A place where you need to follow for what happening in world cup

Ancam Produksi Pertanian, Wakil Rakyat NTB Desak Pemprov Atasi Krisis Air di Pulau Sumbawa

169

FOTO. HA. Rahman H. Abidin. (rul)

MATARAM, DS – Kendati sebagian Wilayah NTB khususnya di Pulau Lombok mulai memasuki musim penghujan, situasi itu tidak bagi lima wilayah di Pulau Sumbawa.

Hingga kini, krisis air bersih masih menjadi persoalan besar di Kabupaten Bima, Sumbawa, KSB, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa telah mencatat, ada sebanyak 42 desa yang tersebar di 17 kecamatan di Sumbawa mengalami krisis air bersih saat ini. Dampaknya, ratusan ribu warga kekurangan air bersih.

Selain itu, di Kota Bima, data BPBD setempat menunjukkan dari total sebanyak 41 kelurahan pada lima kecamatan, hanya 21 kelurahan yang terdampak. Wilayah sebaran tersebut tidak berubah, namun titiknya meluas.

Anggota Komisi IV DPRD NTB HA. Rahman H. Abidin mengatakan, data yang dilansir oleh BPBD di Kabupaten Sumbawa dan Kota Bima itu, belum termasuk wilayah Kabupaten Bima, Dompu dan KSB.

Politisi Demokrat itu mengherankan, kendati lima wilayah kabupaten/kota di Pulau Sumbawa itu, mengalami kondisi kekeringan secara menahun, lantaran curah hujannya rendah.

Namun, hal itu tidak didukung oleh kebijakan Pemprov NTB dari sisi politik anggaran yang memadai.

“Jujur, ini yang kami sayangkan. Apalagi, Pak Gubernur juga berasal dari Pulau Sumbawa, seharunya tahu apa yang menjadi kebutuhan rakyat di Pulau Sumbawa. Yakni, pasokan air yang harus dipenuhi sebagai sumber kehidupan,” kata Rahman pada wartawan, Rabu (22/9).

Menurut Mantan Wakil Wali Kota Bima itu, pihaknya berharap di sisa dua tahun kepemimpinan Zul-Rohmi di NTB, persoalan krisis air di Pulau Sumbawa, harus bisa dituntaskan.

Mengingat, Pulau Sumbawa menjadi salah satu lumbung pertanian NTB dengan hasil bawang merahnya yang menjadi primadona nasional selama ini.

“Kami minta Pak Gubernur untuk menyelesaikan kekeringan di Pulau Sumbawa. Minimal ada program intervensi dari Provinsi NTB, berupa sumur bor di beberapa titik yang menjadi sentra bawang merah dan pertanian di Pulau Sumbawa ,” ujar HA. Rahman H. Abidin.

Persoalan kekurangan air bersih akibat kekeringan secara jangka panjang memunculkan dampak kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh. Di mana, masalah kekeringan, merupakan masalah menahun.

Hal ini berbanding lurus dengan jumlah kasus diare yang terbilang tinggi. Berdasarkan Profil Kesehatan NTB tahun 2019 lalu, puskesmas dan RS di Kabupaten menangani 11.439 kasus diare pada semua umur dan 4.331 kasus diare pada balita. Pada prinsipnya, pemerintah baik pusat maupun daerah harus mulai mengidentifikasi masalah diare ini.

Sementara itu, Praktisi Kesehatan Penyakit Dalam, dokter Ari Fahrial Syam mengingatkan, kekeringan bisa saja memunculkan penyakit diare. Sebab, warga memiliki keterbatasan mendapatkan air dengan kualitas yang baik. Hanya saja, dia menilai, kasus-kasus diare di daerah memang harus dilihat dulu penyebabnya. Terlebih, sanitasi yang buruk juga bisa menjadi penyebab diare.

“Artinya, sumber dari virus itu larinya dari makanan dan minuman. Jadi kalau makanan itu kita konsumsi, tercemar tentu menjadi infeksi. Kemudian minuman tercemar, menjadi infeksi,” tandasnya yang dikonfirmasi terpisah. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.

Lewat ke baris perkakas