Membangun Masyarakat Cerdas dan Berwawasan Luas

Bimbo, Membangun Citra Kopi Lombok di Hati Rakyat

21

KLU,DS-Bagaimana posisi kopi Lombok di daerahnya sendiri? Mungkin tidak semua bisa akrab dengan kopi Sembalun, kopi Suranadi maupun kopi Monggal. Walau rasa kopi itu nikmat amat namun tidak akrab di lidah masyarakat NTB khususnya Lombok. Mengapa demikian?

Bimbo cukup lama merenungkan hal itu. Sebutlah ada perbedaan antara kedekatan kopi Aceh dan masyarakat Aceh. Kopi setempat punya branding di masyarakat terdekat. Kopi itu miliknya, bisa dinikmati warga dengan harga terendah, di lapisan penduduk yang paling bawah karena mereka punya hak penikmat atas kopi itu.

Menikmati kopi bersama Bimbo

Perbedaannya dengan kopi Lombok atau Sumbawa sedikit jauh. Kopi asli Lombok terjangkau untuk lapisan menengah keatas. Sedangkan lapisan masyarakat bawah terbiasa dengan kopi yang dibeli di pasar dicampur beras ataupun jagung. Kenyataan ini memang memiliki alur sejarah terkait tradisi kebersamaan masyarakat ketika begawe. Kehadiran warga dalam acara tertentu membuat kopi diolah lebih fleksibel dengan campuran beras dengan perbandingan sedikit bebas. Karena itulah, tokoh adat seperti Putrawadi beseloroh bahwa jika sudah minum kopi dia tidak perlu lagi sarapan karena sudah ada nasi di dalam kopi.

Selebihnya warga masyarakat menikmati kopi kemasan berbagai merek yang bisa dijumpai dengan mudah di pasaran. Pada akhirnya, kopi lokal bermerek menjadi mahal bagi masyarakat umumnya, nyaris tak terjangkau tak belajar untuk sedikit saja mencicipi kualitas kopi miliknya sendiri. “Itulah yang menyebabkan kopi Lombok tidak memiliki branding,” jelas Bimbo.

Kopi berkualitas dengan teknik pengolahan yang terukur itu menghilang, kadang berganti dengan merek kopi lain yang bukan dari wilayah aslinya.

Mengangkat Citra Kopi

Kopi sebetulnya memiliki nilai-nilai yang mesti diperjuangkan dalam membangun citra di hadapan penikmat. Nilai itu tergantung dari pengolahan hingga sampai ketika tersaji di atas meja. Itulah sebabnya di daerah pariwisata semacam Gili Trawangan, kopi Lombok terkatrol dengan harga mahal hingga Rp 120 ribu secangkir kecil. Tidak hanya itu, penyajiaannya pun cukup lama karena proses yang dilalui sejak digiling hingga diseduh menggunakan alat yang tidak murah.

Teknik itu tidak lepas untuk menjaga varian rasa kopi robusta tersebut. Terdapat berbagai vairan rasa seperti coklat, karamel, nangka termasuk apel dan gula merah yang sangat akrab bagi kalangan barista.

Menurut Bimbo, berbicara mutu kopi, dari mana pun asalnya sebenarnya tidak jauh berbeda. Artinya, masing-masing daerah memiliki wilayah unggulan berbudidaya tanaman kopi. “Rasa kopi sangat bergantung pada lingkungan dan cara pengolahannya,” ujarnya.

Dari aspek lingkungan berkenaan dengan wilayah tempat tanaman kopi itu tumbuh. Di Lombok khususnya, tedapat beberapa kawasan yang memiliki areal yang cocok untuk bercocok tanam kopi, termasuk kawasan Monggal, Gangga, yang cukup terkenal sejak ratusan tahun lampau. Di sana terdapat pohon kopi yang berusia ratusan tahun peninggalan orang China. Hingga kini banyak petani kopi yang bergantung di lahan itu.

Sedangkan dari aspek pengolahan, ada kebiasaan masyarakat yang mengolah kopi secara tidak terukur. Masyarakat mengolahnya secara tradisional dan kadang dengan bangga memraktekkannya di hadapan wisatawan dengan mencoba mengatrol harga lebih tinggi. Padahal, jika pengolahannya menggunakan metode yang baik dan benar, rasa kopi itu akan terangkat dengan kualitas lebih baik. Itulah sebabnya, mesin-mesin pengolah kopi seperti alat penyangrai bisa seharga puluhan juta rupiah, demikian halnya mesin penggilingnya hanya untuk menjaga citra kopi.

Bimbo mengaku cukup lama mempelajari teknik pembuatan kopi, bahkan hingga sekarang dia mengaku masih terus belajar. Dengan tekun dan teliti, setahap demi setahap dia bisa membedakan olahan kopinya hari ini dibanding kemarin. Bimbo pun melibatkan banyak pihak untuk merasakan kopinya. Itulah sebabnya setiap hari orang berbondong-bondong datang ke kediamannya, duduk di atas berugak yang dibeli ketika gempa KLU untuk menikmati kopi secara gratis.

Menjajal Monggal

Bimbo memulai meroduksi kopi dalam jumlah besar belum lama, yaitu sejak awal 2020. Semula dia seorang pelaku wisata yang bolak balik Bali-Lombok ditahun 90 an. Ketika tersadar putrinya sudah beranjak gadis, ia mulai memikirkan agar bisa bekerja di rumah. Lama dia berfikir hingga suatu saat datang sahabatnya membuka cakrawala berfikirnya terkait kekayaan alam Lombok.

Tahun 2014 dia mulai menjelajahi Kawasan Monggal. Di areal itu terdapat kopi/cherry berusia tua peninggalan orang China. Beberapa sudah ditebang konon dijual batangnya untuk dijadikan patung. Ada petani kopi di sana suntuk dengan lahannya namun mereka terjerat tengkulak. Mereka hidup dengan harga kopi yang rendah. Namun, ada beberapa yag bebas dari jeratan lintah darat. Itulah yang digandeng Bimbo untuk memulai usahanya.

Sebagai mantan pelaku wisata yang terbiasa dengan sajian yang terukur, Bimbo benar-benar belajar dari orang yang kompeten dalam produksi kopi secara detil. Karenanya, ia tidak tanggung-tanggung memberi alat-alat penunjang yang dibutuhkan. Sebutlah mesin penyangrai seharga Rp 35 juta, penggiling Rp 10 juta termasuk alat penyeduh kopi dari Vietnam seharga ratusan ribu rupiah.

Untuk menyeduh kopi saja diperlukan kehati-hatian dengan menuangkan air sedikit demi sedikit dengan membasahi bubuk kopi terlebih dahulu. Di sana bubuk kopi seakan-akan “berontak” mengeluarkan buih. Setelah dibiarkan beberapa saat pelan-pelan diseduh lagi sampai air kopi menetes ke dalam gelas. Tanpa gula. Benar-benar kopi.

“Untuk menikmati cita rasanya lebih baik diminum dalam keadaan hangat,” katanya.

Obsesi untuk Masyarakat

Ada satu obsesi Bimbo terkait kopi, yakni kopi itu memiliki branding di hati masyarakat setempat seluruh lapisan. Kopi itu bisa mengisi warung-warung kecil, tidak berjarak dan tidak memiliki skat. Caranya, Bimbo menggunakan pola subsidi silang. Untuk kalangan atas harga kopinya tinggi namun untuk kalangan bawah ia menyubsidi.

Walau kopi yang ia produksi sudah merambah ke berbagai negara sebagai oleh-oleh seperti Korea Selatan, Jepang, Irlandia dan dikonsumsi warga negara lain, ia harus pula bisa menyajikan kopi itu untuk rakyat kecil. Karenanya, setiap 3-4 hari sedikitnya 75 kg kopi diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal itu disesuaikan pula dengan kemampuan “pabriknya” dalam berproduksi.

Dengan mengandalkan produk “Coffee Bimbo”, kopi olahannya diharapkan memiliki keterikatan dengan masyarakat setempat. Sebab, apa yang dilakukan tidak sebatas bisnis untuk mencari keuntungan melainkan juga mengembalikan kopi kepada masyarakatnya dengan kualitas yang terjaga.

Disisi lain Bimbo berharap pemerintah memberikan jalan keluar bagi petani kopi. Sebutlah mereka yang terjerat tengkuak dengan cara membangun BUMD untuk menampung produksi mereka sekaligus membebaskan petani kopi dari jeratan rentenir. Dengan cara ini, dari hulu ke hilir kopi akan terjaga mutunya dan masyarakat merasakan manfaatnya. Ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.