Berbagi Berita Merangkai Cerita

Anggota DPRD NTB akan Latih Ratusan Pedagang Canang

430

/FOTO. Anggota DPRD NTB Ir. Made Slamet saat bersama puluhan pedagang canang di Kota Mataram. (FOTO. RUL)

MATARAM, DS – Pedagang sarana ritual keagaamaan umat Hindu atau “canang” di wilayah Kota Mataram akan memperoleh bantuan hukum guna melegalisasi usaha mereka.

Direncanakan, bantuan yang diinisiasi oleh anggota DPRD PDI Perjuangan Dapil Kota Mataram, Ir. Made Slamet itu menyasar sebanyak 500 pedagang canang untuk memperoleh akta notaris secara cuma-cuma alias gratis sebagai syarat dalam memperoleh bantuan dari pemerintah.

Made mengatakan, potensi pedagang canang di Kota Mataram sangat besar. Sebab, selama ini mereka berjualan tidak hanya di pasar tradisional namun ada yang berjualan di jalanan serta di rumahnya.

Hanya saja, mereka tidak memiliki legalitas usaha berupa badan hukum. “Jadi, setelah berdiskusi dan berdialog dengan ratusan pedagang canang itu kendalanya hanya pada sisi legalitas usaha. Akibatnya, bantuan pemerintah hingga perbankan dirasa sulit mereka peroleh selama ini,” kata Made pada wartawan, Senin (1/3).

Ia mengatakam dalam situasi pandemi Covid-19, di mana rata-rata semua sektor usaha di belahan dunia tergoncang. Namun, pedagang canang yang kebanyakan adalah para ibu-ibu, justru tetap bertahan dalam situasi sulit saat ini.

“Yang saya heran juga mereka enggak pernah mengeluh. Tetap saja mereka survive melayani kebutuhan sembahyang umat Hindu di Mataram,” ujar Made.

Anggota Komisi II DPRD NTB itu menyatakan,  meski usaha dagang canang dilakukan sejak berpuluh-puluh tahun lamanya.

Namun, mereka tidak pernah memperoleh perhatian dari pemerintah, baik Pemprov NTB dan pemda kabupaten/kota.

Oleh karena itu, saat kegiatan reses DPRD NTB beberapa hari lalu. Made memastikan siap melakukan pembinaan pada pedagang canang guna menyatukan mereka dalam satu wadah organisasi

Hal ini, lanjut dia, dimaksudkan agar pedagang canang itu bisa diberikan pelatihan untuk meningkatkan keahlian dan sumber daya manusia (SDM) mereka.

Apalagi, Made berencana menjalin kerjasama dengan salah satu perguruan tinggi negeri milik umat Hindu di Mataram, yakni STAHN Gde Pudja Mataram untuk memberikan pelatihan tentang filosofi canang.

“Canang itu tidak hanya soal ulatan janur. Tapi, warna bunga itu juga ada filosofinya. Termasuk, soal etika dan estetikanya, serta komunikasi. Jadi, jika para ahli yang memberikan mereka bimbingan dan pengetahuan, kedepan jelas para pedagang canang di Kota Mataram bisa jauh lebih profesional,” tegasnya.

Made tak menampik, adanya pelatihan dan peningkatan kompetensi SDM bagi pedagang canang itu bakal menjadi tantangan. Hal itu menyusul, rata-rata ibu-ibu pedagang canang jarang ada yang berpendidikan tinggi.

“Tapi saya tetap konsisten berupaya melatih para pedagang canang itu menjadi program rutin saya. Apalagi, misi saya akan membuatkan mereka satu koperasi yang fokus pada beberapa barang yang dibutuhkan. Yakni, koperasi mengelola janur. Sehingga, para anggotanya akan membeli semuanya di satu tempat saja dan tidak terpencar-pencar seperti saat ini,” jelas Made.

Bahkan, ia menambahkan dari koperasi yang ada itu akan terbentuk satu perusahaan yang memeroduksi dupa dan saur. Sehingga, pembinaan dari hulu hingga hilir sebagai proteksi pedagang canang untuk anggotanya dapat terwujud.

“Kalau koperasi dan lanjut ada perusahannya. Tentu, semua akan mengambil disini. Termasuk, umat Hindu di Provinsi Bali dan wilayah lainnya di Indonesia. Karena harga lebih murah, ada kemudahan yakni, bisa beli dan bayar belakangan. Pastinya, adanya  keuntungan juga menjadi milik mereka,” tandas Made Slamet. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.