Berbagi Berita Merangkai Cerita

Banyak Siswa Lombok Timur Menikah Dimasa Pandemi Covid-19

226

SELONG, DS – Pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia hingga saat ini, memaksa pemerintah untuk tidak memberlakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. Aktifitas belajar mengajar pun kini harus dilakukan secara daring, maupun kunjungan langsung ke rumah siswa.

Di Lombok Timur yang masih termasuk dalam zona merah, aktifitas belajar mengajar tatap muka pun masih ditiadakan. Meskipun Bupati Lombok Timur, H.M Sukiman Azmy, sempat berencana memberlakukan pembelajaran tatap muka, namun rencana tersebut dibatalkan.

Karena setelah dilakukan konsultasi dengan Gubernur terkait rencana tersebut, Gubernur tidak memberikan izin kepada Lombok Timur untuk memberlakukan belajar dengan tatap muka.

Namun, ada fakta yang harus menjadi perhatian berbagai pihak dimasa pandemi ini. Yaitu terkait terjadinya pernikahan dini yang dilakukan oleh siswa setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

Seperti yang dialami oleh salah satu sekolah madrasah aliyah di Lombok Timur. Kepala madrasah aliyah yang enggan disebut namanya tersebut mengaku, selama penerapan belajar di rumah, sudah ada siswanya yang menikah.

“Jujur saja, selama libur ini berbagai persoalan yang muncul di kami, terutama banyaknya siswa yang menikah,” katanya.

Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Timur, Zainul Arqom pun tidak membantah fakta tersebut. Dikatakan olehnya, penyebab terjadinya pernikahan siswa adalah karena kurangnya pengawasan dari orang tua.

Berbeda halnya dengan saat belajar tatap muka di sekolah. Dimana sekolah dapat turut berperan dalam melakukan pengawasan terhadap siswa.

“Kalau untuk data pastinya, kita tidak punya. Sekolah juga kan tidak berani jujur untuk melaporkan masalah ini,” ucapnya.

Meskipun demikian, diketahui adanya pernikahan siswa karena adanya laporan dari pengawas. Terlebih selama ini, para guru juga rutin melakukan kunjungan ke rumah siswa dalam rangka melaksanakan tugas mengajar. Hal ini pun tak luput dari pantauan para guru tersebut.

“Kita sudah minta ke KUA, kalau ada siswa yang menikah, jangan dinikahkan. Sehingga secara otomatis, mereka menikah di bawah tangan,” ujarnya sembari menyebut tak menutup kemungkinan pernikahan siswa juga terjadi pada siswa SMA. Dd

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.