Berbagi Berita Merangkai Cerita

Aksi Nyentrik Pedagang Cilok Lombok Pakai Jas dan Dasi dapat Atensi Pimpinan Dewan

634

FOTO. Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafi M. Comm (kanan) saat mengunjungi Lutfi Ramli (34), pedagang bakso cilok yang viral di Medsos. (FOTO. RUL/DS).

MATARAM, DS – Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafi M. Comm mengunjungi Lutfi Ramli (34), pedagang bakso cilok asal Lingkungan Karang Kateng, Kelurahan Punia, Kota Mataram, yang menjadi perbincangan di jagat dunia maya.

Politisi Gerindra itu menemui Lutfi saat berjualan di Jalan Pelikan, Kota Mataram, Kamis (29/7).

Mori mengaku penasaran atas kiprah penjual cilok yang sangat nyentrik berjualan mengenakan jas hitam, dasi, celana, dan sepatu ala pejabat, sehingga membuatnya viral di media sosial (Medsos).

“Saya penasaran makanya saya cari informasi dimana Lutfi berjulan dan akhirnya saya ketemu di Jalan Pelikan. Jujur saya kaget dan kagum atas aksi nyentriknya berjualan mengenakan jas hitam dan baju yang rapi itu,” kata Mori pada wartawan, kemarin.

Ia mengapresiasi kreatifitas Lutfi Ramli yang memanfaatkan situasi pandemi Covid-19 yang berjualan dengan cara-cara kreatif.

“Tadi, saya berbincang banyak dengan Pak Lutfi, disitu dia curhat jika motornya masih kredit. Serta, sempat dijanjikan motor listrik untuk berjualan tapi enggak kesampaian. Makanya, insyaallah akan kita suarakan kedepannya,” ujar Mori seraya memberikan ala kadar rezekinya pada Lutfi.

Sementara itu, Lutfi mengaku tak menyangka jika caranya berjualan menggunakan jas dengan nama Cilok Pejabat menjadi perhatian publik. Bahkan, ia kaget, dikunjungi oleh salah satu pejabat teras di NTB yakni Wakil Ketua DPRD NTB Mori Hanafi.

Lutfi benar-benar tidak menyangka hal itu dengan cepat menyebar dan mendapat sorotan warganet. Kin, banyak orang menghubungi dia dan mengajak berteman di media sosial.

Lutfi Ramli yang ditemui di rumahnya mengakui, hal itu dilakukan bukan semata-mata karena ingin viral.

Cara itu dilakukannya agar bisa bertahan di tengah sulitnya situasi akibat pandemi Covid-19.

”Awalnya sih karena kondisi pandemi ini, apalagi dengan PPKM Darurat, pedagang kecil seperti saya kesulitan sekali mendapatkan pelanggan,” kata Lutifi.

Selama pandemi Covid-19 omzetnya dagangannya turun drastis. Sebab, semua aktivitas masyarakat dibatasi, pembeli cilok ikut berkurang.

Ditambah situasi ekonomi yang tidak menentu membuat banyak pelanggan hilang.

Di saat itulah, dia mulai berpikir bagaimana caranya agar usaha ciloknya kembali bergairah

Ditambah situasi ekonomi yang tidak menentu membuat banyak pelanggan hilang. Di saat itulah, dia mulai berpikir bagaimana caranya agar usaha ciloknya kembali bergairah.

Sebab, usaha cilok yang ditekuni sejak tahun 2014 itu menjadi mata pencaharian utama. Dia bisa membangun rumah pun hasil jualan cilok.

Meski pernah bekerja di Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPBD) NTB, penghasilan jualan cilok masih lebih bagus.

Karena itu, di saat situasi sulit karena pandemi, dia harus mempertahankan usaha cilok tersebut agar tidak mati.

Sebagai anak bungsu dari enam bersaudara, Lutif pun banyak mendapat masukan dari kakak-kakaknya.

Keluarga mendorongnya membuat terobosan baru supaya cilok dagangannya tetap laris.

”Akhirnya terpikir untuk (jualan) menggunakan jas, sepatu, kemudian pakai dasi,” katanya.

Ide itu juga terinspirasi beberapa pedagang bakso di luar daerah yang menggunakan jas saat berjualan. Lutfi tertarik untuk mencobanya.

Di samping itu, dia membuat branding ciloknya dengan sebutan “Cilok Pejabat, Dari Rakyat untuk Rakyat”.

Itu karena dia sehari-hari bekerja sebagai kepala Lingkungan Karang Kateng. Untuk mewujudkan ide itu, Lutfi dibantu kakaknya Nurul Hikmah yang kebetulan mengelola Salon Geneh.

Sebelum jualan keliling dia didandani di salon milik sang kakak. Di mana, saat pertama kali keluar jualan menggunakan jas dia menjadi bahan tertawaan karena terlihat aneh.

Bahkan, Habibah, kakaknya paling besar mengaku malu melihat adiknya berjualan memakai jas.

Tapi Lutfi tetap melakukannya, meski kadang terasa cukup gerah mengenakan jas dan dasi selama berjam-jam di pinggir jalan.

Usahanya tidak sia-sia. Setelah hampir semingggu berjualan menggunakan jas dan dasi, hasilnya mulai tampak.

Dia mendapat sorotan banyak orang.

Saat berjualan di pinggir jalan banyak yang merekam karena dianggap unik.

Sampai akhirnya salah satu video yang direkam warga Punia tersebar luas dan menjadi viral di media sosial.

”Dengan dukungan keluarga dan kawan-kawan akhirnya cilok pejabat dari rakyat untuk rakyat ini viral (terkenal),” katanya.

Tidak hanya itu, yang paling penting baginya ciloknya kembali laris. Bahkan lebih laris dari biasanya. Pembeli semakin banyak.

Respons masyarakat pun sangat bagus. Mereka menilai hal itu sangat positif.

”Dari hasil juga lumayan banyak, pelanggan tadinya sedikit jadi banyak karena mereka penasaran dengan pakaian yang saya gunakan,” katanya.

Sebelum menggunakan jas, jumlah cilok yang laku terjual biasanya hanya 50 cup atau setara 2 kg dalam sehari. Omzet itu menurun dratis selama pandemi, terutama sejak PPKM Darurat diberlakukan.

Tapi sejak menggunakan pakaian jas dan dasi, ciloknya laku keras. Sekarang sehari bisa menghabiskan 3 kg bahan cilok, daging dan tepung.

Selain mengubah penampilan, Lutfi Ramli tidak pernah lupa memperhatikan kualitas cilok dagangannya.

Dia benar-benar menjamin kualitas ciloknya bagus, enak, dan higienis. ”Rasa dan kebersihannya harus kita jaga,” katanya.

Pada rombong ciloknya dia pun menulis cilok tersebut diolah dengan sayur dan daging pilihan, serta saos delmonte. Karena menggunakan campuran sayur, warna ciloknya pun hijau. Tidak seperti cilok biasanya.

”Dari segi rasa pelanggan tidak kecewa, bahkan pelanggan tidak pernah membeli Rp 5 ribu, ada yang Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu,” katanya.

Pernah satu kali pembeli memborong dagangannya, dia membeli Rp 150 ribu atau 15 cup. ”Jadi pembeli benar-benar merasakan (enaknya) cilok ini,” katanya.

Lutfi biasa jualan di kawasan Jalan Airlangga, Kota Mataram, mulai pukul 17.30 Wita sampai pukul 21.00 Wita.

Setelah keliling dia biasanya mangkal di depan toko Alfamart Airlangga menunggu pembeli. RUL.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.