Menu

Mode Gelap

Politik · 15 Jun 2017 03:35 WITA ·

Ali BD Reuni dan Nostalgia Bersama Seniman


					Ali BD memberikan orasi Perbesar

Ali BD memberikan orasi

MATARAM,DS-Ali BD bukan orang baru di kalangan seniman. Tahun 90-an ia merogoh dana yang sangat besar guna terbangunnya sebuah gagasan brilian dari Lombok, yakni Mataram Award. Ini adalah sebuah penghargaan di bidang kebudayaan bagi seniman dan budayawan yang dianggap berjasa di Tanah Air.

Karena itulah, ketika hadir di tengah-tengah komunitas seniman dan budayawan pada “Tadarus Sastra” Senin (12/6) di Taman Budaya NTB, Ali tidak asing lagi. Berbagai suguhan diberikan seperti musikalisasi puisi, keroncong hingga baca puisi. Ali sendiri didaulat memberikan orasi kebudayaan.

Pada tahun 1994, lewat Yayasan Esa, Ali menggelontorkan dana puluhan juta rupiah. Penghargaan pertama diberikan kepada Emha Ainun Nadjib, kemudian tahun berikutnya kepada Sapardi Joko Damono. Tidak ketinggalan seniman dari daerah pun mendapat bagian penghargaan itu. Padahal, kala itu begitu sulit mencari pendanaan dari pemerintah daerah untuk program seperti ini.

Tidak mengherankan, kegiatan-kegiatan berbau seni dan budaya senatiasa menerima suport darinya. “Itulah sebabnya pertemuan semacam ini saya anggap sebagai reuni,” katanya.

Dalam orasinya Ali banyak mensitir desertasinya tentang suku Badui yang sempat ditelitinya dalam menyelesaikan program doktoral. Dalam pandangan Ali, banyak pendekatan keliru yang diterapkan pemerintah terkait suku yang dinilai terasing ini.

“Orang Badui itu banyak yang tidak sekolah, tetapi dia bisa membaca,” katanya seraya menyebut ada empat kelompok Badui bukan dua sebagaimana dilansir pemerintah yang membagi dalam Badui Dalam dan Badui Luar.

Pemerintah melakukan pendekatan kepada suku Badui, diantaranya dengan membangunkan masjid. Namun oleh orang Badui, masjid itu justru tidak digunakan, melainkan justru ruangannya menjadi lorong dimana mereka melintas.

Mengamati fenomena itu, nampak ada pendekatan yang kurang tepat dilakukan pemerintah. Hal itu tidak hanya terkait dengan Badui, melainkan bisa juga dengan suku bangsa lain di Indonesia.

NTB dengan banyak suku bangsa di dalamnya merupakan salah satu daerah yang merekam berbagai nilai-nilai di dalamnya. Nilai-nilai itu meliputi etika, moral, agama. Hal itu semua tertuang dalam Pancasila.

“Jadi Pancasila itu adalah kumpulan dari nilai-nilai yang ada di Indonesia. Soekarno sendiri mengakui bahwa Pancasila itu bukan ciptaannya,” cetus Ali.

Ketika kini banyak yang terkejut Pancasila seperti tergerus, Ali mengatakan, “Tidak seperti itu, ya!” ian

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Soal Pelayanan Mudik 2022, Puan Maharani Apresiasi Kerja Pemerintah dan TNI-Polri

17 Mei 2022 - 17:11 WITA

Isu Caleg Impor, Mik Sudi : Masyarakat Sudah Cerdas Pilih Wakil Terbukti Kerjanya

17 Mei 2022 - 07:03 WITA

Puan: Waisak Momentum Refleksikan Pentingnya Saling Membantu dan Menjaga Kerukunan

16 Mei 2022 - 17:47 WITA

Penuhi Kriteria Pemimpin, Masinton : Mbak Puan Ditempa Sejarah dan Waktu Sejak Remaja

16 Mei 2022 - 17:44 WITA

PDIP NTB ubah mindset Memakmurkan Masjid dengan Menanam Pohon Buah Produktif

12 Mei 2022 - 16:14 WITA

Masuk Lima Gubernur Berpotensi Maju Pilpres 2024, Miliki Kendaraan PKS, Pangi : Peluang Zulkiefimansyah Terbuka Lebar

10 Mei 2022 - 16:55 WITA

Trending di Politik