Berbagi Berita Merangkai Cerita

Begini Fakta-fakta Perkawinan Anak di KLU

27

Ada kenyataan yang mengkhawatirkan berkenaan dengan problem daerah kini dan dimasa datang. Problem ini berkorelasi langsung dengan angka kemiskinan karena berhubungan erat dengan indikator Indek Pembangunan Manusia (IPM) seperti pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Fakta itu adalah perkawinan anak yang sangat marak.

UNICEF Annual Report 2014 melaporkan dari jumlah total 85 juta anak Indonesia, satu dari  enam (1:6) anak perempuan Indonesia dinikahkan sebelum usia 18 tahun. World Fertility Policies juga menunjukkan data yang sama bahwa di Indonesia tercatat 11,13 persen perempuan menikah di usia 10 – 15 tahun dan 32,10 persen di usia 16 – 18 tahun (Data Susenas, 2012). 

Data  lain menunjukan 1 dari 9  anak usia dibawah 18 tahun mengalami perkawinan anak, bahkan 375 anak di Indonesia setiap harinya melakukan perkawinan serupa. Sedangkan di Provinsi NTB, 1 dari 7 anak perempuan  menikah sebelum usia 18 tahun  (Data Susenas 2016). Sedangkan di tingkat kabupaten Lombok Utara,  Lembaga PerlindunganAnak ( LPA) KLU  menangani 10  hingga 15 kasus perkawinan anak setiap tahunnya.

Fakta Perkawinan Anak di 10 Desa. di KLU

Bagaimana Anda membayangkan ketika sebanyak 1.694 remaja KLU (usia anak atau dibawah 18 tahun) selama tahun 2018 – 2019 dalam kondisi hamil? Angka tersebut mungkin tak pernah terpikirkan mengingat mereka belum dewasa. Namun, kenyataan itulah yang terjadi berdasarkan rekam jejak di sejumlah fasilitas kesehatan. Angka tersebut tentu saja belum termasuk mereka yang melahirkan di rumah.

Secara umum praktik perkawinan anak di Indonesia terjadi karena berbagai faktor yang saling memengaruhi seperti kemiskinan, interpretasi agama dan dampak negatif dari perkembangan teknologi. Pun ada kondisi-kondisi khusus seperti konflik dan migrasi yang turut berpengaruh terhadap terjadinya praktik perkawinan anak.

Di NTB,  prosentase  usia 20 – 24 tahun yang usia perkawinan pertamanya  di bawah  18 tahun sekira 7,13% bagi perempuan dan 6,65 % bagi anak laki-laki. (Susenas Maret 2018). Sebanyak 1 dari 7 anak perempuan di NTB menikah sebelum usia 18 tahun  (Data Susenas 2016).

Laporan  Remaja pada Dinas Kesehatan KLU menyebutkan jumlah remaja perempuan usia kurang dari 18 tahun yang hamil sebanyak 910 di tahun 2018 dan 784 orang pada tahun 2019. Sedangkan yang remaja berusia di bawah 18 tahun yang bersalin atau melahirkan di fasilitas kesehatan sebanyak 307 orang pada tahun 2018 dan 521 orang pada tahun 2019 sehingga total remaja  yang melahirkan di dua tahun terakhir mencapai 828 orang. 

Remaja hamil di KLU 2018-2019

Laporan remaja Dinas Kesehatan KLU memang menyebut jumlah yang cukup fantastis. Namun demikian, ada sedikit penurunan angka remaja usia di abawah 18 tahun yang hamil. Sedangkan data remaja yang bersalin di fasilitas kesehatan cenderung meningkat dari tahun 2018 ke tahun 2019. Hal ini disebabkan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya melakukan persalinan dengan daya dukung fasilitas kesehatan yang memadai. 

Sementara itu data kasus perkawinan usia anak yang berhasil dicatat oleh LPA NTB di 10 desa sebanyak  214 anak yang menikah tahun 2018 dan tahun 2019. Sebanyak 10 desa tersebut masing-masing Desa Senaru, Desa Sukadana (Kecamatan Bayan), Desa Gumantar dan Desa Dangiang (Kecamatan Kayangan), Desa Tegalmaja dan Desa Jenggala (Kecamatan Tanjung), Desa Sambik Bangkol dan Desa Gondang (Kecamatan Gangga).

Data LPA NTB

Perkawinan anak  bisa dibilang masih tinggi dan belum ada penurunan yang signifikan jika dilihat dari tahun 2018 ke tahun 2019. Dari data itu diketahui bahwa perkawinan anak pada tahun 2018 sebanyak  114 orang atau menurun sedikit pada tahun 2019, yang sebanyak 100 orang.

Di 10 desa tersebut (dalam chart)  tampak perbedaan  tingkat  penurunan dan kenaikan angka perkawinan anak.  Terdapat 4 desa yang mengalami peningkatan angka perkawinan anak , yaitu desa Senaru, Desa Dangiang, Desa Jenggala dan Desa Pemenang Timur.  Namun  ada 3 desa  yang mengalami penurunan angka perkawinan anak, yaitu Desa  Pemenang Barat, Sukadana dan Desa Gumantar.

Jumlah Perkawinan Anak Perempuan dan Anak Laki-Laki

Hasil pendataan mengemuka bahwa jumlah perkawinan anak perempuan  lebih dominan dibandingkan perkawinan anak laki-laki.Dari 214  perkawinan anak di 10 desa,  65 % (140 orang) adalah perempuan dan 35 % anak laki-laki dengan jumlah sebanyak 74 orang.  Dapat disimpulkan bahwa anak perempuan jauh lebih rentan menjadi korban perkawinan anak dibandingkan dengan anak laki-laki.  Kerentanan kelompok anak perempuan juga dapat dilihat dari kategori usia. Usia menikah / perkawinan anak perempuan cenderung lebih kecil atau lebih muda  dibandikangkan  usia anak laki-laki yang melakukan perkawinan. 

Grafik di atas menunjukan bahwa  perkawinan anak di usia 13 – 16 tahun  lebih banyak  menimpa  anak perempuan, sedangkan pada usia 17 – 18 tahun hampir seimbang walaupun perempuan sedikit lebih banyak. Fakta lain terungkap dari data tersebut bahwa  usia-usia rawan anak perempuan menjadi korban perkawinan anak adalah usia 15 tahun hingga 17 tahun. Usia-usia tersebut berada pada tingkat pendidikan  Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau sederajat atau kelas I SMA. ian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.