Berbagi Berita Merangkai Cerita

Banyak Keterbatasan, Fasilitas Belajar SMA 11 Mataram Bahkan Hibah Sekolah Lain

94

FOTO. Anggota DPRD NTB Made Slamet dan Nyayu Ernawati, anggota DPRD Kota Mataram saat meninjau ruang kelas SMAN 11 Mataram. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS- Siswa SMAN 11 di Wilayah Majeluk, Kelurahan Pejanggik, Kecamatan Mataram, setiap hari harus belajar bergantian. Pasalnya, kelas di sana hanya berjumlah empat lokal. Uniknya, fasilitas meja dan kursi hingga pagar merupakan hibah dari SMAN 5 Mataram dan SMAN 1 Mataram.

Parahnya, ruang guru hingga kepala sekolah serta perpustakaan berada di luar ruangan dengan meja seadanya. Sementara, ruang tata usaha (TU) bergantian dengan ruang kelas siswa.

Hal lainnya juga terjadi pada laboratorium praktik Biologi dan mata pelajaran IPA yang juga tidak memiliki ruangan.

Siswi Kelas II SMAN 11 Mataram, Salsabila mengatakan, keberadaan ruangan yang hanya empat lokal itu sangat dikeluhkan rekan-rekannya.

Bahkan, para siswa lainnya juga mengeluhkan hal serupa. “Ya, kalau waktunya belajar karena kelas kurang terpaksa kita gantian menunggu siswa kelas lainnya selesai,” kata siswi asal Cakranegara, Kota Mataram dihadapan anggota DPRD NTB Made Slamet dan Nyayu Ernawati, Anggota DPRD Kota Mataram yang datang ke sekolahnya, Kamis (10/6).

Siswi Kelas II IPA itu, mengungkapkan, fasilitas meja, kursi hingga papan tulis serta pagar yang ada di sekolahnya merupakan bantuan dari berbagai sekolah di Kota Mataram. Di antaranya, SMAN 5 dan SMAN 1 Mataram.

“Bahkan, pagar yang ada di halaman sekolah itu bantuan dari SMAN lainnya. Ya meski dengan keterbatasan kita berupaya semangat belajar,” ujar Salsabila.

Siswa lainnya, Sang Gede A.A.P mengaku, jumlah siswa setiap kelas antara 20-25 orang. Sekolah yang letaknya tidak jauh dari pusat ibukota provinsi NTB itu, baru melayani dua kelas yakni, kelas 1 dan 2.

“Yang kita sedih, kalau besok kita sudah mulai praktikum IPA yakni, naik kelas tiga di mana kami harus belajar dengan ketiadaan ruangan kelas apalagi laboratorium itu,” ujarnya sedih

Menurut Gede, dirinya terpaksa bersekolah ke SMAN 11 lantaran rumahnya masuk dalam zonasi sekolah tersebut.

Kendati dengan kondisi keterbatasan, siswa di sekolah yang terletak di belakang Taman Makan Pahlawan (TMP) Majeluk, Kota Mataram itu tetap bersemangat untuk belajar dan mengukir prestasi. Siswa disana bahka mengadakan event lomba E-Sport mengundang para peserta datang ke sekolahnya.

“Mohon pada bapak dan ibu dewan, bantu kami agar ada ruang kelas baru. Ini karena sudah masuk tahun ajaran baru dan kami sebentar lagi naik kelas tiga yang tentu butuh banyak kelas untuk laboratorium IPA,” papar Sang Gede A.A.P

Sementara itu, anggota DPRD NTB asal Dapil Kota Mataram Ir Made Slamet, mengaku kehabisan kata-kata untuk menggambarkan penderitaan siswa di SMAN 11 yang sejak dua tahun didirikan belum ada tambahan kelas apapun.

“Kalau mau jujur, saya tersinggung sebagai dewan Dapil Kota Mataram. Kami minta pak gubernur dan ibu wagub punya kepedulian pada sekolah ini. Minimal, ruang kelasnya ditambah, fasilitasnya dilengkapi. Termasuk, para guru-gurunya juga yang terbaik harus dibawa kemari,” tegas Made.

Ia mengaku telah berdiskusi dengan Kepala Sekolah SMAN 11 terkait jumlah guru di sekolah tersebut yang berjumlah sebanyak 21 orang guru. Namun hanya tiga orang yang berstatus ASN.

“Itu artinya, ada sebanyak 18 guru berstatus honorer. Bayangkan saja, ini sekolah di tengah kota lho tapi, kondisi kayak begini, semua enggak ada. Termasuk komputer juga enggak ada sama sekali. Mohon Pak Gubernur perhatikan kondisi SDM warganya,” tandas Made Slamet. RUL

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.