Berbagi Berita Merangkai Cerita

Bahas Tanah Moto GP, Kabinda dan Tokoh Adat Gelar Musyawarah

14

LOTENG,DS – Persoalan tanah Kute untuk Moto GP yang belum tuntas dimusyawarahkan oleh pemilik tanah, tokoh masyarakat, tokoh adat, ITDC dan Kabinda NTB, di kediaman HL Putria, tokoh masyarakat Lombok Tengah. Kabinda NTB, Ir Wahyudi mengharapkan agar para pemilik membuat matriks masing-masing satu tuntutan.

Matriks tersebut dengan membuat daftar nama dan tabel nama obyek dan tuntutan. Misalkan ada 50 orang terdaftar pemilik maka 50 ini akan diselesaikan satu per satu. Sementara yang lain di luar 50 tidak perlu ikut campur dan mohon minggir demi adat dan budaya Sasak yang dijunjung tinggi

Tujuannya agar lebih fokus dan menghindari  provokasi dari pihak yang tidak berkepntingan. Hal ini disambut baik para peserta musyawarah yang dimediasi oleh Laskar Sasak.

Di awal pertemuan Kabinda mengingatkan pentingnya adat budaya yang telah mengakar. Karena harus diwaspadai desain asing untuk terus menciptakan konflik di tengah masyarakat Indonesia.

Bagi salah seorang pemilik tanah, selama tidak dibayar tanah yang dimilikinya dia tak akan pernah mengosongkan lahannya. ‘’Biar bagaimana pun tetap akan saya pertahankan selama belum dibayar,’’ tegas Lalu Arifin Tomi.

Kabinda menyatakan persoalan tanah Kute ini bisa diselesaikan dengan baik. ‘Jangan sampai ada yang meninggal, ada yang sakit saja kita ikut sakit merasakannya,’’ tandasnya.

Semua aspirasi dan masukan dari pemilik tanah, dicatat dan diakomodir termasuk beberapa hal yang menyangkut solusi. Karena hal tersebut akan dilaporkan ke Kabin dan Presiden RI, Joko Widodo.

Datu Sile Dendeng, Miq Putria mengharapkan pembahasan tanah Kute ini bisa diselesaikan dengan musyawarah dan mengedepankan kearifan lokal. Apalagi Putrie sudah hapal di luar kepala persoalan tanah Kute termasuk untuk Moto GP yang mendunia itu. ‘’Jadi tidak perlu ada demo lagi, kita selesaikan dengan dialog,’’ tegasnya.

Ketua Laskar Sasak, Lalu Tahar,   juga menggaris bawahi pertemuan atau musyawarah ini merupakan salah satu bentuk mediasi untuk mencari solusi terbaik. Sehingga tujuannya untuk masyarakat adil dan makmur bisa segera tercapai. ‘’Jangan sampai kasus ini terkatung, katung,’’ harapnya.

Pada intinya Laskar Sasak mengharapkan ada win-win solution, persoalan tanah Kute. ‘’Supaya pelaksanaan pembangunan dan even berjalan mulus dan tentunya tidak merugikan masyarakat,’’ jelasnya.

Pertemuan yang berlangsung sejak pukul 16.30 ini berakhir menjelang Maghrib berlangsung penuh keakraban, meski soal tuntutan sempat menghangat, akhirnya mencair dan diakhiri dengan foto bersama. Ikut hadir dalam pertemuan tersebut, Plt Kepala Bakesbangpoldagri NTB, Subhan Hasan. Tampak Kabinda tampil dengan baju adat Sasak dan tidak ada jarak psikologis dengan peserta musyawarah. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.