Berbagi Berita Merangkai Cerita

Atensi Sikap Gubernur Bela Selly dan Ahsanul M-16 : Aneh, Pasar Murah Tak Gunakan APBD Kok Diributkan

0 6

MATARAM, DS – Direktur Kelompok Kajian Sosial-Politik M-16, Bambang Mei Firnawanto menilai langkah Gubernur Zulkieflimansyah yang memberi ruang pada jajaran pejabat Pemprov NTB untuk maju dalam kontestasi Pilkada Serentak 2020, dinilai positif pada iklim demokrasi di NTB saat ini.

Menurut Bambang, langkah Gubernur itu perlu ditiru oleh para kepala daerah lainnya di NTB. Mengingat, Pilkada itu adalah ajang adu gagasan bagi siapapun untuk menyampaikan visi dan gagasan mereka untuk menyejahterakan masyarakat di wilayahnya masing-masing.

“Sikap pak Gubernur dengan membela Bu Selly dengan program Pasar Murah serta mempersilahkan pak Ahsanul mendaftar di empat parpol di Pilkada Mataram, sejauh ini, bagi saya itu baik dan positif dalam iklim demokrasi di NTB. Jadi, ngapain sih semua pada ruwet dan baper jika pak Gubernur membela jajarannya yang maju di Pilkada Serentak 2020,” ujar dia menjawab wartawan, melalui telpon selulernya, Rabu (4/12).

Bambang mengaku kenal baik dengan sosok Gubernur Zulkieflimansyah. Bagi dia, pembelaan Gubernur pada Selly terkait kegiatan pasar murah, dipicu kegiatan yang dilakukan Dinas Perdagangan itu sangat membantu masyarakat yang membutuhkan sembako murah.

Apalagi, kegiatan pasar murah tanpa menggunakan dana APBD apapun. “Yang ngomong pasar murah pakai APBD itu, karena dia enggak pernah buka dan baca APBD NTB. Ingat, pasar murah itu kan kegiatan mempertemukan pedagang (distibutor) dengan masyarakat sebagai pembelinya. Setahu saya, distributor sangat terbantu karena dagangan mereka laku, meskipun dengan harga jual jauh dari harga pasaran, pokoknya prinsip laku jualan itu yang utama,” tegas Bambang menjelaskan.

Terkait pencalonan para pejabat ASN itu, ia menjelaskan jika sudah sah menjadi calon bupati maupun calon wali kota, baru para pejabat itu mundur sesuai aturan UU kepegawaian.

“Nah ini, mereka baik itu Ibu Selly dan pak Ahsanul kan baru katanya nyalon. Kok sudah ribut kayak begini. Misalnya, Ibu Selly sejak kapan beliau deklarasi mencalonkan diri di Pilkada Mataram. Begitupun pak Ahsanul, kan baru mendaftar di parpol belum tentu juga akan diusung. Kalau mau fair itu, jika sudah resmi mendaftar di KPU baru bisa dikatakan sah sebagai calon bupati maupun calon wali kota,” ucap Bambang.

Ia berharap para tim sukses kandidat lainnya agar bisa berfikir positif dengan melakukan kampanye yang kreatif dan inovatif. Mengingat, ada kecenderungan para pemilih di NTB yang menghendaki adanya perubahan kepemimpinan di masing-masing wilayah yang bakal menggelar Pilkada Serentak 2020.

“Kalau di KSB saya kecualikan, karena figur pak Musyaifirin masih kuat sebagai petahana. Kalau di daerah lainnya, saya pantau arus perubahan masyarakat untuk adanya pemimpin baru yang lahir di Pilkada kali ini sangat terlihat sekali gerakannya,” tandas Bambang Mei Firnawanto. RUL.

Leave A Reply