Berbagi Berita Merangkai Cerita

Ayah Cabuli Anak Kandung, Polisi Akui Kesulitan Lanjutkan Kasus

310

FOTO. Kompol Kadek Adi Budi Astawa. (FOTO. RUL/DS)

MATARAM, DS – Polresta Mataram kesulitan untuk melanjutkan kasus ayah berinisial AA (65 tahun) yang mencabuli anak kandungnya sendiri.

Mantan anggota DPRD NTB itu diduga melakukan aksi cabul kepada anaknya pada pertengahan Januari 2021 lalu. Perbuatan bejat Itu dilakukan saat istrinya tengah diisolasi akibat Covid-19 di salah satu rumah sakit di Kota Mataram.

Polresta Mataram telah melimpahkan berkas kasus tersebut kepada kejaksaan, namun bekas tersebut dikembalikan atau P-19. Jaksa meminta penyidik memperbaiki berkas kasus tersebut.

Kasatreskrim Polresta Mataram, Kompol Kadek Adi Budi Astawa, mengaku mengalami kesulitan membawa perkara tersebut ke pengadilan karena korban telah mencabut laporan ke polisi.

“Ya masih P-19, kita masih lengkapi. Progres jalan terus tapi pihak pelapor ada cabut laporan dan ada perdamaian,” ujarnya, Jumat (12/3).

Kadek mengatakan kasus tersebut kemungkinan diselesaikan secara restoratif justice (RJ) dengan mengutamakan perdamaian.

“Merujuk kepada kebijakan bapak Kapolri terkait RJ, antara pelapor dan terlapor sudah cabut, perkara susah dilanjutkan,” kata dia.

Kadek juga menuturkan jika pihak kejaksaan mengatakan pada dirinya bahwa korban tidak ingin hadir pada sidang jika kasus tersebut dilanjutkan. Hal ini membuat dilema aparat.

“Karena penyampaian korban ke kejaksaan nantinya pas sidang enggak mau hadir. Susah nantinya, makanya kita masih diskusi sama jaksa. Jaksa juga terkendala,” jelasnya.

Dia mengaku belum berani menghentikan kasus tersebut, karena khawatir justru akan menimbulkan efek lebih besar.

“Belum ada dihentikan, masih pertimbangan juga. Jangan sampai menimbulkan efek lebih besar,” ucap Kadek.

Kompol Kadek juga telah diminta oleh ibu korban agar kasus tersebut dihentikan. Dia tidak ingin anaknya terbebani saat sidang yang justru berhadapan dengan ayahnya sebagai terdakwa.

“Kita memprotek korban, mengakomodir rasa keadilan bagi korban. Karena kemarin ibunya bilang nanti anaknya tambah drop hadir di persidangan. Lagian ini masalah antara anak dan bapak kandung, tolong pikirkan masa depan anak saya,” ujarnya.

Ia mengatakan akan mempertimbangkan menggunakan restoratif justice dalam kasus tersebut.

“Awal mula proses penyidikan pasti ada laporan dari pelapor. Kalau dicabut apalagi yang harus dipermasalahkan,”katanya.

“Kita takut perkara ini sama kayak perkara IRT di Lombok Tengah. Keadilan restoratif yang harus diutamakan bukan penegakan hukumnya,” sambung Kompol Kadek Adi Budi Astawa. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.