Berbagi Berita Merangkai Cerita

Bangun Kereta Gantung Rinjani Jangan Abaikan Studi Kelayakan 

0 14

MATARAM, DS –  Rencana pembangunan kereta gantung yang akan mengambil latar Taman Nasional Gunung Rinjani menuai reaksi DPRD NTB. Wakil Ketua DPRD NTB, H. Mori Hanafi M.Comm, mengingatkan jajaran pemprov melalui Gubernur Zulkieflimansyah agar kereta gantung berdampak pada kesejahteraan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari keberadaan gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia itu.

“Saya melihat ide pembangunan kereta gantung ini bagus karena tidak semua orang bisa naik Rinjani. Tapi perlu juga kita pikirkan nasib jasa porter, tour guide (pramuwisata), warung – warung makan yang bergantung dari gunung itu ketika nanti kereta gantung tersebut jadi terealisasi,” ujar Mori menjawab wartawan, Jumat (31/1).

Rencana pembangunan kereta gantung itu juga harus memikirkan keberlangsungan ekosistem lingkungan di sekitar kawasan, termasuk kehidupan satwa liar yang selama ini menjadi endemik di Gunung Rinjani.

“Kalau saya, jangan sampai pembangunan itu tidak memikirkan dampak lingkungannya,” ucap Mori.

Selain faktor lingkungan, ekonomi masyarakat dan hidup satwa liar, menurut Mori, yang juga perlu diperhatikan faktor keselamatan ketika nantinya kereta gantung itu jadi terwujud. Pasalnya, Pulau Lombok merupakan daerah yang rawan gempa. Sebab, fakta peristiwa gempa bumi tahun 2018 lalu, Lombok di dalamnya khususnya kawasan Rinjani pernah menjadi salah satu daerah yang terdampak gempa bumi yang sangat parah.

Jika merujuk studi kasus kereta gantung di luar negeri, studi kelayakan membutuhkan waktu dua tahun. Namun pemprov berdalih pembangunan kereta gantung diusahakan terealisasi pada 2021 karena ingin mengambil momen MotoGP Mandalika.

“Pertanyaan saya, apakah ini sudah dipikirkan juga. Sehingga sebelum ini terlaksana kami mendorong perlu ada kajian dan studi kelayakan yang mendalam sebelum itu dibangun. Ingat lho, Pulau Lombok ini rawan gempa dan sampai sekarang juga masih sering terjadi gempa. Apakah, sudah ada kajian soal keselamatan bangunan tahan gempanya,” tandas Mori mempertanyakan.

 Diluar Konservasi

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Madani Mukarom menegaskan rencana pembangunan kereta gantung dengan mengambil latar TNGR di Lombok, NTB berada di luar kawasan konservasi.

“Pembangunan kereta gantung ini tidak berada di zona inti kawasan TNGR. Melainkan di luar kawasan konservasi Rinjani,” tegasnya.

Ia mengatakan, pembangunan kereta gantung oleh PT Indonesia Lombok Resort itu, nantinya akan membentang sepanjang 10 kilometer dengan mengambil lokasi utama di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Sementara, seluruh lintasannya masuk dalam kawasan hutan lindung dan kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura). “Jadi kawasannya itu masih di hutan lindung dan Tahura, belum masuk kawasan Rinjani yang selama ini dipersoalkan,” ujar Madani.

Selain itu, Madani Mukarom, juga menegaskan lintasan kereta gantung tidak akan melewati jalur pendakian yang biasanya dipakai para pendaki ketika akan menuju ke Pelawangan Sembalun, Pelawangan Senaru, Danau Segara Anak maupun Puncak Rinjani.

“Lintasan kereta gantung ini di luar jalur traking yang sering dipakai para pendaki selama ini, sehingga pengunjung yang menaiki kereta gantung hanya melihat danau dan puncak Rinjani dari kejauhan. Jadi pembangunan kereta gantung ini bukan ingin merebut jalur pendakian, mengambil lahannporter ataupun masuk kawasan Rinjani,” tandasnya. RUL

Leave A Reply