Membangun Masyarakat Cerdas dan Berwawasan Luas

Bahas Stunting dan Gizi Buruk, Sobat NTB-Unicef Sambangi Dinsos NTB

18

MATARAM, DS – Sobat NTB-Unicef menyambangi kantor Dinas Sosial NTB, Jumat (24/7). Kedatangannya guna menawarkan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) penurunan angka stunting dan gizi buruk yang berada  di kabupaten kota di NTB.

“Insya Allah, tim Sobat NTB datang guna menawarkan kerjasama sinergas program dengan Pendampingan Program Keluarga Harapan,” ujar Kepala Dinas Sosial NTB, H Ahsanul Khalik menjawab wartawan, Jumat (24/7).

Menurut Ahsanul, tawaran kerjasama Sobat NTB sangat selaras dengan program yang dicanangkan pemerintahan Zul-Rohmi di NTB. Program tersebut yakni pentingnya mencegah gizi buruk dan stunting.

“Dalam proses pencegahan, dibutuhkan keterlibatan semua pihak. Terutama keterlibatan lintas lembaga di lingkup Pemprov NTB dan pemda kabupaten/kota,” kata dia.

Ahsanul mengaku, Dinas Sosial NTB terlibat dalam hal ini melalui dua program prioritas nasional. Yakni, PKH dan program sembako, dimana searah kedua program ini adalah para ibu dan anak-anak.

“Saya sangat mengapresiasi tawaran ini. Sinergitas program merupakan langkah progresif menekan angka stunting dan gizi buruk,” ucapnya.

Mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB ini menuturkan, tawaran sinergitas program dari Sobat NTB-Unicef selaras dengan maksud program Pemprov NTB menciptakan generasi sehat.

Menurut Ahsanul, pihaknya akan mengimplementasikan tawaran itu melalui pilar sosial di Program Keluarga Harapan dan Sembako (dahulu disebut BPNT).

Khusus PKH, ada kegiatan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) minimal satu kali satu bulan yang dilaksanakan oleh pendamping sosial. Melalui jalur tersebut, Organisasi Sobat NTB-Unicef bisa masuk untuk sosialisasi serta aksi screening.

“Mari bangun kerjasama. Potensi sinergitas sangat berpengaruh untuk menuju NTB zero stunting dan gizi buruk,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Sobat NTB-Unicef, Ida Wahyudah menjelaskan, ketertarikannya dengan Dinas Sosial NTB. Pasalnya, seperti program PKH memiliki kegiatan intervensi pendampingan melalui SDM PKH pada pertemuan kelompok atau istilah P2K2. Melalui pertemuan kelompok dengan penerima manfaat, sangat berpotensi informasi tentang tata cara ibu-ibu tentang pentingnya kesehatan ibu hamil dan anak usia dini.

“Kami melirik Dinas Sosial NTB, Karena ada komitmen dalam program PKH melalui pendampingan pertemuan kelompok antara pendamping dengan penerima manfaat program,” jelasnya.

Ida menegaskan, melalui sinergitas ini dapat menuai hasil yang diingin dicapai. Seperti anak anak penderita gizi buru tanpa komplikasi di desa sasaran mendapatkan perawatan rawat jalan.

Anak penderita gizi buruk dengan komplikasi di desa sasaran mendapatkan perawatan rawat inap sampai kondisinya stabil dan dilanjutkan perawatan rawat jalan dan hal lainnya.

“Jalur pertemuan (P2K2) pendamping dan penerima manfaat, diupayakan kami bisa masuk untuk melakukan sosialisasi dan screenig pada anak,” ungkap Ida.

Ia berharap, melalui tahapan pertama akan disosialisasikan kepada SDM PKH. Selanjutnya akan melihat jadwal pelaksana PKH dalam kegiatan P2K2. Modul kesehatan yang ada di pendamping akan dikorelasikan dengan modul kesehatan Unicef.

“Potensi kerjasama ini, adalah langkah strategis untuk capaian Goal nomor 2 SDGs yaitu akhiri kelaparan,mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi,” tandas Ida Wahyudah. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.