeri 9 Satap Praya Timur yang berada di Desa Jero Puri. Disamping itu, Darwilin bertanggung jawab pula sebagai ibu rumah tangga dan sebagai petani sesuai keinginan orang tuanya.

Disamping mengajar, dia menggarap 70 are lahan dengan tanaman padi. Luas lahan yang potensial dikelolanya mencapai 1,5 hektar. mawardi

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.