Berbagi Berita Merangkai Cerita

Benahi Pendidikan Dimasa Pandemi, PR Kadis Dikbud Baru

47

SELONG, DS – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadis Dikbud) yang baru dilantik, Ahmad Dewanto Hadi, memiliki pekerjaan rumah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Lombok Timur. Terlebih dimasa pandemi Covid-19 ini, sekolah dengan tatap muka belum diizikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Bupati Lombok Timur, H.M Sukiman Azmy bahkan memberikan pesan khusus kepada Dewanto untuk berinovasi ditengah pembatasan sosial saat ini. Dikarenakan menurunnya kuantitas pertemuan siswa dan guru, dirasakan sangat berdampak pada menurunnya perkembangan peserta didik.

Selaku pimpinan tertinggi di lingkup Dikbud Lombok Timur, Dewanto mengatakan dirinya tetap akan menyesuaikan dengan regulasi yang ditelurkan oleh Kemendikbud. Dan berupaya bertahan untuk tidak memberlakukan pembelajaran dengan tatap muka.

“Tentu kita akan mencari jalan lain, seperti apa mekanisme belajar mengajar ini tetap berjalan, walaupun tidak dengan tatap muka. Tetapi kualitas tetap kita jaga,” ujarnya.

Upaya lain tersebut akan didiskusikan dengan pihak-pihak terkait, termasuk orangtua siswa. Dengan tetap mempertimbangkan aspek penerapan protokol kesehatan sebagai tolak ukur utama alternatif pembelajaran.

Agar langkah yang ditempuh tidak kontraproduktif dengan upaya pencegahan penularan Covid-19. Ia pun tidak ingin mempertaruhkan keselamatan anak didik dalam mengambil kebijakan.

“Jangan sampai langkah yang kita ambil menjadi kontraproduktif. Kita ingin belajar tatap muka, tapi itu nanti berdampak negatif pada anak-anak kita. Tentu kita akan pertimbangkan sangat matang untuk itu,” tegasnya.

Tidak maksimalnya pembelajaran sistem daring, juga disadari oleh Dewanto. Karena berbagai faktor, seperti keterbatasan kepemilikan gawai sebagai alat penunjang utama pembelajaran. Serta adanya wilayah yang tidak menjangkau sinyal provider (Blank Spot).

“Kita memahami kondisi kita, terutama pada wilayah-wilayah yang blank spot misalnya. Maupun kepemilikan perangkat untuk melakukan itu, terbatas,” tandasnya.

Salah satu alternatif yang dipikirkannya adalah dengan pembelajaran daring berkelompok. Bukan individual, seperti yang selama ini diterapkan.

“Kita akan cari jalan. Mungkin tidak bisa secara virtual individu di masing-masing rumah. Tentu kita akan buat kelompok-kelompok kecil barangkali. Itu bisa menjadi salah satu alternatif,” gagasnya. Dd

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.