Berbagi Berita Merangkai Cerita

Ali BD Silaturrahim dengan 50-an Tuan Guru Lobar dan Mataram

0 20

MATARAM,DS-Seperti tak ada kata lelah dalam diri Bupati Lombok Timur, HM. Ali Bin Dachlan, jika berkaitan dengan kegiatan silaturrahim. Setiap hari, jika ada kesempatan, figur bupati independen ini selalu antusias dan menyempatkan diri untuk dapat memenuhi undangan silaturrahim dari berbagai kalangan.

Pada Sabtu (17/6), Ali BD berkesempatan memenuhi undangan silaturrahim untuk bertemu dengan 50-an tuan guru pimpinan pondok pesantren yang berada di wilayah Lombok Barat dan Kota Mataram yang mengambil lokasi di Pondok Pesantren Darul Hikmah, Karang Genteng, Mataram.

Dalam kesempatan ini, Ali BD yang masih memiliki nasab keturunan dari ulama’ besar Lombok — yang juga memiliki nama besar hingga luar negeri, TGH. Umar Kelayu — mengungkapkan bahwa belakangan ini muncul kebangkitan ulama’ Lombok yang digerakkan para tuan guru yang berada di wilayah Lombok Barat yang merasa memiliki kesamaan misi dan arah perjuangan, dan mungkin juga karena mengalami penderitaan yang sama.

Kebangkitan itu ditandainya dengan semakin berkembangnya sejumlah pondok pesantren di wilayah tersebut yang meski jarang tersentuh perhatian pemerintah — terlihat jelas dengan masih kurang bagusnya bangunan pesantren.

Sangat disayangkan, ungkap Bupati, beberapa pondok pesantren yang memiliki bangunan megah adalah pondok pesantren yang memiliki kaitan dengan pemegang kewenangan. Sementara yang tidak, harus bersusah payah untuk dapat membangun dengan maksimal.

Namun bagi Ali BD, kualitas bangunan pesantren yang kurang bagus tak harus dipersoalkan. Yang terpenting, kualitas keilmuan yang diajarkan dan diterapkan terus terjaga dengan baik dan juga semangat untuk menyebarkan kebaikan terus bergelora.

Bangunan megah pondok pesantren tidak menjadi ukuran kebaikannya. Sebab, yang terpenting adalah kualitas didikannya yang harus tetap dipertahankan. Sebab, ada beberapa pesantren yang dulunya bagus dengan jumlah santri yang membeludak, kini mulai mundur akibat kualitas didikannya yang tak bisa ditingkatkan.

Keberadaan para tuan guru dengan wadah pondok pesantrennya menjadi kekuatan penting dalam membangun daerah dengan peradaban yang baik. Terlebih, di Lombok yang notabene berpenduduk mayoritas beragama Islam. Peranan para alim ulama’ selalu menjadi acuan dalam melakukan banyak hal, terutama dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan ummat. Karena itulah, Ali BD mengajak para tuan guru untuk terus menguatkan tekad dalam ketulusan dan keikhlasan menjaga persatuan dan kesatuan ummat.

Menyoroti adanya ketimpangan kondisi bangunan pesantren, di mana, ada beberapa pesantren yang memiliki bangunan megah sementara yang lainnya masih jauh dari kondisi yang bagus, Ali BD menginginkan adanya pemerintah yang menjunjung tinggi keadilan dengan tidak membeda-bedakan organisasi atau kelompok. Sebab, keadilan adalah ibu dari pembangunan. Tidak akan ada kesejahteraan, kemakmuran, kebaikan maupun kemajuan tanpa adanya keadilan. Karena itulah, siapapun harus berfondasi pada rasa keadilan.

Dalam kesempatan itu pula, sosok yang siap bertarung dalam pilkada NTB 2018 mendatang ini menyampaikan bahwa dirinya selalu menganggap peranan para tuan guru harus diprioritaskan dalam program pembangunan daerah. Demikian pulalah yang ditunjukkannya dengan berani menentang pemerintah di atasnya, baik provinsi maupun di pusat. Tekad kuatnya mempertahankan peranan para tuan guru dalam struktur organisasi Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) Lombok Timur sebagai dewan pertimbangan ditunjukannya dengan menolak aturan yang ditetapkan pemerintah di atasnya yang menginginkan pengurangan peranan para tuan guru.

Dikatakannya, beberapa kali, tekanan dari pemerintah provinsi maupun pusat datang kepadanya untuk melakukan revisi organisasi BAZDA yang harus diubah menjadi BAZNAS sebagaimana yang lainnya. Namun, semua itu tak dihiraukannya. Sebab, BAZNAS menurutnya mengurangi peranan dewan pertimbangan yang diduduki para tuan guru.

Ditegaskannya bahwa hanya di Lombok Timur saja yang tidak mau menggunakan nama BAZNAS dan tetap bertahan dengan nama BAZDA. Sebab, BAZDA Lombok Timur lebih dulu lahir dari BAZNAS dan yang terpenting adalah tekad kuat Ali BD yang tak ingin menghilangkan peranan besar para tuan guru dalam struktur dewan pertimbangan.

Meskipun terus mendapatkan tekanan dan bahkan terancam tidak akan diperbolehkan melakukan pengumpulan dan penyaluran zakat, Ali BD tak bergeming dengan keputusannya mempertahankan nama BAZDA yang mengakomodir peranan para tuan guru. Sebab, pengumpulan zakat hadir karena kesadaran masyarakat yang ingin membersihkan harta bendanya berdasarkan perintah agama.

Terkait peranan para tuan guru atau alim ulama’ di Lombok, berdasarkan pengamatan Ali BD, salah satu faktor yang membuat sisi keislaman masyarakat Lombok pada umumnya dan Lombok Timur secara khusus adalah peran tuan guru yang begitu banyak.

Diungkapkan Bupati, masih kuatnya kondisi keislaman masyarakat Lombok tak lepas dari peranan para tokoh agama yang secara terus menerus memberikan arahan dan bimbingan kepada masyarakat agar senantiasa berpegang teguh pada tali ajaran agama Islam. Meski hantaman peradaban modern yang menjurus pada kebebasan moral yang terus berupaya menyeret ummat untuk jauh dari tata aturan yang sudah ditetapkan syari’at Islam, keteguhan hati ummat Islam di Lombok masih mampu membentengi diri dari semua godaan duniawi tersebut.

Nikmat terbesar bagi ummat Islam di Lombok, lanjut Ali, adalah kuatnya keislaman yang dimiliki masing-masing individu. Sehingga, sesulit apapun kondisi kehidupan yang dijalaninya, tak ada yang mau menggadaikan keislamannya dengan beralih kepercayaan. Semua itu tetap terjaga dengan kokoh disebabkan peranan para tuan guru yang begitu banyak di Lombok, yang tiada putusnya memberikan pencerahan bagi masyarakat melalui berbagai media dakwah.

Tak dapat dimungkiri, jumlah tuan guru yang besar di Lombok merupakan kekuatan besar ummat. Dari mereka, ada yang berdakwah melalui majelis taklim yang berada di masjid-masjid dan mushalla yang jumlahnya ribuan. Khusus untuk Lombok Timur sendiri, jumlah masjidnya mencapai 1.700 lebih dan mushalla yang jumlahnya berkali-kali lipat dari jumlah masjid.

“Nikmat besar ini harus disyukuri ummat Islam di Lombok yang hingga saat ini masih memiliki peradaban yang mengakar kuat dengan nilai-nilai keislaman,” tandasnya. KRISMA AG

Leave A Reply