A place where you need to follow for what happening in world cup

Bank NTB Contoh Bank Daerah Berhasil Pascakonversi

39

FOTO. Direktur Utama Bank NTB Syariah, H. Kukuh Raharjo (kanan) didampingi Ketua Komisi III Sambirang Ahmadi saat menggelar buka puasa bersama jurnalis NTB. (FOTO. RUL/DS)

MATARAM, DS – Proses konversi Bank NTB Syariah dari sistem konvensional ke syariah secara penuh pada akhir tahun 2018 lalu, sempat diragukan oleh berbagai pihak.

Namun, seiring waktu management bank yang sahamnya dimiliki Pemprov dan 10 Pemda di NTB tersebut, mampu membalikkan keadaan.

Saat ini, Bank NTB Syariah masuk menjadi salah satu bank percontohan di Indonesia karena sukses melaksanakan pertumbuhan bisnis bank yang melejit pascakonversi tersebut.

Direktur Utama Bank NTB Syariah, H. Kukuh Raharjo mengatakan, sejak awal diamanatkan para pemegang saham untuk mengelola top managemen Bank NTB, ia sempat menuai banyak kendala. di antaranya mengubah stigma bank daerah. Yakni, cenderung homogen yang berbeda dengan bank-bank nasional yang sudah tentu heteroginitas dari sisi SDM kepegawaiannya.

Selain itu, di internal Bank NTB juga banyak cibiran terhadap kemampuannya yang dianggap akan kesulitan dalam menggerakkan sistem konvensional ke syariah secara penuh.

“Merubah posisi Bank NTB Syariah hingga bisa kayak sekarang butuh 2,5 tahun. Itu enggak gampang. Tantangan kita banyak, tapi slhamdulillah dengan pengalaman saya selama 30 tahun menjadi bunker. Semua tantangan itu kita balik menjadi sebuah keunggulan bank NTB Syariah,” kata Kukuh pada wartawan, Rabu (5/5).

Menurut dia, sukses konversi dan geliat perkembangan bisnis Bank NTB Syariah juga berdampak pada nilai aset yang awalnya Rp 7 triliun kini meningkat menjadi Rp 11 triliun lebih

Bahkan, Bank NTB Syariah juga telah memiliki mobile banking, untuk memberi kemudahan masyarakat dalam bertransaksi.

“Kalau dulu, semua nasabah Bank NTB Syariah harus datang mengantri ke kantor bank NTB. Sekarang cukup dari hape sudah bisa transaksi apapun dilakukan. Intinya, bank NTB Syariah memahami apa maunya nasabah,” ujar Kukuh.

Ia menegaskan, proses konversi Bank NTB ke syariah penuh, murni merupakan inisiatif sendiri, yakni, pemerintah daerah dan stakeholdersnya.

Kondisi ini, berbeda dengan BPD Aceh yang harus syariah mengikuti tuntutan syariat yang berlaku di provinsi Serambi Mekkah itu.

Kukuh menyampaikan bahwa konversi pada prinsipnya tidak mempengaruhi kinerja bank. Yang jauh lebih berpengaruh adalah motivasi seluruh stakeholders.

‘’Stakeholders ini banyak, pemerintah masuk, masyarakat masuk. Pegawai masuk dan lain sebagainya. Kalau sampai motivasi stakeholders ini tidak ada, maka sampai kapanpun bank daerah tidak akan bisa tumbuh,’’ tegas Kukuh.

Ia menganalogikan, sebuah tim kesebelasan dalam sepak bola. Yang terdiri dari pelatih, kiper, gelandang penyerang dan bek. Jika motivasinya kuat, sama – sama ingin memenangkan pertandingan, maka masing-masing memainkan peranan sesuai tupoksinya.

Sebaliknya, jika motivasi menangnya tidak sama. Ada yang ingin hanya main saja yang penting dibayar. Ada yang motivasinya ingin mencetak gol terus dan ada yang motivasinya hanya ingin tampil. Tentu tidak terjadi kerjasama yang baik. Demikian juga suksesi konversi Bank NTB Syariah.

Karena itulah, seluruh stakeholders di NTB turut berperan penting dalam pertumbuhan bisnis bank. Penggajian ASN dari bank daerah sendiri, penggajian pegawai-pegawai perusahaan yang ada di NTB bisa melalui Bank NTB Syariah dan pengusaha serta masyarakatnya menempatkan dananya di Bank NTB Syariah agar pertumbuhannya semakin baik.

“Kami minta bantuan jurnalis juga, karena peran jurnalis sebagai stakeholder perbankan dalam memberikan citra positif pada karya tulisannya juga penting. Pastinya, direksi Bank NTB Syariah terbuka untuk siapapun masyarakat yang ingin bergabung menjadi nasabah Bank NTB Syariah,” jelas H. Kukuh Raharjo. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Lewat ke baris perkakas