Berbagi Berita Merangkai Cerita

Bajang Toni, Dari Penyiar hingga Aktifis Filantropi

52

Ketika melakukan penjangkauan warga desa di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat — dalam sebuah program pemenuhan dokumen administrasi kependudukan — serta merta  beberapa perempuan berteriak, “Bajang Toni!” Mereka berlarian ke arahnya dengan wajah sumringah seperti mendamba, bercakap sebentar bak melepas rindu, kemudian berselfie sebelum Bajang Toni berlalu.

Nama Bajang Toni cukup dikenal di Kabupaten Lombok Tengah. Dia tergolong aktor lokal yang disenangi. Mengapa? Lelucon yang disampaikan secara lisan sangat menggelitik, sarat banyolan dan menjadi arena tawa bersama.

Cerita-cerita lucu yang dikemasnya terinspirasi dari kebiasaan masyarakat dan peristiwa di pedesaan. Berbagai peristiwa kemudian dirangkai dengan menarik, disajikan dengan gaya intonasi dan alur yang apik.

Pesan-pesan lucu dan gembira itulah yang membuat orang-orang berkerumun. Para pendengar mendekatkan telinga, berbinar-binar bahagia mengelilinginya. Ada kejutan-kejutan pada tiap alur, bahkan mereka sampai menunggu pada detik mana kelucuan akan muncul untuk disambut dengan tawa yang terpingkal-pingkal seakan-akan memenuhi angkasa.

Salah satu adegan dalam video youtube Bajang Tony&Amaq Ohan

Nama Bajang Toni semakin populer ketika ia mulai berakting secara visual dalam sandiwara-sandiwara berdurasi singkat melalui Chanel YouTube Bajang Tony&Amaq Ohan. Kisah-kisah orang desa menjadi ranah dirinya. Untuk mendukung setiap cerita, kadang ia harus mempermak tubuh menjadi seorang nenek yang ringkih. Begitulah cara Bajang Toni mengelola potensi, baik kelebihan maupun “kekurangan” menjadi seorang aktor sekaligus sutradara yang diidolakan dalam setiap kesempatan. Sedangkan ide-ide cerita itu sendiri berawal darinya.

Sejak mengupload berbagai cerita lucu di dunia maya, pelan-pelan subcribernya makin meningkat hingga mencapai 18,5 ribu. Beberapa judul video itu diantaranya Preman Cap Tain Manoq, Amaq Ohan, Papuq Lenduri, Papuq Rock & Roll, Salah Kocok. Aktor-aktor yang tampil di dalamnya berada dalam wadah Komunitas Tulus Angen.

Langkah mengupload video serupa sandiwara itu semula dilakukan secara iseng-iseng saja menggunakan kamera handphone ke media sosial. Tak dinyana, banyak viewer yang tergoda. Akhirnya, langkah lebih profesional dilakukan dengan menggunakan kamera 70D yang kemudian diupload melalui youtube. Hasilnya lebih mencengangkan dan viral.

Aktifis Filantropi

Dari channel youtube yang dikelolanya sejak tahun 2019, Bajang Toni menerima pendapatan yang sebetulnya cukup bagi dirinya untuk menghidupi keluarga. Akan tetapi, semua itu dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk bantuan sosial seperti bedah rumah.

“Tidak sedikit pun saya mengambil dari gaji youtube itu,” cetus ayah satu anak ini.

Berbekal popularitas itu, bersama rekan-rekannya yang lain Bajang Toni kemudian mengembangkannya dengan membuat Event Organizer (EO) yang diberi nama Bading Production. Melalui wadah ini dilakukan berbagai program  kegiatan baik berupa pembuatan video pesanan instansi pemerintah, swasta maupun masyarakat. Hebatnya, kiprah EO itu berkembang pesat karena kwalitas produksinya yang mumpuni.

Sesekali institusi tertentu tertarik dibuatkan video dalam rangka ikut serta sebagai peserta sebuah kompetisi. Misalnya yang digelar Polres Lombok Barat, Lombok Tengah dan Kota Mataram. Beberapa diantaranya memenangkan kompeisi sebagai juara I mengalahkan peserta yang lain.

EO itu kemudian melahirkan sub EO Weeding Production yang juga melebarkan sayap ke beberapa kabupaten dengan program tambahan pembinaan UMKM.

Hasil dari youtube tidak diambil untuk kebutuhan sendiri karena uang ini dikumpulkan dengan pendapatan lain termasuk sumbangan dari donatur yang dikelola Yayasan Tulus Angen Indonesia. Dalam yayasan ini Bajang Toni merupakan pembina dan pendiri.

“Jargon Yayasan kami NYALAH MENURUT ITE BERHARGE BAGI NIYE,” katanya. Artinya, Sepele menurut kita tapi berharga buat Dia/ Orang lain.

“Sampai sekarang sudah tujuh rumah dibedah dari hasil kegiatan itu,” tuturnya seraya menambahkan satu rumah tidak layak huni dibedah dengan dana sebesar Rp 11 juta.

Sebelumnya, ketika terjadi gempa bumi di Lombok tahun 2018, melalui gerakan filantropi ia berhasil menghimpun dana mencapai Rp 200 juta untuk didonasikan kepada korban gempa.

Pantang Menyerah

Bajang Toni bernama lengkap Lalu Ahmad Fatoni, merupakan salah seorang penyandang disabilitas yang suka mengikuti hal-hal baru. Bungsu enam bersaudara ini mengalami kecacatan fisik pembengkokan tulang belakang (Skoliosis ) sejak lahir. Hal serupa dialami salah seorang saudaranya.

     Keterbatasan tersebut tidak mengerdilkan jiwa Bajang Toni. Semuanya tidak lepas dari pola asuh keluarga berupa trust orangtua yang tidak terlalu protektif dalam membangun “kebebasan” sehingga melahirkan kepercayaan pada dirinya.

Lahir 16 November 1983, Bajang Toni  tumbuh penuh dinamika. Berbagai kegiatan ditekuninya semata-mata karena melihat di setiap tempat itu ada ilmu serta nilai baik yang bisa dipetik. Tidak mengherankan, sejak kecil ia tampil ikut lomba tilawah bahkan sampai berkompetisi dalam lomba BRTV RRI Mataram tahun 2001 dan masuk final.

    Selama masa pendidikan, tidak sekali pun Bajang Toni memasuki sekolah berkebutuhan khusus. Sejak SD hingga SMA dilaluinya di sekolah umum.

Namun, salah satu media pengkaderan yang cukup memompa semangatnya adalah ketika pada tahun 2004 mengikuti program difabel di Makassar, tepatnya di Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya Makassar. Selama dua tahun di sana ia mengambil keterampilan tata rias (salon). Di panti ini juga turut serta dalam lomba teater di Sulawesi Selatan bersama kelompoknya dan menjadi juara favorit.

Bajang Toni kembali ke Lombok Tengah dan bekerja di sebuah radio bermana SUPRA FM selama 5 tahun sambil kuliah. Ketika kuliahnya hampir saja rampung dan tinggal yudisium di STIE Mataram, ia justru meninggalkannya. Mengapa? Tunggakan SPP yang tak sanggup ia lunasi mencapai Rp 7,5 juta.

Pada tahun 2012 bekerja sebagai tenaga marketing di sebuah media cetak lokal. Karena niatnya ingin mengetahui tingkat kesulitan menulis, ia pindah sebagai wartawan di Media Pembaruan. Bajang Toni kurang betah karena jadwal kerja yang ketat sejak pagi hingga tengah malam. Ia pun berhenti.

Di lingkungan penyandang disabilitas Bajang Toni dipercaya sebagai Ketua Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Lombok Tengah 2007 hingga tahun 2015 yang mempertemukannya dengan aktifis-aktifis organisasi sosial seperti Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Sigap, Sabda, dan lain-lain. Di KNPI imenjadi ketua bidang sejak 2009-2015.

   Pengalaman yang tidak terlupakan adalah ketika menjadi penyiar radio Super FM tahun 2006. Ketenarannya sebagai penyiar radio di Kabupaten Lombok Tengah mendorongnya menjadi caleg kabupaten dari Partai Hanura tahun 2014. Kala itu ia hanya memperoleh 300 suara.

Tahun 2019 ikut bertarung di tingkat provinsi sebagai caleg Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan meraih 1.200 suara, walau hasil hitungan KPU hanya sampai 890 suara. Ia berada di tengah dalam perolehan suara, yaitu termasuk tiga besar dari 7 caleg namun tidak bisa mendapatkan kursi.

Adakah yang bisa dipetik dari pengalaman itu? “Itu semua saya lakukan tanpa uang,” katanya terkait satu hal yang cukup dikenang diranah politik. Hanya saja, prediksinya tentang  pemilih kota yang sudah rasional itu, keliru.

Seabreg pengalaman tersebut melatihnya menjadi sosok yang percaya diri. “Saya selalu penasaran dengan ilmu. Dari sana saya selalu memperoleh hal-hal baru untuk dipelajari,” cetusnya.

Pengalaman baik sebagai penyiar, penyanyi, wartawan, MC, aktifis filantropi, relawan LSM hingga sempat jadi kader partai politik, menjadi gudang ilmu baginya.

Tidaklah mengherankan, empat bulan yang lalu, Bajang Toni dipilih sebagai kepala lingkungan Balungadang, Kelurahan Praya, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Ia harus memediasi setiap persoalan warga yang kadang diselesaikan hingga larut malam. riyanto

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.